• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Apa Itu “Kepala Negara Can Do No Wrong” dan “Presiden Might Be Wrong”.

Ali Syarief by Ali Syarief
May 3, 2025
in Feature, Politik
0
Presiden Berencana Luncurkan Sejumlah Program Pada Momen Hardiknas
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, tidak ada penjelasan eksplisit dalam konstitusi yang membedakan peran Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Fungsi ganda ini menyatu dalam sosok Presiden, menciptakan ruang tafsir yang luas sekaligus celah kekuasaan yang rawan disalahgunakan—terutama ketika kritik dianggap serangan terhadap simbol negara.

Kepala Negara Can Do No Wrong

Dalam teori negara klasik, adagium “The King Can Do No Wrong” menjadi prinsip dasar hukum tata negara monarki. Raja sebagai simbol negara diposisikan tak tersentuh hukum. Ia bukan sekadar pemimpin administratif, melainkan lambang kontinuitas negara yang tak boleh cacat. Ketika konstitusi modern mengambil alih, terutama dalam sistem parlementer seperti Inggris, adagium ini mengalami penyesuaian. Kepala negara—bukan kepala pemerintahan—tetap dianggap suci dari kesalahan.

Dalam konteks republik seperti Indonesia, fungsi kepala negara dan kepala pemerintahan menyatu dalam satu figur: presiden. Namun dalam praksis, publik kerap menyematkan dua wajah ini secara terpisah. Ketika presiden membuka acara kenegaraan, mengenakan jas resmi, menyanyikan lagu kebangsaan, ia dianggap sebagai lambang negara. Tetapi ketika ia menetapkan kebijakan yang kontroversial, publik menghadapinya sebagai kepala pemerintahan.

Dalam narasi kekuasaan hari ini, adagium “Kepala Negara Tidak Bisa Bersalah” sering digunakan untuk menutup kritik. Kritik dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol negara. Padahal, percampuran antara figur presiden sebagai kepala negara dan sebagai eksekutor kebijakan seringkali menjadi ruang nyaman untuk bersembunyi dari tanggung jawab.

Celakanya, pembelaan terhadap pemimpin sebagai “lambang negara” membuat masyarakat kehilangan daya koreksi. Kritik dituding subversif, protes dicap makar. Seolah negara harus dipertahankan dari rakyatnya sendiri. Di sinilah adagium itu menjelma jadi alat kekuasaan: bukan untuk menjaga marwah negara, melainkan melindungi kekuasaan dari akuntabilitas.

Presiden Might Be Wrong

Di tengah demokrasi yang sehat, adagium baru seharusnya berlaku: Presiden bisa salah. Bahkan, presiden harus dikritik ketika salah. Demokrasi tak mengenal manusia suci. Tak ada yang kebal koreksi, bahkan presiden sekalipun.

Salah satu tugas utama masyarakat sipil adalah mengawasi kekuasaan. Presiden, dalam fungsi kesehariannya, adalah eksekutor dari mandat rakyat. Ia bukan raja, bukan nabi, bukan makhluk sempurna. Ia adalah pejabat publik dengan gaji dari pajak. Maka, pertanggungjawaban adalah keniscayaan, bukan pilihan.

Presiden bisa salah memilih menteri, salah membaca krisis, salah mengutamakan proyek, atau bahkan salah memahami hukum. Justru di situlah pentingnya institusi demokratis—media bebas, parlemen kritis, dan masyarakat yang berani bersuara.

Ketika seorang presiden lebih sibuk membangun ibu kota baru ketimbang memperbaiki pendidikan, itu bukan sikap kepala negara yang visioner—melainkan kepala pemerintahan yang keliru prioritas. Ketika presiden membiarkan anak-anaknya menduduki posisi strategis, itu bukan keteladanan—melainkan nepotisme. Ketika aparat digunakan untuk membungkam kritik, itu bukan perlindungan terhadap negara—melainkan represi atas nama negara.

Maka, tugas warga negara bukan hanya berdiri di samping simbol-simbol negara, tetapi juga berdiri di depan kekuasaan yang menyimpang. Sebab dalam republik, rakyat adalah pemilik kedaulatan, bukan presiden.

Epilog

Antara adagium klasik dan prinsip demokrasi modern, terbentang garis tipis: antara hormat terhadap negara dan pengawasan terhadap kekuasaan. Di titik ini, kita harus memilih: apakah ingin terus memelihara mitos bahwa pemimpin tak bisa disalahkan, atau berani mengakui bahwa bahkan seorang presiden pun bisa—dan harus—dikritik ketika ia salah.

Karena dalam republik, kesalahan terbesar adalah menganggap kekuasaan tak bisa salah.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hendardi: TNI Tak Boleh Jadi Alat Politik Kekuasaan

Next Post

DATA PRIBADI SPESIFIK & UMUM : Polemik Ijazah Presiden VII Joko Widodo

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai
Economy

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026
Economy

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Next Post
DATA PRIBADI SPESIFIK & UMUM : Polemik Ijazah Presiden VII Joko Widodo

DATA PRIBADI SPESIFIK & UMUM : Polemik Ijazah Presiden VII Joko Widodo

Tak Satu Pun Pasal Bisa Menghukum Mereka yang Taat pada Perintah UU

Tak Satu Pun Pasal Bisa Menghukum Mereka yang Taat pada Perintah UU

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...