Serang – Fusilatnews – Menanggapi meletusnya Gunung Anak Krakatu yang melontarkan material abu vulkanik dengan ketinggian 3.000 meter Rabu 4/1 sore. Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar meminta masyarakat untuk tetap tenang meski aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali meningkat beberapa hari ini..
“Tentu masyarakat harus tetap tenang, jangan panik, beraktivitas seperti biasa. Masyarakat sudah punya intuisi sendiri atas penyikapan keadaan ini, dan kita juga cukup baik sikap masyarakat atas berbagai hal yang akan terjadi terkait kebencanaan,” kata Al Muktabar kepada reporter di Pendopo Gubernur Banten, Jumat 6/1/2
Pj Gubernur Banten menginstruksikan kepada Kepala Pelaksana BPBD Banten untuk terus melaksanakan mitigasi melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar saat terjadi bencana sudah mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan.
Pemerintah telah membuat jalur-jalur evakuasi dan bangunan shelter sebagai fasilitas umum yang apabila terjadi bencana tsunami atau bencana yang lain digunakan untuk evakuasi pengungsi.
“Kita mengimbau kepada masyarakat tetap waspada, kemudian prosedur prosedur keselamatan dalam rangka menghadapi berbagai bencana pada dasarnya sudah disampaikan,” kata Al Muktabar.
Selanjutnya Pj Gubernur Banten menambahkan dalam penjelasannya “Kita akan terus menggiatkan dengan BPBD secara intens mengingatkan kembali, mensosialisasikan, dan ada hal yang perlu dipersiapkan sebaik mungkin,termasuk dana BTT (biaya tidak terduga) yang telah disiapkan, mudah mudahan tidak digunakan. Tapi kita harus siap siaga dan waspada,”
Gunung Anak Krakatau atau juga disebut Pulau Anak Krakatau adalah pulau vulkanik kecil, anggota dari kepulauan Krakatau, yang berposisi di antara Pulau Sertung (Bld.: Verlaten Eiland) di sisi baratnya dan Pulau Rakata Kecil atau Pulau Panjang (Bld.: Lang Eiland) di sisi timurnya yang secara administratif berlokasi di Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Lampung Selatan[1].
Tampilan pulau ini didominasi oleh gunung api yang masih selalu aktif, Gunung Anak Krakatau. Hampir setiap waktu, hanya dengan jeda beberapa bulan, gunung ini selalu meletus kecil dengan tipe “Stromboli”, berupa letusan eksplosif yang memancarkan material baru ke udara, untuk membangun tubuhnya.
Aktivitas yang menunjukkan kemunculan pulau ini dimulai pada tahun 1927, di titik yang dulunya adalah laut dengan kedalaman 27 m dan sebelumnya pernah menjadi bagian daratan Pulau Rakata. Sejak 1930 pulau ini tidak lagi tergerus air laut dan dengan demikian menjadi pulau termuda di Indonesia yang terbentuk melalui aktivitas vulkanik.

























