Oleh: Jannus TH Siahaan, Doktor Sosiologi
Jakarta – Daging cincang, atau Mincemeat, adalah salah satu menu favorit saya di masa lalu saat makan di rumah makan Padang. Biasanya dipisah dari piring nasi yang disajikan hangat alias dihadirkan dengan piring berukuran kecil secara terpisah.
Setiap menyantap menu cincang, saya selalu tersenyum kecil mengingat namanya, mirip kode taktik sekutu merujuk literatur yang pernah saya baca. Nama itu mirip kode operasi pasukan sekutu, Inggris dan Amerika Serikat pada Perang Dunia kedua tahun 1943, yang membuat Hitler tertipu dan harus gigit jari.
Operasi sederhana bernama mincemeat operation tersebut menjadi salah satu game changer dalam perang dunia kedua. Jerman terpaksa memperkecil daerah kekuasaannya di Italia, dan El Duce, yaitu Benito Amilcare Andrea Mussolini (Benito Mussolini) diturunkan oleh Dewan Besar Fasis.
Operasi Mincemeat adalah operasi tipu daya atau pengalihan, hanya dengan meletakkan sekoper dokumen operasi palsu di tubuh sesosok mayat gelandangan yang dilekatkan identitas angkatan laut Inggris, dengan maksud agar ditemukan oleh tentara Jerman. Isinya berkisah tentang rencana invasi sekutu di Yunani dan Sardinia, Italia.
Dokumen tersebut membuat Hitler super yakin, bahwa Sisilia bukanlah target masuk pasukan sekutu di tanah Italia di saat D-Day, sehingga Jerman tidak melakukan penguatan pertahanan dan penambahan pasukan di sana secara signifikan.
Padahal, sebelumnya, seorang Jenderal Jerman, Jenderal Albert Kesselring; pemimpin Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) dan Komandan pasukan Jerman di Italia selama masa Perang Dunia II, sangat meyakini bahwa Sisilia adalah target pendaratan pasukan Sekutu. Namun pandangannya justru di kesampingkan oleh sang Fuhrer.
Operasi sederhana tersebut mengubah alur peperangan, yang akhirnya membuat pantai Messina, menjadi Dunkirk-nya Jerman (evakuasi 100.000 pasukan Jerman dan Italia) di bawah bayang-bayang pesawat tempur Amerika Serikat dan Inggris. Evakuasi tersebut atas inisiatif dan kecemerlangan analisa Jenderal Kesselring, karena Hitler dianggap ragu-ragu.
Ya, itulah operasi daging cincang, yang melenakan Hitler layaknya menu cincang yang melenakan lidah saya di Rumah Makan Padang itu. Logika serupa acap kali dipakai oleh para pembesar politik kekuasaan, tidak terlepas yang terjadi di negeri kita, dengan mencoba memberi umpan-umpan politik kontroversial dengan harapan agar dimakan oleh lawan.
Sayangnya, ada yang berusaha memberi umpan, tapi ternyata tak dimakan oleh lawannya. Ujuk-ujuk umpan tersebut malah jadi senjata makan tuan, karena kurang mendalamnya analisis terhadap kemungkinan-kemungkinan reaksi lawan atas umpan tersebut.
Itulah salah satu kemungkinan yang terjadi dengan polemik rencana kehadiran tim nasional Israel pada laga Piala Dunia U-20 di Indonesia. Umpan bermula dari sebuah surat penolakan oleh seorang gubernur di mana proses Drawing Piala Dunia U-20 rencananya akan dilangsungkan. Isi surat tersebut kemudian disambung oleh pernyataan seorang gubernur lainnya, yang kebetulan berasal dari partai yang sama dengan gubernur pertama.
Sehabis itu, umpan bergulir secara dinamis. Pihak lawan, yang selama ini sesungguhnya paling lantang bersuara soal anti-Israel, nampaknya ragu-ragu untuk menceburkan diri ke dalam isu tersebut, alias meragukan umpan yang dilepaskan kedua gubernur tersebut. Boleh jadi mereka merasa “suprised” karena umpan yang dilemparkan bukanlah umpan yang biasa dipakai oleh pengumpan.
Selama ini, isu Anti-Israel jarang terdengar dari mulut kedua gubernur, begitu juga dengan partai dari mana mereka berasal. Karena itu, lawan pun merasa ada yang aneh. Mengapa ujuk-ujuk “tone” politik mereka berubah?
Tentu tetap ada beberapa partai beraliran Islam yang ikut memakan umpan. Namun karena umpan awal tidak berasal dari mereka, maka imbas politik tidak terlalu mengganggu partai mereka, saat umpan ternyata berbalik arah kepada pemberi umpan.
Nampaknya ada beberapa miskalkulasi yang dilakukan pengumpan, jika kita membandingkannya dengan operasi daging cincang di atas. Pertama, pengumpan menyalahi kodratnya sebagai ruling party. Di manapun di dunia ini, ruling party harus sejalan dan mendukung semua program pemerintah. Nah, saat pengumpan yang notabene adalah ruling party melempar umpan yang ternyata berniat meledakkan rencana strategis pemerintah, situasinya kemudian menjadi berbeda.
Hal tersebut memperkuat kecurigaan publik bahwa punggawa Istana, Jokowi, belum benar-benar satu perahu dengan petinggi partai yang mengantarkannya ke Istana, terutama terkait pemilihan tahun 2024 nanti. Jadi tak salah juga ada yang berasumsi bahwa Jokowi sedang diisolasi, atau bahkan diserang oleh partainya sendiri, karena posisi Jokowi saat ini sudah masuk kategori “lame duck”.
Namun Jokowi nampaknya tak selemah yang dibayangkan. Munculnya wacana Koalisi Besar diyakini adalah salah satu upaya Jokowi untuk melakukan perlawanan terhadap segala upaya pelemahan posisi politiknya. Wacana koalisi besar ini sangat berpeluang membahayakan posisi ruling party yang dipersepsi sedang “menyerang ” Jokowi dengan narasi “Anti-Israel” di atas.
Pasalnya, koalisi besar akan sangat berpotensi mengisolasi ruling party dari elite-elite partai lainnya, sementara ruling party bukanlah kekuatan mayoritas di dalam konfigurasi demokrasi elektoral Indonesia. Karena itu, strategi isolasi ini bisa menjadi ancaman berbahaya bagi ruling party, jika terus-menerus menyudutkan Jokowi dan Istana.
Kedua, pengumpan nampaknya gagal mendeteksi kemungkinan reaksi dingin dari pihak lawan, terutama calon lawan potensial pengumpan di laga pemilihan tahun 2024 nanti. Calon presiden yang digadang-gadang didukung oleh komunitas Islam garis keras memilih bergeming, alias tidak memakan umpan.
Memang ada penolakan Israel dari beberapa komunitas Islam garis keras, tapi penolakan tersebut tidak mampu bertransformasi menjadi isu mainstream. Karena setelah pembatalan event oleh FIFA terjadi, isu penolakan justru tertimpa oleh narasi-narasi kekecewaan.
Ketiga, pengumpan juga gagal mendeteksi kemungkinan Istana yang mereka dukung selama ini akan melakukan upaya “fight back”. Dengan umpan datang dari dua gubernur yang merupakan dua kader besar di dalam partai pengumpan, pengumpan nampaknya berharap Istana akan mengikuti irama umpan karena umpannya berasal dari partai besar yang mendukung Istana selama ini.
Pada awalnya, Istana sempat memberikan reaksi positif dengan mengikuti alur cerita yang dimainkan pengumpan. Setelah dua penolakan besar muncul dari partai pengumpan, tim penyelenggara Piala Dunia U-20 membatalkan acara drawing di Bali, sebuah sinyal positif bagi pengumpan. Namun nampaknya Istana terus melakukan “assessment” dan berakhir dengan kesimpulan baru bahwa urusan Piala Dunia U-20 adalah urusan bangsa, sementara urusan umpan-mengumpan politik adalah urusan kelompok.
Walhasil, Istana lebih memilih menyelamatkan muka bangsa Indonesia. Sayang seribu sayang, upaya penyelamatan terlambat. Ketua PSSI yang diutus bertemu dengan dedengkot FIFA tidak membuahkan hasil positif. Keputusan pembatalan telah dilakukan.
Namun demikian, Istana cukup terselamatkan dengan upaya gagal tersebut karena setidaknya pemerintah masih dipandang telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah pembatalan. Sementara kemarahan publik justru berbalik arah ke arah darimana umpan berasal.
Upaya Jokowi untuk menyelamatkan status tuan rumah dalam Piala Dunia U-20 sangat bisa dipahami, bahkan perlu dipuji. Ada saatnya urusan politik dinomorduakan saat berhadapan dengan urusan negara bangsa.
Artinya, ada kalanya urusan politik tak sepenuhnya diserahkan kepada politisi, jika taruhannya ternyata adalah kepentingan bangsa. “Politics is too serious a matter to be left to the politicians,” kata negarawan asal Perancis, Charles de Gaulle yang populer dengan nama Jenderal de Gaulle.
Mengapa demikian? Karena, seperti kata politisi yang juga seorang akademisi asal lnggris, Sir Ernest Benn, “Politics is the art of looking for trouble, finding it everywhere, diagnosing it incorrectly and applying the wrong remedies”.
Nah, di saat seperti inilah orang seperti Jokowi turun tangan atas nama kepentingan bangsa dan negara.
Dan keempat, umpan atau taruhan yang diceburkan sesungguhnya terlalu besar. Menceburkan seorang gubernur yang berpotensi besar menjadi calon presiden karena tingkat elektabilitasnya tinggi, terlalu berisiko bagi partai pengumpan. Karena calon alternatif dari partai pengumpan tidak memiliki elektabilitas yang tinggi.
Kesalahan keempat ini agak bisa dipahami. Mereka menurunkan jenderal-jenderalnya agar Istana yakin bahwa mereka memang representasi suara partai pengumpan, sehingga Istana akan takut menolak isu yang mereka lemparkan alias Istana diasumsikan akan ikut dengan skenario mereka.
Tapi risikonya besar. Bahkan jika “gain” yang ingin dicapai hanya berupa “penggunaan Gelora Bung Karno,” rasanya taruhannya terlalu besar. Baik bagi calon presiden potensial dari partai pengumpan maupun nama baik Indonesia di kancah internasional, sama-sama dalam bahaya hanya karena keinginan partai pengumpan untuk mengadakan acara di Gelora Bung Karno.
Dan terakhir, pengumpan kurang berhasil membungkus umpannya dengan narasi yang tepat. Menolak Israel berlaga di Indonesia atas alasan spirit antikolonialisme jelas berbeda dengan menolak Piala Dunia U-20 diselengarakan di Indonesia. Tapi bisa bermakna sama jika tidak dijelaskan secara rinci oleh para pengumpan.
Masalahnya, kedua gubernur dari partai pengumpan hanya menyampaikan pernyataan pertama pada mulanya. Alias tak pernah menolak diadakannya Piala Dunia U-20 di Indonesia. Karena jika dielaborasi, maknanya bisa mengalami ramifikasi.
Pertama, Piala Dunia U20 tetap berlangsung di Indonesia, tapi tanpa Israel. Artinya, sebagai tuan rumah, Indonesia meminta kepada FIFA untuk mengeliminasi Israel sebagai peserta Piala Dunia U20 di Indonesia.
Kedua, jika FIFA akhirnya menolak permintaan tersebut, otomatis Indonesia harus mengevaluasi posisinya sebagai tuan rumah, apakah akan lanjut atau tidak. Dalam posisi ini, pengumpan harusnya memulai membangun narasi antipenjajahan untuk menaikkan status internasional Indonesia karena berani melawan FIFA.
Tapi agak sial memang karena penolakan kehadiran timnas Israel akhirnya bermakna sama dengan pembatalan event Piala Dunia U-20. Dan kubu pengumpan gagal mengelaborasi narasi dengan baik dan yang mudah dimengerti oleh publik.
Walhasil, granat yang dilemparkan mengenai pohon dan berbalik arah, meledak di gawang sendiri. Memang sempat muncul narasi bahwa elektabilitas Gubernur Jawa Tengah akan terganggu karena kontroversi yang ia lakukan. Boleh jadi akan sedikit mengganggu, tapi sifatnya nampaknya temporal saja.
Pendukung Ganjar Pranowo nampaknya masih tetap solid, tidak terlalu terpengaruh oleh pernyataan Anti-Israel Ganjar. Pasalnya, pertama, sebagaimana juga terjadi di Amerika, isu politik luar negeri tak terlalu berpengaruh terhadap orientasi perilaku pemilih terhadap kandidat calon presiden.
Kedua, isu semacam ini biasanya tidak berumur panjang di ruang publik, karena memori masyarakat kita pendek, jadi akan mudah tertimpa oleh isu domestik yang jauh lebih besar magnitude pengaruhnya dan jauh lebih menentukan arah perilaku pemilih kita.
Lihat saja hasil survei terbaru lembaga survei PolMark Indonesia akhir Maret 2023 kala isu riuh rendah di ruang publik, di mana nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo masih menjadi calon presiden (capres) dengan elektabilitas tertinggi pada saat ini. Dalam survei yang dilakukan PolMark, Ganjar berada di posisi atas dengan 22,3 persen yang diikuti Prabowo Subianto dengan 17,4 persen.
Semoga ini menjadi pelajaran bagi para politisi dan partai-partai politik kita ke depannya bahwa berpolitik dengan ideologi dan idealisme harus dilakukan secara matang, teliti, dan terukur, agar kepentingan negara tidak mendadak menjadi taruhan.
Namun pelajaran tersebut belum berhasil dipetik oleh sebagian pihak. Terbukti untuk gelaran ANOC World Beach Games yang akan digelar bulan Agustus 2023 nanti di Pulau Dewata, Gubernur Bali kembali menyuarakan hal yang sama, menolak kehadiran atlet Israel di event internasional itu.
Saya hanya berharap, semoga saja sikap ini tidak kembali menjadi umpan yang salah bagi yang bersangkutan dan partai yang menaunginya. Semoga!
Dikutip dari Kompas.com, Sabtu 8 April 2023.




















