Damai Hari Lubis – Pemerihati Hukum/Politik-Mujahid 212
Prabowo dan Gerindra tidak boleh memiliki rasa kesal kepada Megawati atau kepada PDIP. Partai itu bukan anggota Koalisi Besar atau Koalisi “Partai Gemuk” dibawah radar arahan Jokowi. Mereka itu terdiri dari Partai Gerindra, Golkar, PKB, PAN dan PPP. Lalu publikasi di berbagai media sosial akan “mengusung Prabowo sebagai Calon Presiden Pemilu-Pilpres pada 2024. Tentunya selain alasan yang mendasar, karena perolehan presidential threshold/PT, yang dimiliki PDIP melebihi perolehan daripada Partai Gerindra, karena jumlah PT PDIP hampir 20 %.
Jika pun Prabowo dan Gerindra, memiliki rasa kesal atau marah sekalipun, maka marahnya pas, jika Ia tumpahkan kepada sosok Jokowi, atau self wrong (salahkan diri sendiri-Ibda binafsihi). Semua hal yang terjadi tidak terlepas, akibat, dari over trust atau kepercayaan yang berlebihan Prabowo kepada diri Jokowi.
Terbukti, begitu banyak sanjungan Prabowo kepada Jokowi, sampai-sampai Ia berani angkat sumpah melalui statemen-nya bahwa ; “Jokowi is on the right track”. Prabowo juga menyatakan, “dirinya akan meniru Gaya Kepemipinan Jokowi”, serta beberapa sanjungan lainnya.
Bahkan perilaku Jokowi, setelah selesai “penobatan oleh Megawati yang dihadiri Jokowi di Istana Batu Tulis, Bogor, 21 April 2023. Jokowi malah terang-terangan bersama Ganjar berangkat ke Solo dengan menggunakan pesawat kepresidenan Hal ini dimata publik, “bagai meledek Prabowo”, inherent meledek Para Ketua umum semua partai koalisi gemuk yang mendukung Prabowo sebagai Capres 2024-2029.
Namun apakah hal yang dilakukan oleh Jokowi sebagai bentuk salah satu “karma” terhadap Prabowo?, Barisan Kelompok 212 dan Kelompok Emak-Emak yang mendukung dirinya pada saat pilpres 2019 sebagain besar merasa sakit hati. Prabowo dianggap telah “mengkhianati ” perjuangan mereka. Prabowo yang pada pemilu pilpres 2019 adalah seteru (lawan) Jokowi. Namun tanpa ba-bi-bu justru menjadi pembantu Jokowi di dalam Kabinet Indonesia Maju. Luar biasa Jokowi. Benar pendapat publik yang menyatakan Jokowi dualisme walau pada kenyataannya dia akan nunut apa yang diperintahkan Megawati Sang Penguasa Partai atau sebagai potret kehendak dari bayang-bayang oligarki. Atau setidaknya pihak-pihak yang memiliki pengaruh luar biasa kepada para penguasa atau berdasarkan sebuah deal-deal politik antara Megawati dan Jokowi Sang Petugas Partai?




















