• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades! 

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
January 19, 2023
in Feature
0
Indonesia Negeri Para Bedebah
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Harta, takhta wanita. Harta mudah mendatangkan takhta. Takhta pun mudah mendatangkan harta. Harta dan/atau takhta mudah mendatangkan wanita.

Itulah obsesi nyaris semua makhluk bernama manusia (dalam hal ini laki-laki). Kaya-raya, punya jabatan empuk, punya istri cantik, syukur-syukur lebih dari seorang.

Untuk itulah kebanyakan manusia berjuang atau berusaha mati-matian demi mendapatkan harta dan takhta. 

Di sisi lain, setiap manusia punya kehendak untuk berkuasa, seperti disebut Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) sebagai “the will to power”. Dalam diri setiap manusia ada insting atau naluri atau kehendak untuk berkuasa. Tak terkecuali seseorang yang kemudian terpilih menjadi kepala desa.

Bila dahulu kala perebutan takhta dilakukan melalui peperangan atau pertarungan, di zaman modern ini dilakukan melalui pemilihan umum/pemilihan presiden/pemilihan kepala daerah/pemilihan kepala desa. Ini dalam konteks Indonesia. Semua diatur dengan regulasi atau hukum.

Dengan “the will to power”-nya tadi, seseorang mencalonkan diri menjadi kades. Tak peduli gaji seorang kades itu berapa. Yang penting bisa berkuasa. Saat ini gaji kades sekitar Rp2,5 juta per bulan. Bandingkan dengan biaya pilkades, baik untuk “political cost” (ongkos politik) seperti biaya pendaftaran, biaya kampanye dan pemasangan alat peraga, maupun untuk “money politics” (politik uang) atau “serangan fajar” yang nominalnya bisa tak terhingga. 

Rerata seorang kades terpilih di Pulau Jawa merogoh kocek hingga Rp1 miliar. Jadi, jika kades tidak korupsi atau melakukan pungutan liar (pungli), dalam masa jabatan 6 tahun, nyaris dapat dipastikan tidak akan balik modal.

Sebab itulah, Selasa (17/1/2023) kemarin para kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia berunjuk rasa di DPR RI, Senayan, Jakarta. Tuntutan utama mereka: perpanjang masa jabatan kades dari 6 menjadi 9 tahun.

Dalih mereka pun jenaka. Pertama, durasi 6 tahun tidak cukup untuk menuntaskan program-program kades. Kedua, durasi 6 tahun tidak cukup untuk menyelesaikan “konflik” dengan calon kepala desa yang dikalahkan.

Di sinilah akal sehat manusia waras seakan tertampar. Program bisa dibuat dan dibuat-buat, sehingga jangankan 6 tahun, 9 tahun pun bisa tidak tuntas. 

Enam tahun tidak cukup untuk rekonsiliasi? Kalau memang tidak bisa rekonsiliasi, serahkan ke mekanisme hukum, karena negara ini negara hukum. Simpel. Sederhana.

Mungkin yang seseungguhnya menggelegak dalam benak mereka adalah syahwat kekuasaan, kehendak berkuasa. Sebab takhta mudah mendatangkan harta. Mereka tergiur dengan gemerincing dana desa yang mencapai sekitar Rp1 miliar per desa per tahun. Terbukti, sudah banyak kades dan mantan kades dibui karena terlibat korupsi.

Terbukti pula, banyak kades yang terlibat affair dengan wanita lain. Kekuasaan itu memabukkan, Pak Kades!

Ya, kekuasaan bisa menghilangkan akal sehat laiknya orang sedang mabuk, sehingga Pak Kades lepas kontrol. Kekuasaan juga bisa menjadikan Pak Kades mabuk kepayang.

Simbiose Mutualisme

Mungkin ada pertanyaan, kalau memang usulan perpanjangan masa jabatan kades dari 6 menjadi 9 tahun melawan akal sehat, lalu mengapa fraksi-fraksi atau partai-partai di DPR mau menerima dan kemudian setuju?

Jawabnya, politik dan kekuasaan kerap kali memiliki logikanya sendiri, yakni logika kekuasaan, yang tidak jarang bertentangan dengan akal sehat. Aku punya kuasa (otoritas), kamu mau apa? Demikianlah logika kekuasaan, misalnya.

DPR oleh konstitusi diberikan 3 fungsi, yakni legislasi (membuat undang-undang bersama Presiden), budgeting (menyusun anggaran), dan melakukan pengawasan terhadap pemerimtah. 

Untuk memperpanjang masa jabatan kades harus dilakukan dengan merevisi Pasal 39 Undang-Undang (UU) No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Jadi, langkah para kepala desa minta revisi UU Desa ke DPR sudah tepat sasaran.

Apalagi saat ini menjelang Pemilu 2024. Parpol-parpol butuh kades yang dapat mereka manfaatkan sebagai pengondisi perolehan suara. Kades adalah orang yang sangat berpengaruh di desanya, sehingga bisa mengondisikan keadaan.

Politik adalah kepentingan. Di sinilah kepentingan kades bertemu dengan kepentingan anggota DPR. Kades butuh perpanjangan jabatan, DPR butuh terpilih kembali. “Ente jual, ane beli,” kata orang Betawi. 

Di sinilah terjadi simbiose mutualisme.

Sebab itu, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar yang tak lain adalah politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terlihat sangat getol “memprovokasi” kades-kades agar menuntut perpanjangan masa jabatan.

Gayung bersambut. DPR setuju, tinggal menggelar rapat paripurna untuk mengesahkan revisi Pasal 39 UU Desa untuk memperpanjang masa jabatan kades dari 6 menjadi 9 tahun. Presiden Joko Widodo pun, menurut klaim politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko yang juga getol memperjuangkan perpanjangan jabatan kades, setuju. Dus, perpanjangan masa jabatan kades pun tinggal ketuk palu.

Kini, dalam hati para kades yang Selasa lalu berdemo di DPR mungkin senyum-senyum sambil bergumam, “Ngomong apa sampeyan. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Sampeyan ngomong akal sehat karena belum berkuasa. Kalau sudah berkuasa dan merasakan nikmatnya, akan lain ceritanya.”

Duh, kekuasaan memang memabukkan, ternyata. Akhirnya, berlakulah hukum Newton I: setiap benda cenderung mempertahankan kedudukannya.

Setiap kades (dan pejabat lainnya) cenderung mempertahankan kekuasaannya. Itulah!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PEMBERLAKUAN REZIM KARBON EROPA

Next Post

Wow Fantastis!!! Total Utang Global Rp4.524 Juta Triliun, Per Orang Utang Rp557 Juta

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
UTANG ITU BAK PISAU YG TAJAM

Wow Fantastis!!! Total Utang Global Rp4.524 Juta Triliun, Per Orang Utang Rp557 Juta

Komnas HAM: Korban Pelanggaran HAM Berat Capai 6 Ribu Orang, Kok Bisa?

Degradasi Pelanggaran HAM Berat dalam KUHP Baru

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist