Jakarta -Fusilatnews – Dalam acara peringatan HUT ke-50 Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P )di Jakarta International Expo, Selasa 10/1. di Jakarta International Megawatixpo, Selasa (10/1 Dengan Tema “Genggam Tangan Persatuan dengan Jiwa Gotong Royong dan Semangat Api Perjuangan Nan Tak Kunjung Padam”; dengan Sub Tema: “Persatuan Indonesia untuk Indonesia Raya”.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Puteri meminta izin untuk menyampaikan pidato sambil duduk karena usianya yang sudah sepuh.
“Ibu sekarang duduk, karena kenapa, ibumu ini sudah masuk kesepuhan,” kata Megawati saat mengucapkan pembukaan dalam pidatonya, Selasa
Setelah menyapa dan bertanya kepada para kader PDIP yang hadir dengan pertanyaan
“Keliatan tua apa tidak ya? Keliatan apa enggak?” tanya Megawati. “Tidak,” jawab para kader dengan lantang dan kompak.
Dalam pidatonya Megawati memperkenalkan salam Pancasila kepada kader-kader partai
Selanjutnya mengatakan, salam Pancasila. Salam itu disampaikan dengan menyatakan salam Pancasila sambil membuka telapak tangan ke arah depan.
“Salam Pancasila!” kata Megawati. “Salam Pancasila!” jawab para kader. Setelah itu, Megawati dan kader sama-sama memekikkan teriakan ‘merdeka’. “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” teriak mereka.
Peringatan HUT ini bersifat lebih internal, sebagai bagian dari konsolidasi partai untuk memenangkan pemilu memperkuat jati diri PDI-P sebagai partai ideologi Pancasila dengan ciri kerakyatan, kebangsaan, dan keadilan sosial.
Beberapa pengamat politik sedang berspekulasi tentang Momentum Peringatan HUT PDIP ini yang akan memunculkan kejutan tentang pengumuman Ketua Umum PDIP Megawati terkait siapa yang akan menjadi calon presiden dan calon wakil presiden dari partai Demokrasi Indonesia – perjuangan. mengingat PDI-P satu-satunya partai yang tidak membutuhkan koalisi untuk mencalonkan Presiden untuk pemilu Presiden tahun depan.
Pengumuman tentang calon presiden dan calon wakil presiden dari PDI -P yang saat ini sedang ditunggu -tunggu oleh baik kalangan kader PDI -P sendiri maupun kalangan dari luar PDIP terutama kalangan pengamat dan komentator politik


























