“Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
(QS Al-Isra’ [17]: 80)
Doa ini sering dibaca sebagai permohonan transisi yang selamat: masuk dan keluar dari suatu fase kehidupan. Namun, Al-Qur’an, seperti biasa, tidak pernah sederhana. Ia selalu menyimpan lapisan makna yang menuntut pembacaan lebih dalam—terutama pada frasa “kekuasaan yang menolong” (sulṭānan naṣīrā).
Kata sulṭān kerap disalahpahami sebagai kekuasaan dalam arti politik: jabatan, otoritas formal, atau kemampuan memerintah. Padahal, dalam tradisi Qur’ani, sulṭān justru lebih sering bermakna otoritas kebenaran—sebuah daya yang membuat seseorang mampu berdiri tegak tanpa harus memaksa. Ia adalah kekuatan yang tidak berisik, tidak brutal, namun efektif.
Di titik inilah tafsir bahwa “kekuasaan yang menolong” adalah ilmu—atau dalam bahasa kontemporer, science—menjadi sangat relevan.
Ilmu adalah kekuasaan yang tidak membutuhkan senjata. Ia tidak memerlukan pengerahan massa atau legitimasi struktural. Ilmu bekerja dengan cara yang sunyi: membongkar kebohongan, menelanjangi manipulasi, dan memberi manusia kemampuan untuk memahami realitas apa adanya. Dalam sejarah peradaban, kekuasaan sering runtuh bukan karena perlawanan fisik, melainkan karena kebenaran yang tak lagi bisa disangkal.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri memulai misi kenabiannya tanpa tentara, tanpa negara, tanpa sumber daya politik. Yang ia miliki hanyalah wahyu, akal yang jernih, dan argumentasi moral yang tak bisa dipatahkan. Itulah sulṭān dalam bentuk paling murni: ilmu yang menolong kebenaran bertahan di tengah tekanan.
Dalam konteks modern, science tidak boleh dipersempit menjadi sekadar eksperimen laboratorium atau statistik. Ilmu adalah cara berpikir yang berani bertanya, jujur pada data, dan setia pada etika. Ia adalah keberanian untuk tidak tunduk pada narasi dominan hanya karena narasi itu didukung oleh kekuasaan.
Justru di zaman ketika kekuasaan politik sering memproduksi kebisingan, propaganda, dan distorsi, ilmu tampil sebagai kekuasaan alternatif. Ia tidak menjanjikan kemenangan instan, tetapi ia menolong manusia agar tidak terseret arus kebodohan massal. Ia menjaga nurani agar tidak mati meski tekanan datang dari segala arah.
Maka doa dalam QS Al-Isra’ ayat 80 dapat dibaca sebagai doa kaum berakal:
Bukan permohonan untuk berkuasa atas orang lain, melainkan permohonan agar diberi daya untuk berpihak pada kebenaran. Daya itu bernama ilmu.
Ilmu menolong seseorang untuk masuk ke ruang publik tanpa kehilangan integritas, dan keluar dari kekuasaan tanpa meninggalkan kehancuran. Ia menolong manusia agar tidak menjadi alat, tidak menjadi pembenar, dan tidak menjadi korban dari sistem yang timpang.
Dalam dunia yang kian memuliakan kekuasaan kosong dan membenci pikiran kritis, ilmu adalah bentuk perlawanan paling elegan. Ia tidak memaki, tidak memukul, tidak memaksa—tetapi ia membuat kebohongan kehabisan tempat bersembunyi.
Karena itu, memahami “sulṭānan naṣīrā” sebagai ilmu bukanlah tafsir modern yang dipaksakan, melainkan pembacaan yang setia pada ruh Al-Qur’an: kebenaran selalu membutuhkan penolong, dan penolong terbaiknya adalah akal yang tercerahkan.
Dan mungkin, di zaman ini, tidak ada doa yang lebih relevan daripada memohon satu hal:
Agar kita tidak sekadar selamat masuk dan keluar dari kehidupan, tetapi juga dibekali ilmu agar tidak ikut merusak di dalamnya.























