“Even the dead fish can go with the flow”
Di sungai deras bernama kekuasaan, hanya ikan mati yang larut-hanyut tanpa arah. Mereka tampak bergerak, padahal tak berenang. Tampak hidup, padahal sejatinya sudah tak punya nyawa berpikir. Bahkan dalam riak kedunguan sekalipun, mereka hanyut penuh keyakinan. Seperti itulah gambaran para pendukung Jokowi hari ini.
Dulu, mereka berdiri dengan dada tegak. Mengusung jargon perubahan, menyebut diri pembaru, anti-korupsi, pro-rakyat kecil, dan mewakili harapan kaum waras. Tapi satu dekade kekuasaan mengubah banyak hal. Kini, mereka tersesat dalam narasi-narasi palsu yang mereka ciptakan sendiri. Membenarkan segala yang salah, membungkam segala yang kritis, dan mengemas kemunduran sebagai kemajuan. Dengan bangga mereka menepuk dada, meski tanah di bawahnya telah retak oleh utang, nepotisme, dan pelecehan terhadap hukum.
Setiap kritik dianggap ancaman. Setiap pertanyaan dicurigai sebagai kebencian. Ketika presiden mulai menjadikan keluarganya poros kekuasaan, mereka bersorak. Ketika hukum ditekuk untuk kepentingan istana, mereka tertawa. Ketika demokrasi dikerdilkan oleh permainan elite, mereka berkata: “Itulah kehendak rakyat.”
Mereka tak lagi berpikir. Mereka hanya mengikuti. Seperti ikan mati, yang bergerak bukan karena daya, tapi karena terbawa arus. Bahkan ketika arus itu berasal dari kubangan dangkal penuh lumpur kebohongan dan pembodohan.
Bukan karena mereka bodoh. Tapi karena mereka memilih untuk tak berpikir. Kebenaran tak lagi penting. Yang utama: siapa yang sedang berkuasa. Maka ketika kekuasaan bicara, mereka mengangguk. Ketika kekuasaan bergeser, mereka pindah arah. Mereka tak punya kompas, tak punya kedalaman. Hanya reaksi, hanya gema.
Di negeri ini, kedunguan bukan lagi aib. Ia berubah jadi modal sosial. Siapa yang paling pasrah, paling rela ditipu, justru dianggap paling setia. Siapa yang berani melawan, dianggap pembuat gaduh. Rasionalitas dimusuhi, kesetiaan buta dipuja. Itulah zaman di mana bangkai dianggap pionir.
“Even the dead fish can go with the flow.” Ya, bahkan ikan mati pun bisa larut. Dan di tengah perayaan kekuasaan yang membungkus kemunduran dengan baliho senyum presiden, kita pun bertanya: berapa banyak dari kita yang masih hidup?
Atau jangan-jangan, kita semua sudah jadi ikan mati di tengah arus kedunguan?






















