• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Hipnotis Beras: Ketergantungan yang Membutakan Kedaulatan Pangan

fusilat by fusilat
January 8, 2026
in Feature
0
Harga Beras Global Mencapai Level Tertinggi Dalam 15 tahun setelah India Membatasi: FAO
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Istilah “hipnotis beras” dalam tulisan ini merujuk pada sebuah fenomena sosial yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia: ketergantungan nyaris mutlak pada nasi sebagai makanan pokok. Dalam kesadaran kolektif, nasi tidak sekadar diposisikan sebagai sumber karbohidrat, melainkan telah menjelma menjadi simbol “makan yang sesungguhnya”. Tanpa nasi, seolah belum makan.

Inilah yang disebut sebagai hipnotis. Bukan hipnotis dalam pengertian teknik psikologis, melainkan metafora atas kondisi ketika masyarakat “terprogram” untuk meyakini bahwa nasi adalah satu-satunya pangan pokok yang lezat, mengenyangkan, dan bermartabat. Akibatnya, sumber karbohidrat lain—seperti singkong, ubi jalar, jagung, atau sagu—sering dipandang sebagai pangan kelas dua, pangan darurat, bahkan identik dengan kemiskinan.

Hipnotis ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia terbentuk dari kombinasi berbagai faktor yang saling menguatkan.

Pertama, ketersediaan beras yang meluas. Beras menjadi komoditas pangan paling dominan, baik dari sisi produksi maupun konsumsi, sehingga secara alamiah menjadi pilihan utama masyarakat.

Kedua, kebijakan pemerintah yang selama puluhan tahun sangat berorientasi pada beras. Mulai dari subsidi, stabilisasi harga, hingga distribusi, semuanya menempatkan beras sebagai pusat kebijakan pangan nasional.

Ketiga, budaya dan tradisi. Nasi telah menyatu dalam ritual sosial, bahasa, dan kebiasaan sehari-hari. Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” adalah bukti betapa kuatnya konstruksi budaya tersebut.

Keempat, ketersediaan infrastruktur. Sistem distribusi dan penyimpanan beras telah berkembang jauh lebih mapan dibandingkan pangan lokal lainnya, membuat beras mudah dijangkau hingga pelosok negeri.

Kelima, peningkatan produktivitas padi. Teknologi pertanian modern telah mendorong lonjakan produksi padi, sehingga pasokan beras relatif terjaga dan harganya lebih terjangkau dibandingkan alternatif pangan lainnya.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat beras seolah menjadi pangan yang tak tergantikan. Ketergantungan ini, jika terus dibiarkan, berpotensi melemahkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, terutama di tengah ancaman krisis iklim dan ketidakpastian global.

Dalam menghadapi fenomena hipnotis beras, sikap pemerintah harus bijak, strategis, dan berani keluar dari pola lama. Beberapa langkah penting yang perlu terus diperkuat antara lain:

Pertama, edukasi dan promosi tentang pentingnya diversifikasi pangan, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal sebagai sumber gizi yang setara dan bermartabat.

Kedua, dukungan nyata terhadap produksi pangan lokal, melalui bantuan teknis, akses pembiayaan, serta perlindungan harga bagi petani singkong, jagung, ubi jalar, dan sagu.

Ketiga, pengembangan infrastruktur distribusi dan penyimpanan pangan lokal agar akses masyarakat tidak lagi tersentral pada beras semata.

Keempat, kebijakan pangan yang seimbang, tidak bias beras, dan memberi ruang yang adil bagi seluruh sumber karbohidrat nasional.

Kelima, insentif bagi petani pangan non-beras agar produksi meningkat dan daya saing terjaga.

Keenam, kerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan industri pangan lokal yang inovatif, bernilai tambah tinggi, dan diterima pasar modern.

Ketujuh, monitoring dan evaluasi berkelanjutan, agar setiap kebijakan diversifikasi pangan tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar berdampak pada perubahan pola konsumsi masyarakat.

Pemerintah sendiri telah menetapkan target untuk menurunkan konsumsi beras menjadi 85 kilogram per kapita per tahun pada 2025, sekaligus meningkatkan produksi dan konsumsi pangan lokal. Target ini patut diapresiasi, namun keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan keberanian keluar dari zona nyaman beras.

Membebaskan bangsa ini dari hipnotis beras bukan berarti menyingkirkan beras dari meja makan, melainkan mengembalikan akal sehat pangan: bahwa negeri yang kaya sumber karbohidrat seharusnya tidak menggantungkan hidup pada satu komoditas semata.

(Penulis, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

TNI Atasi Aksi Terorisme Ancam HAM, Demokrasi, dan Negara Hukum

Next Post

Menggugat “Kosmetik” Syariah: Belajar dari Skandal Dana Syariah Indonesia

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Next Post
Menggugat “Kosmetik” Syariah: Belajar dari Skandal Dana Syariah Indonesia

Menggugat “Kosmetik” Syariah: Belajar dari Skandal Dana Syariah Indonesia

Aspirasi Indonesia Soroti Dugaan Perubahan Istilah NKRI Jadi NRI dalam Kurikulum SLTA

Aspirasi Indonesia Soroti Dugaan Perubahan Istilah NKRI Jadi NRI dalam Kurikulum SLTA

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist