Yerusalem, FusilatNews — Israel tengah menghadapi bencana alam ganda yang mengguncang wilayah tengah dan selatan negara itu. Selain kebakaran hutan hebat yang melanda kawasan perbukitan Yerusalem, badai pasir dahsyat juga menerjang Gurun Negev dan kota Beersheba, memicu kekacauan dan gangguan serius terhadap aktivitas warga sipil dan militer.
Pemerintah Israel telah mengumumkan status darurat nasional pada Rabu (30/4/2025), setelah suhu ekstrem dan angin kencang memicu kobaran api di tengah kawasan hutan kering. Lebih dari 5.000 hektar lahan dilaporkan terbakar, memaksa ribuan warga mengungsi dan akses jalan antara Tel Aviv dan Yerusalem ditutup total.
“Ini adalah salah satu kebakaran terburuk dalam satu dekade,” ujar juru bicara Dinas Pemadam Kebakaran Israel kepada Associated Press. Sedikitnya 12 orang dilarikan ke rumah sakit karena terpapar asap, sementara 20 petugas pemadam mengalami luka ringan saat berupaya mengendalikan kobaran api.
Di saat bersamaan, badai pasir raksasa menghantam wilayah selatan Israel, menyebabkan jarak pandang nyaris nol dan menghentikan sejumlah aktivitas militer. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan tentara berjuang menutup gerbang pangkalan militer di tengah gelombang debu pekat yang menyelimuti langit.
Akibat kondisi ini, pemerintah Israel membatalkan upacara Hari Kemerdekaan ke-77 yang sedianya digelar Kamis (1/5/2025). Acara kenegaraan yang biasanya berlangsung meriah itu digantikan dengan siaran rekaman untuk menghindari risiko tambahan terhadap keselamatan publik.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pengerahan penuh unit militer untuk membantu penanggulangan kebakaran, terutama di kawasan perbukitan sekitar Yerusalem yang menjadi titik api terbesar. “Kami bergerak cepat untuk melindungi warga dan infrastruktur penting negara,” katanya.
Para ahli iklim menyebutkan bahwa kombinasi suhu tinggi, curah hujan yang semakin rendah, dan pola angin tidak menentu menjadi penyebab utama meningkatnya intensitas kebakaran dan badai pasir tahun ini. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa bencana serupa akan makin sering terjadi di masa mendatang.
Sementara upaya pemadaman terus berlangsung, warga Israel kini dihantui ketidakpastian cuaca dan ancaman lingkungan yang kian ekstrem. Beberapa komunitas religius juga menyampaikan keprihatinan atas kerusakan lahan pertanian dan bangunan ibadah yang terdampak.
Israel kini menghadapi ujian besar: bukan hanya bagaimana mengendalikan bencana, tetapi juga bagaimana membangun sistem mitigasi yang lebih tangguh dalam menghadapi krisis iklim yang tak lagi bisa diabaikan.


























