Oleh Sadarudin el Bakrie – Jurnalis| Pengamat Ekonomi Politik| Alumni Universitas Negeri Jember
U.S. Treasury Secretary Janet Yellen on Tuesday (4/25) warned that failure by Congress to raise the government’s debt ceiling – and the resulting default – would trigger an “economic catastrophe” that would send interest rates higher for years to come.
Berdasarkan Laporan Publikasi Bank Indonesia Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2023 turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Posisi ULN Indonesia pada akhir Februari 2023 tercatat sebesar 400,1 miliar dolar AS, turun dibandingkan posisi ULN Januari 2023 sebesar 404,6 miliar dolar AS.
Meski ada perbaikan tetapi sampai dengan bulan Desember tahun 2022 Surat Utang Negara (SUN) Indonesia mencapai Rp 4.368,8 triliun, naik dari Rp 1.101,6 triliun pada Desember tahun 2014 saat tahun pertama Jokowi diangkat menjadi presiden.
Surat Utang Negara bertambah sebesar Rp 3.267,2 triliun atau bertambah sebesar 297% selama delapan tahun Jokowi memimpin administrasi negara.
Utang pemerintah yang jatuh tempo dalam satu tahun hingga lima tahun ke depan meningkat. Utang pemerintah yang jatuh tempo dalam 5 tahun ke depan mencapai Rp 2.606 triliun.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, posisi utang jatuh tempo dalam satu tahun dan tiga tahun ke depan meningkat 7,9% year on year (yoy) dan 24,1% yoy. Sementara utang jatuh tempo 5 tahun meningkat 42,1%.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengtakan, pemerintah bisa melakukan pembiayaan utang jatuh tempo dengan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) baru.
Apa yang terjadi terhadap perekonomian Indonesia Jika apa yang dikhawatirkan oleh Janet Yelen terjadi?
Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada hari Selasa (25/4) memperingatkan bahwa kegagalan Kongres untuk menaikkan plafon utang pemerintah – akan mengakibatkan kegagalan AS dalam lunasi utang, menciptakan pemicu “malapetaka ekonomi” yang akan membuat suku bunga lebih tinggi untuk tahun-tahun mendatang.
Janet Yellen juga memberi tahu Kongres pada hari Senin bahwa AS terancam gagal bayar utangnya paling cepat 1 Juni, jika legislator tidak mencegah potensi krisis keuangan global dengan menangguhkan atau tidak menaikkan pinjaman negara
Dalam sepucuk surat kepada para pemimpin DPR dan Senat, Yellen mendesak para pemimpin kongres “untuk melindungi kepercayaan penuh kredit Amerika Serikat dengan bertindak sesegera mungkin” untuk menangani batas utang sebesar $31,4 triliun pada otoritas pinjaman legalnya.
Yellen menambahkan bahwa tidak mungkin untuk memprediksi dengan pasti tanggal pasti kapan AS akan kehabisan uang tunai.
Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi nomor satu didunia tentu menentukan jalannya ekonomi global karena mata uang dolar AS menjadi alat tukar transaksi perdagangan global
Secara moneter nilai rupiah kita juga daya beli rupiah kita sangat bergantung pada dinamika tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh US Federal Reserve.
Pertama Janet Yelen mengatakan bahwa tingkat suku bunga meningkat dan menjadi lebih tinggi untuk tahun – tahun mendatang.
Tingginya tingkat suku bunga berakibat meningkatnya beban pembayaran bunga dan cicilan utang dan menciptakan capital outflows yang lebih tinggi dan mengakibatkan tekanan terhadap neraca pembayaran internasional Indonesia.
Disamping itu tingginya pembayaran cicilan dan bunga utang mengakibatkan ruang fiskal pada APBN menyempit. Mengurangi kemampuan pemerintah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi . Menciptakan lapangan kerja yang lebih luas karena rendahnya belanja modal dalam APBN disamping mengakibatkan defisit anggaran semakin tinggi.
Meningkatnya suku bunga USD berakibat pada anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan selanjutnya mengganggu cashflow industri dalam negeri karena struktur ndustri Indonesia didominasi industri substitusi impor dengan local content rendah.PPMeski laporan Bank Indonesia menunjukkan perkembangan penurunan ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) maupun sektor swasta. Secara tahunan, dimana posisi ULN Februari 2023 mengalami kontraksi sebesar 3,7% (yoy), lebih dalam daripada kontraksi 2,0% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Tetapi bulan berikutnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, posisi utang pemerintah mencapai Rp 7.879,07 triliun atau setara 39,17 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga akhir Maret 2023.
Nilai utang pemerintah naik Rp 17,39 triliun dari posisi di Februari 2023 yang sebesar Rp 7.861,68 triliun dengan rasio 39,09 persen terhadap PDB. Meski terjadi kenaikan secara nominal maupun rasio terhadap PDB, Kemenkeu menilai peningkatan utang itu masih dalam batas aman.
Untuk menghadapi situasi yang paling buruk dari apa yang menjadi kecemasanJsnnet Yelken. Presiden Jokowi seharusnya membuat kebijakan ekonomi yang mampu memitigasi akibat buruk yang bisa menimpa perekonomian Indonesia.
Wakrunya bagi Jokowi untuk berhenti cawe- cawe urusan pencapresan dan berhenti menggalang kemenangan untuk bacapres tertentu dan fokus untuk memikirkan dan menghasilkan kebijakan ekonomi yang bisa memperkuat ketahanan Ekonomi Indonesia dari potensi hempasan malapetaka Ekonomi AS dan global.
























