“Even the dead fishes can meet with the flow”, itu istilah kerennya, translesi dari judul diatas. Ingin membisiki bocoran awal, bahwa yang dimaksud adalah, membahas soal Prabowo Subianto (Gerindra) dan Gus Imim (PKB) yang sedini ini sudah deklarasi Pen-Ca/Wa-Pres-an mereka. Sepertinya, menista banget disebut sebagai “ikan bangkai”. Betul. Itu pikiran, bagi mereka yang membacanya sekilas. Tapi sitilah pada judul tersebut, sebenarnya, karena mereka berdua bisa menjadi kandidat Presiden dan Wakilnya, karena terbawa oleh arus aturan (by the flow) kemuara Pilpres 24.
Supaya lebih tegas, saya beri contoh yang lain. Berbeda bila hal itu terjadi pada sosok Anies Baswedan atau Ganjar Pranowo. Mereka harus menjadi “ikan yang hidup” (the living fishes), supaya bisa berenang kuat, malawan arus deras (permainan ombak aturan) menuju ke tepi hulu Pilpres 24 itu, sebagai kandidat presiden.
Mengapa bisa terjadi ibarat seperti itu? Memang diskriminatif. Itulah produk dari “Presidential Threshold 20% dan ketetapan Pemilu serentak itu”. Peluangnya, bangkai2 ikan itu, bisa menjadi hidup dan Ikan hidup tak berdaya mati kehilangan oxygen demokrasi.
Saya merasa apa yang diuraikan tersebut diatas, bukan apa yang pernah disampaikan oleh Prabowo Subianto dihadapan jama’ah Gus Imin: ” Didalam kolam kepting itu, yang dibawah didorong keatas, yang diatas diinjak kebawah”.
Tokoh-tokoh pergerakan, bak ikan-ikan hidup yang terbiasa berenang melawan arus ke hilir itu, tidak bisa menjebol pintu demokasi, untuk ikut kontestasi menjadi pemimpin bangsa ini. Pintu itu digembok oleh MK. Ini artinya, ikan-ikan busuk lainnya, akan ikut larut mengikuti ombak tsunami politik pemilu Indonesia 24. Jadinya, bahkan even the dead crabs can go with the flow.


























