Oleh: Malika Dwi Ana
Di tengah dunia yang kian panas—baik secara politik maupun literal—gelombang demonstrasi mengguncang berbagai belahan bumi pada September 2025. Dari Kathmandu hingga Jakarta, dari Paris hingga London, rakyat turun ke jalan dengan kemarahan yang berbeda-beda. Namun, ada garis tegas yang memisahkan: di Asia, Gen Z memimpin revolusi anti-korupsi dengan semangat reformasi; di Barat, Inggris, Australia, dan Belanda justru terperosok dalam huru-hara yang berbau nasionalisme culas, bahkan supremasi kulit putih. Dan di tengah kegaduhan ini, sosok Elon Musk muncul—tapi hanya di panggung yang sesuai dengan narasi pribadinya. Apa artinya ini? Bukti dunia makin terbelah, atau sekadar permainan oportunis?
Asia: Gen Z, Bendera One Piece, dan Perlawanan Tanpa Rasisme
Di Nepal, jalanan Kathmandu berubah jadi medan perang ketika Gen Z, yang muak dengan korupsi elit (#NepoBabies) dan larangan media sosial, membakar gedung parlemen. Hasilnya? 22 nyawa melayang, tapi Perdana Menteri K.P. Sharma Oli dipaksa mundur pada 9 September, membuka jalan bagi pemerintahan sementara. Inflasi 5% dan pengangguran pemuda 20% jadi bahan bakar, tapi simbolnya unik: bendera One Piece, ikon pemberontakan fiksi, dikibarkan sebagai lambang perlawanan. Ini bukan soal ras, tapi soal keadilan.
Di Indonesia, ceritanya serupa. Tunjangan mewah pejabat (Rp50 juta/bulan) kontras dengan upah minimum yang menyedihkan, ditambah video viral sopir ojek tewas di tangan polisi, memicu amuk massa. Gen Z, lagi-lagi, memimpin dengan bendera One Piece, menuntut reformasi. Presiden terpaksa ganti menteri ekonomi dan keamanan setelah demo nasional mengguncang Jakarta dan kota-kota lain. Kekerasan? Ada, tapi inisiatifnya dari represi aparat, bukan demonstran.
Kedua negara ini bagian dari gelombang Asia: Bangladesh 2024, Sri Lanka 2022, kini Nepal dan Indonesia. Media sosial—TikTok, Discord—jadi senjata Gen Z untuk mengorganisir dan menggulingkan elit korup. Ini perjuangan murni: anti-korupsi, pro-demokrasi, tanpa aroma rasisme.
Barat: Huru-Hara Berbau Supremasi
Beralih ke Inggris, Australia, dan Belanda, pemandangannya beda 180 derajat. Di London, rally “Unite the Kingdom” (13 September) yang dipimpin Tommy Robinson—mantan bos English Defence League—menarik 110.000 hingga 150.000 orang. Narasinya? Anti-imigran, anti-Islam, dengan dalih “kebebasan bicara” dan kemarahan pada kasus grooming gangs. Polisi kewalahan, 26 luka, dan huru-hara meledak saat demonstran coba tembus garis keamanan. Di sini, Elon Musk muncul via video, berteriak “kekerasan datang, lawan atau mati” dan menuntut parlemen dibubarkan. Provokatif? Jelas. Bahaya? Tanya Starmer, yang menyebutnya ancaman demokrasi.
Australia dan Belanda tak jauh beda. Di Sydney dan Melbourne, demo anti-imigran sporadis membakar mobil dan memicu bentrokan. Pemerintah Australia label ini sebagai “ekstremisme domestik”, dengan narasi “Australia for Australians” yang jelas-jelas kode untuk supremasi kulit putih. Di Belanda, kebijakan Geert Wilders dan partai PVV memanaskan Amsterdam dan Rotterdam. Anti-imigran, anti-multikulturalisme, dan narasi “lindungi budaya Eropa” menggema, sering disamarkan sebagai isu perumahan atau ekonomi. Polisi turun dengan kuda dan gas air mata, tapi pesan kelompok seperti Pegida jelas: ini soal identitas, dan identitas itu sering berarti “kulit putih”.
Prancis: Pengecualian di Barat?
Prancis sedikit berbeda. Aksi “Bloquons Tout” (18 September) melibatkan ratusan ribu buruh dan warga yang mogok massal, memprotes pemotongan anggaran oleh PM Sébastien Lecornu. Museum ditutup, transportasi lumpuh, dan gas air mata beterbangan di Paris. Tapi ini lebih soal ekonomi—anti-austerity, pro-buruh—daripada identitas. Menariknya, bendera One Piece sempat muncul di Paris, tanda solidaritas dengan Gen Z Asia. Meski ada elemen anti-imigran di pinggiran, demo Prancis tak sepenuhnya terjebak dalam narasi rasisme seperti tetangganya.
Elon Musk: Oportunis atau Pendukung Supremasi?
Lalu, kenapa Musk nongol di Inggris tapi absen di Peru, Prancis, atau Filipina? Sederhana: narasi. Di Inggris, dia mendukung rally Robinson karena selaras dengan kritiknya di X soal imigrasi dan “woke elites”. Retorikanya—“lawan atau mati”—memicu tuduhan provokasi kekerasan dari Starmer hingga Lib Dem, yang bahkan usul sanksi Tesla. Tapi di Peru (demo anti-korupsi tambang), Filipina (protes proyek banjir $17 miliar), atau Prancis (mogok buruh), Musk diam seribu bahasa. Isu lokal anti-korupsi atau pro-buruh tak masuk radarnya. Dia pilih panggung yang mendongkrak brand-nya sebagai “pembela kebebasan” di Barat, bukan juara reformasi global.
Tanda Kebangkitan Supremasi Kulit Putih?
Apakah huru-hara di Inggris, Australia, dan Belanda sinyal kebangkitan supremasi kulit putih, seperti yang diklaim? Ada benarnya, tapi tak sesimpel itu. Narasi anti-imigran di ketiga negara memang dimanfaatkan kelompok far-right—Robinson di Inggris, PVV di Belanda, atau nasionalis kulit putih di Australia. Media seperti Guardian dan Al Jazeera menyoroti bagaimana isu imigrasi, grooming gangs, atau perumahan jadi kedok untuk sentimen rasis. Tapi, banyak demonstran bukan supremasis eksplisit—mereka warga biasa yang frustrasi dengan ekonomi atau kebijakan pemerintah. Bedanya, di Barat, kemarahan ini mudah dibajak oleh retorika xenofobia.
Bandingkan dengan Asia: Gen Z di Nepal dan Indonesia tak punya agenda rasis. Mereka lawan elit korup, bukan imigran. Ini menunjukkan dunia terbelah: Asia menuju reformasi progresif, Barat malah regresif, terjebak dalam politik identitas yang beracun. Musk, dengan kehadirannya di London, bukan cuma penonton—dia amplifikasi narasi yang bisa memicu kekerasan lebih lanjut.
Penutup: Dunia di Persimpangan
Demonstrasi 2025 bukan sekadar protes—ini cerminan dunia yang retak. Gen Z Asia, dengan bendera One Piece dan semangat anti-korupsi, menunjukkan harapan: perubahan nyata tanpa rasisme. Tapi di Inggris, Australia, dan Belanda, kemarahan rakyat dimanipulasi jadi bahan bakar supremasi kulit putih, sengaja atau tidak. Musk, dengan kekuatan X dan retorika provokatifnya, bukan solusi—dia bagian dari masalah. Pertanyaannya: apakah dunia akan belajar dari Gen Z Asia, atau tenggelam dalam huru-hara identitas Barat? Waktu yang akan menjawab—tapi waktu itu kian menipis.(MDA)
*Lereng Lawu, 22092025
Oleh: Malika Dwi Ana




















