Oleh: Malika Dwi Ana
Ucapan-ucapan kasar dan defensif Presiden Prabowo Subianto akhir-akhir ini, termasuk pernyataannya yang menyindir “matanya buram, kabur saja ke Yaman”, bukan sekadar luapan emosi sesaat. Banyak pengamat melihatnya sebagai ledakan subliminal mind yang selama puluhan tahun ditekan, dan akhirnya meledak begitu kekuasaan berada di tangannya.
Selama hampir 20 tahun, Prabowo menahan obsesi terbesarnya: menduduki kursi Presiden Republik Indonesia. Dua kali ia harus menelan kekalahan telak pada Pilpres 2014 dan 2019. Pil pahit itu memaksanya menahan amarah, sedih, kecewa, dendam, serta ego yang luar biasa besar. Selama periode itu, conscious mind-nya — pikiran sadar yang rasional, bijaksana, dan kenegarawanan — bekerja keras menutupi segalanya. Ia tampil dengan image “gemoy”, nasionalis, dan berjiwa besar. Namun, di balik layar, sesuatu terus mendidih dalam darahnya.
Kini, setelah berhasil menduduki kursi RI-1, seolah consciousness-nya lelah dan menyerah. Yang muncul ke permukaan adalah subliminal mind yang selama ini terpendam rapat: sikap arogan, tidak toleran terhadap kritik, mudah tersinggung, dan cenderung mengusir pihak yang berbeda pendapat.
Ingat wawancara legendaris Prabowo dengan Najwa Shihab beberapa tahun silam. Dengan jujur ia mengakui bahwa bisnisnya terhambat karena tidak berada di pusat kekuasaan. Pernyataan itu membuka tabir: bagi Prabowo, kekuasaan bukan semata amanah untuk rakyat, melainkan alat strategis untuk membuka semua pintu bisnis, membersihkan segala hambatan, dan menebus “kerugian” selama bertahun-tahun berada di luar lingkaran kekuasaan.
Maka tak mengherankan, ketika muncul kritik terhadap pemerintahannya, respons yang muncul bukanlah mendengar aspirasi atau memperbaiki kebijakan, melainkan menyerang dan mengusir. “Nggak suka? Kabur saja ke Yaman!” Ini jelas bukan ucapan seorang negarawan yang bijak, melainkan luapan emosi seseorang yang akhirnya bisa melampiaskan segala yang lama ditahannya. Subliminal mind yang dipenjara puluhan tahun kini bebas. Conscious mind-nya tenggelam, tertelan obsesi lama yang tak lagi perlu disembunyikan.
Analoginya mirip dengan seseorang yang bertahun-tahun menjalani “puasa kekuasaan”. Selama itu ia menahan diri, tapi begitu kesempatan datang dan kendali lepas, ia seperti kuda liar yang lepas kendali — ingin menuntaskan segalanya tanpa batas. Prabowo yang selama ini “berpuasa”. Kini ia “makan” sepuasnya, dan masyarakat pun terkaget-kaget melihat perubahan perilakunya .,yang begitu drastis, jauh berbeda dari sosok yang ditampilkan satu-dua dekade lalu.
Yang paling berbahaya adalah ketika subliminal mind seorang pemimpin tertinggi mengambil alih kendali negara. Akal sehat dan empati publik menjadi korban pertama. Kritik dianggap sekadar “membuat gaduh”. Penentang dicap “matanya buram”. Mereka yang tidak setuju disuruh pindah ke negara yang sedang porak-poranda. Semua itu mencerminkan sikap seseorang yang telah lama menahan diri dan kini merasa berhak melakukan apa saja karena “akhirnya tiba giliran saya”.
Bukan Prabowo yang berubah. Ia hanya tidak perlu lagi berpura-pura. Conscious mind yang dulu digunakan untuk kepentingan kampanye sudah tidak diperlukan. Yang tersisa adalah subliminal mind seorang pria yang selama puluhan tahun merasa dirampas haknya atas kekuasaan. Dan kini, dengan segala konsekuensinya, rakyat yang harus menanggung dampak dari ledakan itu.
Ironisnya, orang yang dulu pernah mengasingkan diri ke Amman, Yordania, saat menghadapi tekanan politik pasca-Reformasi 1998, kini dengan pongahnya menyuruh rakyatnya “kabur” ke Yaman. Subliminal mind memang tidak pernah berbohong. Ia hanya menunggu momen yang tepat untuk keluar.(*)
Oleh: Malika Dwi Ana


















