Oleh : Irfan Wahidi – Pemerhati Sejarah dan Pariwisata
Terlepas dari kenyataan bahwa Indonesia pada awal abad ke-20 masih berada di bawah penjajahan, tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa itu telah dibangun banyak fondasi kemajuan yang luar biasa. Hindia Belanda ketika itu bahkan dapat dikatakan sejajar dengan banyak negara maju di Eropa dalam berbagai bidang, mulai dari transportasi, industri, tata kota, pendidikan, hingga olahraga.
Daerah-daerah pedalaman di Sumatera Barat, termasuk kawasan dekat kampung saya di Manggani, Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, bahkan sudah terhubung dengan jaringan kereta api. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur saat itu benar-benar dirancang untuk menjangkau kawasan strategis hingga ke pelosok. Jalur rel bukan hanya hadir di kota besar, tetapi juga menjadi urat nadi ekonomi masyarakat pedalaman yang terhubung dengan pusat perdagangan dan pelabuhan.
Di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Bandung, trem listrik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Sistem transportasi umum tertata rapi, bersih, dan terintegrasi. Trem bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kemajuan kota. Andaikan jalur-jalur trem itu dipertahankan dan dimodernisasi hingga sekarang, Indonesia akan memiliki warisan sejarah yang bernilai tinggi sebagaimana kota-kota tua di Eropa yang tetap mempertahankan tram klasik sebagai identitas budaya sekaligus daya tarik wisata dunia.
Bayangkan jika Jakarta, Surabaya, dan Bandung hingga hari ini masih memiliki jalur trem peninggalan kolonial yang dirawat dengan baik. Itu bukan hanya menjadi simbol sejarah transportasi modern Nusantara, tetapi juga menjadi magnet wisata kelas dunia. Wisatawan mancanegara akan melihat bahwa Indonesia sejatinya telah mengenal modernitas jauh sebelum banyak negara Asia lainnya berkembang pesat.
Dalam bidang pertambangan, teknologi yang digunakan kala itu relatif lebih ramah lingkungan dibanding banyak praktik tambang modern saat ini. Sistem tambang bawah tanah atau gali terowongan lebih banyak diterapkan dibanding eksploitasi terbuka berskala besar yang merusak bentang alam dan hutan. Pengelolaan sumber daya dilakukan dengan perencanaan yang lebih terukur.
Di sektor perkebunan, kawasan teh, kopi, kina, tebu, dan karet ditata secara sistematis. Jalan produksi, jaringan irigasi, jalur distribusi, hingga pemukiman pekerja dirancang dengan perencanaan matang. Tidak sedikit kawasan perkebunan peninggalan Belanda yang hingga kini masih menjadi pusat produksi utama di Indonesia.
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) juga telah dibangun sejak masa itu. Bendungan dan sistem pengairan dibuat untuk menopang kebutuhan industri, pertanian, dan masyarakat. Bahkan hingga hari ini, sejumlah PLTA peninggalan kolonial masih tetap digunakan. Hal ini membuktikan bahwa konsep energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan sejatinya telah dikenal sejak dahulu.
Dalam bidang pemerintahan, birokrasi dikenal lebih tertata dan disiplin. Administrasi berjalan sistematis, data penduduk dicatat dengan rapi, pelayanan publik memiliki standar yang jelas, dan penegakan hukum berjalan relatif tegas.
Kemajuan Hindia Belanda juga tampak dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah teknik, pertanian, kedokteran, dan pendidikan kejuruan berkembang cukup pesat. Di Bandung berdiri Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kemudian menjadi cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu perguruan tinggi teknik paling bergengsi di Indonesia hingga hari ini. Kehadiran sekolah tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan teknik modern di Nusantara telah berkembang sejak awal abad ke-20.
Di bidang kedokteran terdapat STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran bagi pribumi yang melahirkan banyak tokoh nasional dan tenaga medis terdidik. Selain itu, pendidikan vokasi dan sekolah teknik lainnya dirancang untuk mencetak tenaga ahli di bidang pertanian, perkeretaapian, administrasi, industri, dan perkebunan. Sistem pendidikan kala itu lebih diarahkan pada kebutuhan nyata pembangunan dan dunia kerja.
Kemajuan itu juga tercermin dalam bidang olahraga, khususnya sepak bola. Hindia Belanda pernah tampil di Piala Dunia 1938 di Prancis dan menjadi wakil Asia pertama yang tampil di ajang tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa sepak bola di negeri ini pernah berkembang maju dan diperhitungkan di tingkat internasional. Nama Hindia Belanda tercatat dalam sejarah sepak bola dunia, sesuatu yang hingga kini masih menjadi kebanggaan tersendiri.
Namun setelah Indonesia merdeka, sangat disayangkan karena banyak hal baik yang sebenarnya telah dibangun justru tidak dilanjutkan secara serius. Trem dihapus, banyak jalur kereta ke pelosok mati, arah pendidikan terus berubah tanpa konsistensi, dan birokrasi menjadi semakin rumit. Pengelolaan lingkungan pun mengalami kemunduran. Jika dahulu pertambangan lebih banyak menggunakan sistem terowongan yang menjaga alam, kini eksploitasi terbuka justru merusak gunung dan hutan secara masif.
Tentu kita tidak boleh melupakan bahwa penjajahan tetap meninggalkan penderitaan dan ketidakadilan bagi rakyat Indonesia. Namun sejarah juga harus dilihat secara jujur dan objektif. Ada sistem, teknologi, dan infrastruktur yang memang baik dan layak diteruskan setelah kemerdekaan. Kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk menyempurnakan hal-hal baik yang telah ada, bukan membiarkannya hilang satu demi satu.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu belajar dari sejarahnya. Bukan untuk memuji penjajahan, melainkan untuk mengambil pelajaran bahwa disiplin pembangunan, transportasi modern, pendidikan vokasi yang kuat, birokrasi yang tertata, teknologi ramah lingkungan, dan penegakan hukum yang adil merupakan fondasi penting kemajuan sebuah negara. Jika dengan teknologi terbatas pada masa lalu semua itu mampu diwujudkan, maka seharusnya Indonesia hari ini dapat membangun sesuatu yang jauh lebih baik demi masa depan generasi berikutnya.




















