Fusilatnews – Setiap musim haji tiba, euforia spiritual meledak di ruang-ruang sosial kita. Foto-foto orang bersorban putih, cerita dramatis “akhirnya berangkat juga”, hingga narasi heroik menaklukkan Tanah Suci, tumpah ruah menjadi perayaan publik. Padahal, sebagaimana disitir almarhum Buya Syakur, haji sepatutnya tak perlu didramatisir. “Ia tak ubahnya hanya peristiwa napak tilas,” katanya. Bukan puncak kemuliaan iman, apalagi prestasi hidup.
Namun, kita terlanjur menempatkan haji sebagai mahkota keberislaman. Seolah gelar “Haji” adalah piagam sosial, bukan panggilan spiritual. Bahkan dalam banyak kasus, naik haji telah menjadi batu loncatan untuk peningkatan status: dari “Pak RT” menjadi “Pak Haji”, dari “tetangga biasa” menjadi “tokoh agama lokal”.
Mungkin inilah ironi Islam kontemporer kita. Misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang sejatinya sederhana — “Innama bu’istu li utammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak) — terkubur di balik atribut-atribut ibadah yang dibalut ego simbolik. Padahal, inti dari semua ritual Islam, termasuk haji, adalah akhlak. Bukan kesalehan yang dipamerkan, melainkan kesalehan yang dirasakan oleh orang lain melalui perilaku kita.
Mari kita bicara apa adanya: Berapa banyak orang berhaji, tapi tetap culas dalam bisnis? Berapa banyak yang sudah menjejak Jabal Rahmah, tapi tetap kasar kepada istri? Berapa banyak yang pulang haji, tapi jadi sumber perpecahan di masjid karena merasa lebih tahu dari yang lain?
Napak tilas Ibrahim AS bukanlah panggung teatrikal. Ia bukan sekadar mengenakan ihram, bertalbiyah sambil selfie, atau menangis di depan Ka’bah lalu kembali ke tanah air tanpa transformasi akhlak. Ibrahim justru mengajarkan keikhlasan yang sunyi, pengorbanan yang tak bernarasi, dan tauhid yang tanpa perayaan.
Maka benar apa yang disampaikan Buya Syakur: jangan mendramatisir haji. Ia bukan pertunjukan spiritual, melainkan peristiwa internal yang mestinya meluruhkan ego. Jika pulang dari haji lantas menjadikan kita lebih tinggi dari yang belum, mungkin yang kita jalani bukan haji, tapi hanya perjalanan mewah ke Arab Saudi.
Akhirul kalam, kemuliaan seorang muslim tidak ditentukan dari berapa kali ia ke Makkah, tetapi sejauh mana ia menghadirkan Makkah dalam dirinya — dalam sabarnya, jujurnya, kasih sayangnya, dan keberpihakannya pada yang lemah.
Karena pada akhirnya, yang paling “haji” dari seorang muslim, adalah akhlaknya.






















