• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Hari Kebangkrutan Nasional

fusilat by fusilat
May 20, 2024
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media

Jakarta – Hari ini 116 tahun lalu berdirilah Boedi Oetomo (Budi Utomo). Organisasi kepemudaan pertama yang bersifat nasional di Hindia Belanda, kini Indonesia, ini didirikan oleh tiga serangkai yang merupakan mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), yakni dr Soetomo, dr Wahidin Soedirohoesodo dan dr Goenawan Mangoenkoesoemo.

Kelahiran organisasi yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik ini kemudian diperingati setiap tanggal 20 Mei dengan nama Hari Kebangkitan Nasional.

Sayangnya, 116 tahun kemudian, kata “kebangkitan” seolah menjelma menjadi “kebangkrutan”. Akibatnya, kita seolah sedang memperingati Hari Kebangkrutan Nasional, bukan Hari Kebangkitan Nasional. Betapa tidak?

Jika dilihat dari jumlah utang luar negerinya, Indonesia sudah patut menyandang status sebagai negara bangkrut. Tercatat, jumlah utang luar negeri Indonesia per 29 Februari 2024 mencapai Rp8.319,22 triliun. Jumlah ini naik Rp66,13 triliun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang senilai Rp8.253,09 triliun.

Dengan jumlah utang tersebut, maka secara agregat saat ini setiap warga negara Indonesia, termasuk bayi yang baru lahir menanggung beban utang pemerintah sebesar Rp30,5 juta. Akibatnya, bangsa ini bukannya bangkit tapi malah bangkrut.

Bandingkan besaran utang dengan Pendapatan Negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2024 yang diestimasi sebesar Rp2.802,3 triliun, dengan sumber terbesar dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2.309,9 triliun, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp492 triliun.

Bandingkan pula besaran utang dengan
Belanja Negara dalam APBN Tahun 2024 yang direncanakan sebesar Rp3.325,1 triliun, dengan alokasi terbesar untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.467,5 triliun, dan Transfer ke Daerah sebesar Rp857,6 triliun.

Rakyat Bangkrut

Rakyat juga bangkrut. Banyak rakyat yang tidak bisa kuliah karena biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) kian tak terjangkau. Apalagi setelah PTN-PTN berlomba-lomba menaikkan biaya Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang besarannya ada yang mencapai 300 persen.

Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan UU No 20 Tahun 2003 memang telah mengamanatkan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan itu sudah dipenuhi, di mana anggaran pendidikan nasional tahun 2024 ini mencapai Rp665 triliun. Tapi ternyata tidak cukup, karena anggaran sebesar itu sudah termasuk gaji guru dan dosen.

Sementara anggaran subsidi PTN “hanya” Rp90 triliun. Akibatnya, biaya pendidikan di PTN harus ikut ditanggung mahasiswa. Akibat lanjutannya, banyak mahasiswa yang terjerat pinjaman online (pinjol). Termasuk mahasiswa di PTN-PTN ternama.

Ironisnya, di tengah ketidakcukupan anggaran pendidikan, ternyata presiden terpilih Pemilu 2024 Prabowo Subianto, sesuai janji kampanyenya, hendak mengaggarkan program makan siang gratis yang besarannya mencapai Rp450 triliun per tahun. Mengapa anggaran makan siang gratis ini tidak dialihkan saja untuk anggaran pendidikan gratis?

Kemiskinan, Pengangguran dan Korupsi

Jika dilihat dari angka kemiskinan, pengangguran dan korupsi, Indonesia juga patut disebut sebagai negara bangkrut. Data Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2023 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,9 juta orang atau 9,36% dari total jumlah penduduk.

Berdasarkan data BPS pula, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai hampir 7,2 juta orang per Februari 2024.

Dikutip dari sebuah sumber, Indonesia masuk jajaran lima besar negara terkorup di ASEAN pada 2023. Laporan Transparency International (TI) menyebut, skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia sebesar 34 poin dari skala 0-100 poin pada 2023. Skor ini stagnan sejak 2022.

Adapun rata-rata skor IPK global 43 poin pada 2023. Ini berarti skor Indonesia lebih buruk dari standar global. Di kelompok ASEAN, capaian buruk ini membuat Indonesia menjadi negara terkorup kelima.

Terdapat hubungan langsung dan tak langsung antara korupsi dan kemiskinan. Dalam kasus inefisiensi pengumpulan pajak, hubungan korupsi dan kemiskinan terjadi secara langsung.

Secara tidak langsung, korupsi telah menggerogoti daya saing perekonomian kita. Bank Dunia mencatat, untuk menembus birokrasi di Indonesia diperlukan biaya lebih dari 20 persen dari total penjualan. Hanya bisnis yang tingkat keuntungannya melebihi angka itulah yang berani masuk ke Indonesia.

Selain sumber daya manusia, sumber daya alam Indonesia juga sangat berlimpah. Jika sumber daya alam itu dikelola dengan baik dan tanpa korupsi, serta para pejabatnya tidak gemar berburu rente, niscaya bangsa ini akan makmur dan sejahtera. Fasilitas kesehatan bisa gratis. Fasilitas pendidikan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi juga bisa gratis.

Akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak becus dan kegemaran pejabat berburu rente, maka beras dan gula pun harus impor. Padahal Indonesia adalah negara agraris. “Gemah ripah loh jinawi”.

Bahkan garam pun harus impor. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan dan maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Kalau pengelolaan sumber daya alam masih amburadul, dan para pejabatnya pun masih gemar korupsi serta berburu rente, jangan harap Indonesia bisa bangkit sesuai pesan moral Hari Kebangkitan Nasional yang hari ini kita peringati. Yang ada justru bangkrut. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Pegiat Media

Jakarta – Hari ini 116 tahun lalu berdirilah Boedi Oetomo (Budi Utomo). Organisasi kepemudaan pertama yang bersifat nasional di Hindia Belanda, kini Indonesia, ini didirikan oleh tiga serangkai yang merupakan mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), yakni dr Soetomo, dr Wahidin Soedirohoesodo dan dr Goenawan Mangoenkoesoemo.

Kelahiran organisasi yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik ini kemudian diperingati setiap tanggal 20 Mei dengan nama Hari Kebangkitan Nasional.

Sayangnya, 116 tahun kemudian, kata “kebangkitan” seolah menjelma menjadi “kebangkrutan”. Akibatnya, kita seolah sedang memperingati Hari Kebangkrutan Nasional, bukan Hari Kebangkitan Nasional. Betapa tidak?

Jika dilihat dari jumlah utang luar negerinya, Indonesia sudah patut menyandang status sebagai negara bangkrut. Tercatat, jumlah utang luar negeri Indonesia per 29 Februari 2024 mencapai Rp8.319,22 triliun. Jumlah ini naik Rp66,13 triliun dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang senilai Rp8.253,09 triliun.

Dengan jumlah utang tersebut, maka secara agregat saat ini setiap warga negara Indonesia, termasuk bayi yang baru lahir menanggung beban utang pemerintah sebesar Rp30,5 juta. Akibatnya, bangsa ini bukannya bangkit tapi malah bangkrut.

Bandingkan besaran utang dengan Pendapatan Negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2024 yang diestimasi sebesar Rp2.802,3 triliun, dengan sumber terbesar dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2.309,9 triliun, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp492 triliun.

Bandingkan pula besaran utang dengan
Belanja Negara dalam APBN Tahun 2024 yang direncanakan sebesar Rp3.325,1 triliun, dengan alokasi terbesar untuk Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.467,5 triliun, dan Transfer ke Daerah sebesar Rp857,6 triliun.

Rakyat Bangkrut

Rakyat juga bangkrut. Banyak rakyat yang tidak bisa kuliah karena biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) kian tak terjangkau. Apalagi setelah PTN-PTN berlomba-lomba menaikkan biaya Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang besarannya ada yang mencapai 300 persen.

Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan UU No 20 Tahun 2003 memang telah mengamanatkan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan itu sudah dipenuhi, di mana anggaran pendidikan nasional tahun 2024 ini mencapai Rp665 triliun. Tapi ternyata tidak cukup, karena anggaran sebesar itu sudah termasuk gaji guru dan dosen.

Sementara anggaran subsidi PTN “hanya” Rp90 triliun. Akibatnya, biaya pendidikan di PTN harus ikut ditanggung mahasiswa. Akibat lanjutannya, banyak mahasiswa yang terjerat pinjaman online (pinjol). Termasuk mahasiswa di PTN-PTN ternama.

Ironisnya, di tengah ketidakcukupan anggaran pendidikan, ternyata presiden terpilih Pemilu 2024 Prabowo Subianto, sesuai janji kampanyenya, hendak mengaggarkan program makan siang gratis yang besarannya mencapai Rp450 triliun per tahun. Mengapa anggaran makan siang gratis ini tidak dialihkan saja untuk anggaran pendidikan gratis?

Kemiskinan, Pengangguran dan Korupsi

Jika dilihat dari angka kemiskinan, pengangguran dan korupsi, Indonesia juga patut disebut sebagai negara bangkrut. Data Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2023 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,9 juta orang atau 9,36% dari total jumlah penduduk.

Berdasarkan data BPS pula, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai hampir 7,2 juta orang per Februari 2024.

Dikutip dari sebuah sumber, Indonesia masuk jajaran lima besar negara terkorup di ASEAN pada 2023. Laporan Transparency International (TI) menyebut, skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia sebesar 34 poin dari skala 0-100 poin pada 2023. Skor ini stagnan sejak 2022.

Adapun rata-rata skor IPK global 43 poin pada 2023. Ini berarti skor Indonesia lebih buruk dari standar global. Di kelompok ASEAN, capaian buruk ini membuat Indonesia menjadi negara terkorup kelima.

Terdapat hubungan langsung dan tak langsung antara korupsi dan kemiskinan. Dalam kasus inefisiensi pengumpulan pajak, hubungan korupsi dan kemiskinan terjadi secara langsung.

Secara tidak langsung, korupsi telah menggerogoti daya saing perekonomian kita. Bank Dunia mencatat, untuk menembus birokrasi di Indonesia diperlukan biaya lebih dari 20 persen dari total penjualan. Hanya bisnis yang tingkat keuntungannya melebihi angka itulah yang berani masuk ke Indonesia.

Selain sumber daya manusia, sumber daya alam Indonesia juga sangat berlimpah. Jika sumber daya alam itu dikelola dengan baik dan tanpa korupsi, serta para pejabatnya tidak gemar berburu rente, niscaya bangsa ini akan makmur dan sejahtera. Fasilitas kesehatan bisa gratis. Fasilitas pendidikan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi juga bisa gratis.

Akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak becus dan kegemaran pejabat berburu rente, maka beras dan gula pun harus impor. Padahal Indonesia adalah negara agraris. “Gemah ripah loh jinawi”.

Bahkan garam pun harus impor. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan dan maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

Kalau pengelolaan sumber daya alam masih amburadul, dan para pejabatnya pun masih gemar korupsi serta berburu rente, jangan harap Indonesia bisa bangkit sesuai pesan moral Hari Kebangkitan Nasional yang hari ini kita peringati. Yang ada justru bangkrut. Mudah-mudahan ini tidak terjadi.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Fakta – fakta Terbaru Terkait Jatuhnya Helikopter Presiden Iran. Presiden Iran Hampir Pasti Tewas

Next Post

Anies Komentari Meroketnya UKT di Kampus Negeri

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Capres Anies Sindir Misi Prabowo Cegah “Stunting”, Kasih Makan Siang Ibu Hamil, Bukan Anak yang Sudah Besar

Anies Komentari Meroketnya UKT di Kampus Negeri

Presiden Iran Raesi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian Tewas Dalam kecelakaan Helikopter

Presiden Iran Raesi dan Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian Tewas Dalam kecelakaan Helikopter

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...