Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
Thema “Jokowi 3 periode melalui penundaan pemilu 2024, adalah sebuah planning A atau rencana pertama. Adalah stategi Jokowi (baca : oligarki), sebagai test the water planning A. Seiring dengan manuver lain, melalui issu yang dilempar ke public, oleh beberapa aktor (Menteri) dan beberapa ketua umum parpol. Sebagai bonus plus mendapat residu dukungan dari Bamsoet/ Ketua MPR RI dan La Nyalla Mattalitti / Ketua DPD RI.
Sebelum mendapat dukungan dua inohong legislatif tersebut, terjadi beberapa gejolak peristiwa politik yaitu penolakan masyarakat intelektual/akademisi, baik penolakan melalui beberapa polling, maupun dalam bentuk aksi – aksi demo massa. Menolak Jokowi 3 periode bahkan terjadi insiden jatuhnya korban dalam bentuk materi, fisik maupun jiwa.
Aksi – aksi massa penolakan Jokowi 3 periode yang lalu, menimbulkan beberapa peristiwa tragis, diantaranya pos polisi pejompongan, Jakarta Pusat dibakar massa, Ade Armando babak belur, korban aniaya secara eigenrichting atau korban amuk massa. Kita masih terbayang Ade Armando tubuhnya nyaris bugil. Kita juga mencatat hilangnya nyawa seorang anggota Polri di Kendari, Sulawesi Tenggara, disebabkan banyak menghirup zat beracun yang berasal dari tembakan asap, para aparat Polri saat mengamankan massa atau aksi demo mahasiswa di Kendari.
Catatan yang dianggappaling aib adalah, apa yang dilakukan oleh Luhut Binsar Panjaitan / LBP. MenMarVes. Ia menggagas undur pemilu berdasarkan big data, yang kemudian dinilai bohong, karena tidak akurat. Memanipulir 110 juta rakyat Indonesia menginginkan Pemilu 2024 diundur, walaupun harus melanggar konstitusi dasar UUD. 1945.
Belakangan diketahui, raangakaian dari aksi penolakan, adalah agenda Pemilu diumumkan oleh KPU dan Puan selaku Ketua DPR RI, yang merinci perihal waktu, tanggal bulan dan tahun diselenggarakannya Pemilu Pilpres serempak di 2024.
Planing B, Jokowi dan sindikatnya menyatakan secara terbuka, indikasi capres si rambut putih dan mempersilahkan Prabowo sebagai Presiden berikutnya. Kandidat si Rambut Putih nya Jokowi, di protes PDIP, bahwa itu bukan arahnya ke Ganjar Pranowo dan sekaligus pernyataan Prabowo sendiri, ” presiden terpilih di 2024 harus cerdas dan tidak planga- plongo “.
Publik menjadi saki, bagaimana manuver politik GP dalam rangka suksesi Capres 24 ini. Walau mendapat banyak cemoohan dari rekan rekan separtainya, bahkan GP mendapat sangsi teguran resmi secara lisan dari sekjen dan Said Abdullah ketua DPP.
Flash back mengapa Jokowi bertekad menominasi GP, ini bisa jadi tidak terlepas atas penolakan Megawati Soekarno Putri terhadap ide undur pemilu 2024, yang berkausalitas mutatis mutandis Jokowi menghendaki menjadi Presiden 3 periode tanpa seleksi pemilu.
Jokowi faham dan mencium bahwa Megawati akan tetap mempertahankan trah Soekarno, melalui anak biologisnya Puan Maharani/ Puan, menjadi Capres dari PDIP. Karena itu Jokowi bukan karti dengan mengeluarkan jurus strategi Planning B. GP akan diperankan sebagai pionnya untuk melawan Puan. Ini yang kemudian membuat kalang kabut kubu Mega dan PDIP. Ribut diinternalpartainya sendiri. Jokowi meyakini loyalitas kultur jawa GP diyakini akan kesetiannya.
Ganjar Pranowo dan Puan diketahui pernah tersandung ” kasus dugaan korupsi E KTP.
Bukan isapan jempol, bila Jokowi ingin menjelasakan diskresinya kepada public, sebagai manuver politiknya melawan PDIP, dengan dipersilahkannya GP mondar mandir kedaerah-daerah silaturahmi dengan komunitsas-komunitas yang dbentuknya sendiri. Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jateng, seolah-olah telah mengantungi izin kampanye langsung tancap gas, sekalian membentuk semacam tim sukses dengan nama ” dewan kopral “, “relawan Ganjar”, “Ganjaris”, dll. melakukan berbagai manuver politik atau ” kampanye “. GP pun turun koordinasi ke – akar-akar rumput di banyak daerah propinsi dan kabupaten di tanah air, tanpa pernah sama sekali kedengaran oleh publik GP. mendapat teguran dari mendagri atau Bawaslu.
Apakah planning kedua atau B ini akan mulus, tentu tidak. Mega dan Puan serta para punggawa-punggawanya di PDIP, akan bersatupadu sepakat hingga saat ini menolak GPsebagai Capres resmi dari PDIP.
Manuver lain, Jokowi membentuk KIB. Ini kendaraan yang disipakan dan didesigned untuk mengusung Ganjar Pranowo, bila PDIP tidak mengusungnya. Ia disipakan sekaligus untuk melawan, siapa saja Capres yang akan diusung oleh PDIP dan koalisinya. Koalisi Indonesia Bersatu yakni Golkar, PAN dan PPP. sudah cukup memiliki jumlah perolehan Presidential Threshold 20 % sebagai syarat utama untuk dapat mencalonkan seorang untuk menjadi calon Presiden Ri. di 2024
Lalu bagaimana hubungan politik dan kejayaan PDIP yang telah berkuasa melalui Jokowi si petugas partai, agar PDIP pada 2024 – 2029 tetap berkuasa seperti kurun waktu 2014 – 2024 ?
Terjadi polemik internal yang luar biasa bagi Mega sebagai tokoh sentral, dan para senioren DPP. PDIP. Mega dan para petinggi partai PDIP sudah mulai ” mengendus kemana arah Ganjar Pranowo berkiblat. Sinyalemen ini dinilai sebagai membahayakan dan mengancam ” kursi Ketua Umum PDIP. jika Ganjar dipilih oleh Golkar ( KIB ) menjadi Capres Presiden di 2024.
Tentu Mega yang sudah malang melintang serta merasakan asam garam didunia politik, wajahnya akan merasa tertampar, lalu akan terasa sulit menaruh mukanya, oleh sebab selain reaksi keras internal dari PDIP. partai yang Ia besarkan, namun pada kenyataannya Mega aka mendapat serangan. Ia tidak dapat atau tak sanggup atau tak ingin kadernya menjadi Capres selain Putrinya Puan ? atau tak mau mendukung kader partainya yakni seperti sosok GP. yang dianggap kelak oleh para pengkritisi, sebagai lebih berkualitas dibanding Puan untuk menjadi capres. Persoalan lain, terlebih jika GP. justru memenangkan Pilpres 2024. Lalu berhasil menjadi presiden tetapi justru didukung oleh partai lain, bukan partai PDIP.
Ramalan atau prediksi gejolak politik yang akan terjadi serta implikasinya menjadi buah simalakama atau bumerang terhadap diri Mega dan PDIP. Jika setuju atau menolak tawaran atau desakan Jokowi untuk pilih GP, namun sebaliknya GP. sudah dianggap sebagai pribadi ” bak kacang lupa kulitnya atau sosok kader yang berkhianat “, karena terbukti telah mengangkangi hak partai yang telah meresmikan dewan kolonel untuk menjagokan Puan cucu Soekarno.
Adalah suatu kewajaran jika GP. dianggap telah membuat Mega dan PDIP jengkel dan marah. Ia dianggap telah memandang sebelah mata kepada Mega, sang pemilik partai, termasuk secara hakekat GP. telah merendahkan atau meremehkan para petinggi dan senioren PDIP. secara keseluruhan.
Rumusan masalah lain adalah, lebih berbahaya lagi bagi Mega yang sudah penuh pengalaman di dunia politik, jika berasumsi dari hasil pengamatannya selama ini terhadap sepak terjang atau attitude GP. terhadap partai PDIP yang membesarkanya, telah memberkasi sosok GP. sebagai pribadi yang ” mbalelo ” atau ngeyel, walau disebabkan adanya faktor ” backing ” seorang Jokowi yang presiden.
Terlepas dari faktor adanya kekesalan atau kemarahannya Mega kepada sosok Ganjar Pranowo, tetapi jika presidential threshold 20 % dimainkan oleh KIB untuk mengusunya penCapresannya, maka artinya PDIP telah menyia-nyiakan peluang ini untuk partainya. Tentu saja hal seperti ini tidak boleh terjadi. Tetapi Jika ini terjadi tentunya Kursi Ketua Umum PDIP, pun bukan hal yang tidak kemungkin akan terancam. Akibat kisruh ini menjadi awal adanya polemik di internal partai.
Bagaimana eksistensi Prabowo Subianto.
Beliau masih mimpi menjadi Presiden 2024. Sudah jauh hari sejak tahun 2020, telah ancang – ancang, dan bahkan ” ngotot ” hnedak tampil dan hadir kembali sebagai actor Capres kompetitor untuk kali ketiganya. Terkait angan-angannya ini, Prabowo Subanto habis – habisan mengutarakan banyak pujian kepada Jokowo. ” Angkat sumpah bahwa Jokowi is already on right track, Jokowi satu level lebih cerdas dari dirinya, dan bertekad akan melanjutkan apa yang Jokowi sudah rintis dan kerjakan sebagai pemimpin “. Gayung bersambut, imbalan baliknya pun Ia sudah mendapat kisi – kisi sebagai salah seorang yang bakal didukung oleh Jokowi.
Keterikatan Prabowo Subianto kepada Jokowi, ia khusus soan dari Jakarta menemui Jokowi di Istana Presiden, Gedung Agung di Jogjakarta untuk ” sebuah pertemuan ” atau spesial silaturahim, walau ditengah ketatnya Prokes Covid 19 diberlakukan. Prabowo Subianto. dijamu opor ayam, bakso dan tahu bacem pada tahun 2021 di hari pertama iedul fitri. Secara sadar Ia melewati rumah Mega yang ada di Jakarta.
Bisa jadi Prabowo membaca gelagat Mega tidak akan mendukungnya menjadi capres yad. Bisa pula Mega kembali melupakan mufakat mereka di Batu Tulis, Bogor, Jabar pada Tahun 2009, untuk dukungan Mega terhadap PS. menjadi Capres di tahun 20l4. Kenyataannya 2014 dan 2019 Mega justru mendukung Jokowi. Berdasarkan fakta empiris tersebut, bisa jadi 2024 Mega kembali akan melakukan ingkar, atau bisa jadi secara material perjanjian Batu Tulis itu dianggap sudah kedaluwarsa. Expired. Tidak lagi mengikat diantara keduanya.
Saling tarik menarik sebagai bargaining position, adu siasah, atau permufakatan politik antara kubu Mega dan Jokowi, disisi lain Prabowo, Puan dan tentunya Ganjar Paronowo. Akankah yes man, terserah apa keputusan Jokowi?. Dan akhirnya bisa saja terjadi akan saling mengalah dan atau juga karena keterpaksaan, dengan kehadiran tokoh kharismatik yang mereka khawatirkan dari sosok Anies Baswedan yang bakal defiitif menjadi capres 24, diusung oleh koalisi Nadem, PKS dan Partai Demokrat. Langkah Surya Palong, Nasdem, dengan deklrasi Capres Anies Baswedan, dibaca sebagai hengkang dari koalisi besar Jokowi with all risks.
Anies Baswedan yang dikenal sebagai sosok yang berkepribadian luwes namun tegas, cerdas, dan jujur serta berani melawan penguasa atau pejabat otoriter sekalipun, pada sisi lain seguganf prestasi yang telah diraihnya sejak menjadi Gubernur Jakarta, adalah investasi dirinya, sebagai advantagesnya.
Walau kemudian A.B. diframing sebagai figure yang akan memainkan politik identitas dan atau sosok tokoh yang diminati serta diidolakan oleh berbagai kelompok atau golongan politik identitas, ini bukti lain bahwa kehadiran A.B. menjadi perhitungan serius. Fakta lain, dilapangan terlihat, bagaimana antusian masyarakat yang mengelu-elukan yang bersangkutan menjadi idola Capres 24 yad.
Para pendukungnya A.B. adalah sosok yang berkepribadian agamis – nasionalis, sesuai seperti yang diprediksi, akan mendapat dukungan penuh dari masyarakat golongan muslim dan nasionalis multi ras dan dari berbagai lapisan strata, dan kaum akademisi dan lintas ilmu serta lintas SARA. Termasuk kelompok 212 yang dibawah satu tongkat komando ulama besar di tanah air, Habib Rizieq Shihab.
Anies Baswedan akan dapat membawa masyarakat bangsa yang majemuk lintas SARA ini, ke perubahan bangsa yang lebih baik, berkepastian hukum dan berkeadilan serta maju dan tumbuh pesat di segala bidang, selain faktor penting pendidikan demi mencerdaskan, dan memicu kemajuan bangsa disemua sektor pembangunan ekonomi, dan kesejahteraan dalam kehidupan sosial, menjaga dan merawat budaya demi persatuan dan kesatuan bangsa serta yang tidak kalah penting, membangun mental bangsa ini dari kemerosotan moralitas yang nampak terpuruk oleh karena beberapa pola sistem yang ada saat ini, pada era presiden Jokowi.
Ini artinya Jokowi akan memainkan siasash win – win solusi bagaimana mencegah kemenangan Anies Baswedan. Jokowi akan disetujui semua faksi atau pihak pelawan A.B. utamanya PDIP demi mempertahankan kedigdayaan PDIP. sebagai the rulling party pada 2014 – 2019 dan 2024 untuk kembali berjaya di 2024 – 2029.
Yakni solusi yang terbaca adalah, Jokowi akan tawarkan, adalah tidak Puan pula tidak GP, yang sama sama separtai. Tetapi yang akan menjadi capres di 2024 adalah sosok netral, non PDIP yaitu Prabowo Subianto. sebagai capres, lalu pasangan sebagai cawapresnya, adalah dirinya sendiri
Selanjutnya apakah hasil pengamatan politik narsum artikel perihal bakal capres dan bakal cawapres ini akan tepat ? wait and see !Wallahu’alam.
Namun pastinya kapasitas dan subtansial dari narasi ini filosofinya adalah, bagaimana seluruh anak bangsa ini (tanpa terkecuali) bisa mendapatkan perubahan yang hakekatnya tidak semata hanya menggantikan seorang sosok pemimpin. Hendaknya rakyat dan bangsa,
Memiliki prinsip Prudential dan membaca track recordnya, atau teliti sebelum memilih, supaya tidak mendapatkan kualitas pemimpin yang dikehendaki. atau terlebih semoga tidak mendapatkan pemimpinan dibawah kualitas pemimpin sebelumnya. Insya Allah akan memperoleh sosok pemimpin dengan kepemimpinan berkualitas ( berkemampuan ) serta sanggup membangun karakter bangsa dengan kualitas jauh di atas , atau lebih baik dari pemimpin sebelumnya dari setiap sisi atau dan semua sudut pandang
























