Dalam konteks ketegangan antara Israel dan Iran yang semakin meningkat, terdapat pertanda yang mengisyaratkan bahwa Israel mungkin akan menghadapi kesulitan dalam mendapatkan dukungan untuk melancarkan serangan kembali terhadap Iran. Beberapa pemimpin Eropa dan Kanada telah mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap eskalasi konflik ini, bahkan meminta Iran untuk menahan diri dalam merespons serangan yang dilakukan oleh Israel. Bahkan, ada desakan untuk Israel agar tidak melakukan tindakan agresif lebih lanjut terhadap Iran.
Jepang akan terus melakukan upaya diplomasi untuk menenangkan ketegangan setelah serangan balasan Iran terhadap Israel akhir pekan lalu, kata juru bicara pemerintah paling atas pada hari Senin.
Jepang telah sangat mendesak Iran dan pihak terkait lainnya untuk menahan diri, kata Sekretaris Kabinet Utama Yoshimasa Hayashi dalam konferensi pers. “Kami akan terus melakukan semua upaya diplomasi yang diperlukan, termasuk upaya lebih lanjut di tingkat tinggi.”
Tokyo secara tradisional menjalin hubungan yang baik dengan Tehran. Sementara dukungan penuh kepada Iran, dipastikan datang dari Rusia dan China.
Perhatian internasional terhadap eskalasi konflik ini tidak terbatas hanya pada negara-negara Eropa dan Kanada. Di Amerika Serikat, sejumlah senator juga menyatakan penolakan terhadap serangan Israel ke Iran. Mereka tidak hanya menyerukan penahanan diri kepada Iran, tetapi juga menunjukkan sikap kritis terhadap tindakan agresif yang dilakukan oleh Israel. Bahkan, beberapa di antara mereka menuntut agar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mundur dari jabatannya, menganggapnya sebagai sumber masalah yang memperumit situasi di kawasan tersebut.
Dalam situasi seperti ini, dukungan internasional terhadap tindakan agresif Israel terhadap Iran semakin terkikis. Meskipun Israel telah mendapat dukungan dari Amerika Serikat dalam beberapa kesempatan terdahulu terkait kebijakan luar negerinya, namun desakan dari sejumlah negara Barat, termasuk Eropa dan Kanada, menunjukkan adanya pergeseran pandangan terhadap konflik di Timur Tengah.
Selain itu, reaksi negatif dari sejumlah senator Amerika Serikat menunjukkan adanya perpecahan dalam opini publik Amerika terkait tindakan agresif Israel. Hal ini dapat menjadi pertimbangan penting bagi pemerintah Israel dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya terkait Iran.
Keberatan dari pemimpin-pemimpin internasional ini juga mencerminkan kekhawatiran atas eskalasi konflik yang dapat berdampak negatif secara luas, baik terhadap stabilitas regional maupun hubungan internasional secara keseluruhan. Oleh karena itu, terdapat dorongan kuat untuk menemukan solusi diplomatik dalam menangani ketegangan antara Israel dan Iran.
Dalam situasi ini, langkah-langkah pencegahan dan diplomasi tampaknya menjadi pilihan yang lebih diutamakan oleh sebagian besar aktor internasional. Israel kemungkinan akan menghadapi tekanan lebih lanjut untuk menahan diri dan mencari solusi damai dalam menangani ketegangan dengan Iran.
























