Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah apa maksud sesungguhnya dari Presiden Prabowo Subianto, sehingga ia ngotot mau menampung dan mengobati warga Gaza, Palestina, yang terluka akibat serangan tentara Israel, di Pulau Galang, Kepulauan Riau.
Israel yang menyakiti, Indonesia yang harus mengobati. Kok bisa?
Mungkin Prabowo bermaksud melaksanakan amanat konstitusi, yakni “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, sebagaimana termaktub dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Atau mungkin pula Prabowo punya “hidden agenda” (agenda terselubung) bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bahkan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Nentanyahu untuk mengusir warga Gaza keluar dari Palestina.
Semua masih gelap. Ambigu. Nisbi. Prabowo mungkin punya maksud ganda.
Sebab, yang akan diuntungkan dari rencana Prabowo itu adalah AS dan Israel yang memang mau mengosongkan Kota Gaza dan mengusir warga Palestina dari tanah airnya itu.
Warga Gaza mungkin diuntungkan. Tapi apakah tidak lebih diuntungkan jika mereka diobati di tanahnya sendiri?
Jika Indonesia mengevakuasi warga Gaza yang terluka ke Pulau Galang, maka itu sejalan dengan skenario AS dan Israel yang akan mencaplok wilayah Gaza.
Pertanyaannya, apakah rencana Prabowo itu diam-diam merupakan hasil kesepakatan dengan Trump saat mereka berunding soal tarif perdagangan, di mana akhirnya disepakati barang dari Indonesia yang masuk AS akan dikenakan tarif 19 persen, sementara barang asal AS yang masuk Indonesia akan dikenakan tarif 0 persen?
Jika ini yang terjadi, maka Indonesia akan menjadi antek-antek AS dan zionis Israel.
Pertanyaan berikutnya, ketika nanti warga Gaza yang terluka, diproyeksikan dua ribu orang, diobati di Pulau Galang, setelah sembuh apakah mereka akan diperbolehkan AS dan Israel kembali ke Gaza?
Sepertinya tidak. Sebab, sejak awal AS dan Israel memang berniat menduduki dan menguasai wilayah Gaza. Rakyat Palestina di kota itu pun harus diusir.
Wong Legan Golek Momongan
Prabowo pun ibarat “wong legan golek momongan” (orang lajang mencari anak asuh) yang justru akan merepotkan diri sendiri.
Sok-sokan. Gaya-gayaan. Padahal banyak masalah domestik yang harus ditangani Prabowo. Mulai dari pengangguran, pemutusan hubungan kerja, hingga kemiskinan akut.
Mengapa Prabowo justru mengambil alih atau “take over” masalah di Gaza?
Alih-alih membantu rakyat Palestina, Prabowo justru membantu AS dan Israel untuk mengosongkan wilayah Gaza dari warga Palestina. Selanjutnya Gaza akan diduduki AS dan Israel.
Apakah Prabowo sudah frustrasi dan kehilangan akal sehat untuk membantu rakyat Palestina?
Banyak opsi membantu rakyat Palestina, tak harus mengevakuasi warga Gaza ke Pulau Galang. Diplomasi, misalnya. Lalu bantuan kemanusiaan.
Mengapa warga Gaza harus diobati di Pulau Galang, bukannya dokternya yang harus datang ke Gaza untuk mengobati warga Palestina yang terluka akibat terjangan senjata tentara Israel?
Jangan-jangan Prabowo kongkalikong dengan AS dan Israel.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















