Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Mengapa Soekarno jatuh di tengah jalan? Salah satunya karena ia terjebak kultus individu. Proklamator RI sekaligus Presiden I RI ini terlena dan terninabobokkan oleh puja-puji para pendukungnya yang mengultuskan bahkan menjilati dirinya. Misalnya, Bung Karno digelari presiden seumur hidup. Bung Karno digelari pemimpin besar revolusi.
Akibatnya, ayah dari Megawati Soekarnoputri ini lupa daratan. Lupa pula mengurus ekonomi negara. Krisis ekonomi kemudian bercampur dengan krisis politik. Lalu terjerembablah si Bung.
Soharto pun setali tiga uang. Ia terjerembab di tengah jalan. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah ia terjebak kultus individu. Banyak orang-orang di sekelilingnya yang menjilat dia.
Ketika pada 1997, Harmoko, Ketua DPR/MPR RI sekaligus Ketua Umum Golkar, melaporkan kepada Pak Harto bahwa setelah dirinya “anjajah desa milang kori” (blusukan ke desa-desa dan keluar masuk dari pintu ke pintu) mayoritas rakyat mendukungnya, maka Pak Harto bersedia dicalonkan kembali menjadi Presiden RI dalam Sidang Umum MPR 1998. Kali ini untuk periode ke tujuh. Pak Harto terbuai. Pak Harto terlena. Akhirnya, hanya berselang dua bulan sejak dilantik pada 11 Maret 1998, tiba-tiba Pak Harto dipaksa rakyat untuk mundur. Penguasa rezim Orde Baru ini pun menyatakan berhenti dari jabatan Presiden pada 21 Mei 1998 setelah 32 tahun berkuasa.
Presiden-presiden berikutnya pun tak luput dari jebakan kultus individu meskipun tak sampai jatuh dari singgasana kekuasaan.
Sebut saja Joko Widodo. Masyarakat Kabupaten Karo, Sumatera Utara, membangun patung Presiden ke-7 RI itu di Liang Melas Datas tahun 2023 lalu. Patung setinggi 7,5 meter ini merupakan wujud rasa terima kasih masyarakat Karo karena Jokowi telah mempercepat pembangunan di kabupaten penghasil buah jeruk ini.
Tidak itu saja. Para pendukungnya juga melontarkan gagasan Jokowinomics atau mazhab ekonomi Jokowi.
Jokowinomics menggambarkan gaya kebijakan ekonomi wong Solo itu. Jokowi hendak menciptakan kesejahteraan ekonomi yang lebih merata melalui pembangunan infrastruktur fisik.
Ah, seandainya Jokowi tidak menikmati kultus individu itu, niscaya ia akan melarang masyarakat Karo membangun patung dirinya. Ia mestinya berpesan, silakan bangun patung saya, tapi setelah saya meninggal dunia, ya?
Prabowo Subianto pun sepertinya terjebak kultus individu sebagaimana Jokowi. Presiden ke-8 RI ini berjanji akan menggunakan mazhab Jokowinomics dalam pemerintahannya.
Tidak itu saja. Prabowo juga membiarkan para pendukungnya seperti Fahri Hamzah menjilat dirinya. Fahri bersama murid-murid Soemitro Djojohadikusumo lainnya, misalnya, awal bulan Juni ini melakukan soft launching Soemitro Institute. Tujuannya, menghidupkan kembali pemikiran ayah Prabowo yang dikenal sebagai begawan ekonomi Indonesia ini.
Adapun mazhab Soemitronomics adalah sosialisme-nasionalis. Mazhab Soemitro ini kini banyak dipakai Prabowo dalam kebijakan-kebijakan ekonominya. Misalnya, Makan Bergizi Gratis (MBG)!
Senyampang masih berkuasa, Prabowo juga mencoba mengultuskan keluarganya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau tidak gue, siapa lagi?
Dalam kunjungan kerjanya ke Singapura, Minggu (15/6/2025), misalnya, Prabowo mengabadikan nama ibunya sebagai nama bunga Anggrek di Singapura. Bunga Anggrek itu kemudian menjadi bernama “Paraphalante Dora Sigar Soemitro”. Dora Sigar adalah nama ibu kandung Prabowo dalam pernikahannya dengan Soemitro.
Penamaan Anggrek itu menjadi salah satu rangkaian kunjungan kenegaraan Prabowo di Parliament House, Singapura.
Diplomasi Anggrek ini menjadi tradisi Singapura untuk menandai hubungan bilateral dengan pemimpin-pemimpin negara lainnya.
Pertanyaanya, kalau para pemimpin sibuk narsis sedemikian rupa, dan terjebak kultus individu atau mengultuskan orang lain, lalu bagaimana nasib bangsa ini, apakah tidak akan “terlantar”?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)


















