• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

IJASAH, ANTI-INTELEKTUALISME DAN KRISIS KEPEMIMPINAN INTELEKTUAL

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
June 7, 2025
in Feature, Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Ketika Adhie M. Massardi menulis “Why Ijazah?”, ia sedang mengajak kita melihat lebih jauh dari sekadar selembar dokumen akademik. Ia sedang membuka kotak pandora dari krisis intelektualisme dalam kekuasaan, dan menunjukkan bagaimana politik hari ini mengikis bukan hanya nilai kejujuran administratif, tetapi juga keutamaan berpikir yang jernih dan bertanggung jawab.

Di tengah hiruk-pikuk politik yang penuh intrik dan manuver kekuasaan, polemik mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo muncul tidak sekadar sebagai serangan personal atau isu teknis hukum. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: erosi kepercayaan terhadap simbol-simbol otoritas intelektual dalam kehidupan berbangsa. Ijazah menjadi titik masuk untuk melihat bagaimana anti-intelektualisme mengakar dalam praktik politik kontemporer Indonesia.

Ijazah sebagai Simbol Modal Budaya

Dalam pandangan sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, ijazah bukan hanya bukti administratif, tetapi adalah cultural capital—modal budaya yang menjadi sumber legitimasi dan kekuasaan dalam masyarakat modern. Orang yang memiliki ijazah, apalagi dari institusi kredibel, diasumsikan memiliki kapabilitas, pengetahuan, dan kedewasaan moral yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan publik yang kompleks.

Dalam sistem demokrasi modern, posisi seorang presiden, menteri, atau pejabat tinggi negara tidak hanya diukur dari suara yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan intelektual dan etika publik yang dimilikinya. Ketika keaslian ijazah seorang presiden diragukan dan negara enggan memberikan jawaban transparan, maka krisisnya bukan pada dokumen itu semata, tetapi pada makna simbolik dan moral yang ia wakili.

Naiknya Anti-Intelektualisme Populis

Isu ijazah menjadi sangat politis karena muncul di tengah atmosfer politik yang ditandai oleh menguatnya anti-intelektualisme. Dalam bukunya Anti-Intellectualism in American Life (1963), Richard Hofstadter menjelaskan bahwa populisme sering kali disertai dengan sinisme terhadap kaum intelektual. Populis cenderung memosisikan intelektual sebagai bagian dari elite yang dianggap tidak memahami penderitaan rakyat biasa. Akibatnya, sikap meremehkan nalar, akademisi, dan pakar menjadi bagian dari retorika kemenangan politik.

Di Indonesia, gejala ini tampak dari bagaimana pemerintah sering mengabaikan masukan para ahli dalam pengambilan keputusan penting. Contoh klasiknya adalah revisi UU KPK, UU Cipta Kerja, dan berbagai kebijakan lain yang tetap dijalankan meskipun akademisi dari berbagai universitas besar secara terbuka menolak dan memberikan kritik argumentatif. Bahkan ketika kampus dan guru besar mulai bersuara, suara mereka kerap dibingkai sebagai gangguan politik, bukan koreksi etik dan intelektual.

Dalam konteks inilah, diamnya negara terhadap kontroversi ijazah menjadi bukan sekadar kelalaian, tapi bagian dari pola. Pemerintah tidak merasa perlu menjelaskan atau melayani pertanyaan publik karena ia bekerja dalam logika populisme simbolik: “selama rakyat puas, kita tak perlu mendengarkan kaum intelektual.”

Universitas yang Dilemahkan

Krisis legitimasi simbolik ini tidak berdiri sendiri. Ia berdampingan dengan lemahnya posisi institusi pendidikan tinggi dalam membentuk opini publik. Dalam teori Noam Chomsky, universitas modern di era neoliberalisme telah direduksi menjadi tempat produksi teknokrat dan profesional pasar, bukan tempat pembentukan pikiran kritis. Kampus dipaksa lebih sibuk mengejar ranking, akreditasi, dan anggaran hibah, ketimbang memproduksi wacana tandingan terhadap dominasi kekuasaan negara.

Fenomena ini membuat suara akademik kehilangan daya koreksi. Di tengah perdebatan soal ijazah misalnya, mayoritas universitas besar memilih diam atau bahkan membela status quo. Banyak guru besar enggan bersuara kritis karena posisi struktural mereka rawan disingkirkan atau tak mendapat perpanjangan jabatan. Ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan pun telah terserap ke dalam orbit kekuasaan dan kehilangan fungsi pengimbangnya.

Kebangkitan Gerakan Intelektual

Apa akibat dari semua ini? Kita hidup dalam masyarakat yang semakin rumit, tetapi dipimpin oleh logika-logika yang semakin dangkal. Politik dikelola seperti konten media sosial: cepat, dangkal, simbolik, dan penuh dramatisasi. Padahal, makin kompleks persoalan publik, makin besar kebutuhan kita pada pemimpin yang mampu berpikir mendalam, sistemik, dan reflektif.

Di titik ini, ijazah menjadi simbol absennya kepemimpinan intelektual. Ia bukan hanya dokumen kelulusan, tetapi tanda bahwa seseorang pernah melalui proses berpikir sistematis, belajar memahami argumen, dan mampu membedakan antara klaim palsu dan kebenaran rasional. Ketika simbol itu diragukan, dan negara tidak merasa penting untuk menjelaskan, maka yang dilucuti bukan hanya legalitas personal, tetapi harapan publik akan kualitas kepemimpinan intelektual.

Namun, tak semua sisi gelap. Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan mulai lahirnya kembali suara-suara intelektual yang berani mengambil posisi moral. Para akademisi, aktivis pendidikan, dan intelektual publik mulai mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya tentang prosedur elektoral, tetapi tentang kualitas diskursus publik. Mereka menulis, berbicara, dan memaksa publik untuk berpikir ulang tentang siapa yang layak memimpin.
Ini bukan perjuangan kecil. Di tengah arus hoaks, noise media sosial, dan intimidasi kekuasaan, suara intelektual sering kalah gaung. Namun tetap dibutuhkan. Sebab jika tidak, bangsa ini akan terus meluncur ke jurang “pembodohan yang sistematis”—di mana rakyat didorong untuk percaya bukan pada argumentasi, tetapi pada retorika kosong yang menyenangkan.

Penutup: Pertaruhan Bangsa atas Simbol Intelektual

Kontroversi ijazah seharusnya bukan sekadar bahan perdebatan kampanye atau bahan olok-olok. Ia harus dibaca sebagai peringatan serius bahwa bangsa ini sedang kehilangan arah epistemik. Ketika kebenaran tak lagi penting, ketika dokumen intelektual bisa diabaikan, dan ketika kampus dibungkam, maka yang hancur bukan hanya legitimasi presiden—tetapi masa depan demokrasi itu sendiri.

Maka benar kiranya seruan Adhie Massardi dalam Why Ijazah?—pertanyaannya bukan sekadar tentang dokumen, tapi tentang nilai. Nilai apa yang kita anut sebagai bangsa? Apakah kita masih menghargai pengetahuan, kejujuran akademik, dan kapasitas intelektual sebagai syarat untuk memimpin?

Kalau jawabannya tidak, maka ijazah hanya akan tinggal kertas kosong. Dan kita akan dibiarkan dipimpin oleh mereka yang tak tahu malu, tapi tahu cara merebut hati rakyat dengan kebohongan yang dibungkus kesederhanaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

The Last Samurai dari Istana: Ketika Buzzer Berpaling, Ngabalin dan Irma Tetap Berdiri

Next Post

Wafat di Atas Mimbar: Ketika Dakwah Mengorbankan Kesehatan

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Next Post
Wafat di Atas Mimbar: Ketika Dakwah Mengorbankan Kesehatan

Wafat di Atas Mimbar: Ketika Dakwah Mengorbankan Kesehatan

Hamas: Pejuang Kami akan Terus Menyerang Sampai Pendudukan Israel Dikalahkan

Hamas: Pejuang Kami akan Terus Menyerang Sampai Pendudukan Israel Dikalahkan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...