Ada sesuatu yang janggal ketika wacana tentang Islam di tingkat global selalu berputar pada satu kata: jihad. Lebih janggal lagi ketika kata itu hampir selalu diterjemahkan secara tunggal—perang, kekerasan, ancaman.
Narasi ini bukan lahir dari ruang hampa. Ia diproduksi, direproduksi, dan disebarkan dengan pola yang nyaris identik: kutip teks klasik, tampilkan tokoh-tokoh besar seperti Ibn Taymiyya atau Ibn Khaldun, lalu simpulkan bahwa Islam memiliki watak inheren yang agresif.
Sekilas tampak akademik. Padahal jika ditelisik lebih dalam, ini adalah arsitektur narasi—bukan untuk memahami Islam, tetapi untuk mengendalikannya.
Dari Timur Tengah ke Jakarta: Narasi yang Diimpor
Indonesia bukan ruang yang steril dari narasi global. Apa yang diproduksi di Barat tentang Islam dengan cepat menemukan jalannya ke ruang publik kita—melalui media, lembaga riset, bahkan kebijakan.
Ketika Islam direduksi menjadi ancaman global, dampaknya tidak berhenti di Washington atau Brussel. Ia merembes ke Jakarta, ke ruang-ruang diskusi, bahkan ke cara negara memandang warganya sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat bagaimana label “radikal” menjadi alat politik yang elastis. Ia bisa diperluas, dipersempit, atau diarahkan sesuai kebutuhan kekuasaan.
Dan di titik ini, narasi global tentang jihad menemukan fungsinya di tingkat lokal.
Islamofobia: Industri yang Menguntungkan
Mari kita sebut apa adanya: Islamofobia bukan sekadar prasangka. Ia telah menjadi industri—dengan kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan.
Di tingkat global, narasi ancaman Islam:
- Membenarkan anggaran militer yang besar
- Melegitimasi intervensi di negara-negara Muslim
- Mengalihkan perhatian dari konflik yang lebih kompleks menjadi sekadar “perang melawan teror”
Dalam kerangka ini, jihad bukan lagi konsep teologis. Ia adalah komoditas politik.
Standar Ganda yang Terlalu Nyata
Jika kita jujur, dunia tidak kekurangan teks keagamaan atau ideologi yang pernah digunakan untuk membenarkan kekerasan.
Namun hanya pada Islam, teks-teks itu terus diangkat seolah-olah ia adalah representasi tunggal umatnya hari ini.
Tidak ada yang secara serius menyimpulkan bahwa dunia Barat modern identik dengan Perang Salib.
Tidak ada yang menyebut demokrasi sebagai sistem kekerasan hanya karena sejarah kolonialisme.
Tetapi pada Islam, generalisasi semacam itu bukan hanya diterima—ia dipelihara.
Indonesia: Antara Mayoritas dan Kecurigaan
Ironinya, di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, umat Islam justru sering ditempatkan dalam posisi defensif di ruang wacana.
Kesalehan bisa dicurigai.
Simbol keagamaan bisa dipolitisasi.
Bahkan ekspresi keislaman tertentu bisa dengan mudah dilabeli sebagai ancaman.
Pertanyaannya: apakah ini murni dinamika internal? Atau bagian dari resonansi narasi global yang telah lebih dulu membingkai Islam sebagai masalah?
Jihad yang Direbut Maknanya
Dalam tradisi Islamic jurisprudence dan Islamic theology, jihad tidak pernah tunggal. Ia adalah konsep yang hidup dalam tafsir, dalam konteks, dalam dinamika zaman.
Namun hari ini, makna itu direbut.
Direbut oleh kelompok ekstrem yang menjadikannya legitimasi kekerasan.
Direbut pula oleh narasi global yang menjadikannya alat stigmatisasi.
Di antara dua ekstrem ini, mayoritas umat Islam—yang hidup biasa, damai, dan produktif—justru tidak terdengar.
Geopolitik di Balik Moralitas
Narasi tentang jihad sebagai ancaman sering dibungkus dengan bahasa moral: keamanan, stabilitas, perdamaian.
Namun di balik itu, ada realitas geopolitik yang tidak bisa diabaikan.
Dunia Muslim adalah kawasan dengan:
- Sumber daya energi terbesar
- Posisi strategis dalam jalur perdagangan global
- Dinamika politik yang kompleks
Dalam konteks ini, membingkai Islam sebagai ancaman bukan hanya soal persepsi—tetapi juga soal kepentingan.
Menolak Menjadi Objek Narasi
Sebagai jurnalis Muslim di Indonesia, saya melihat satu hal yang harus diwaspadai: kita terlalu sering menjadi konsumen narasi, bukan produsen.
Kita mengulang apa yang dikatakan tentang kita, tanpa menguji, tanpa membongkar, tanpa melawan.
Padahal tugas jurnalisme bukan sekadar menyampaikan, tetapi juga mempertanyakan:
Siapa yang berbicara?
Untuk kepentingan siapa?
Dan apa yang sengaja tidak dikatakan?
Penutup: Mengembalikan Kompleksitas
Menyederhanakan Islam menjadi kekerasan adalah kemalasan intelektual.
Tetapi membiarkannya tanpa kritik adalah kelalaian moral.
Jihad, seperti banyak konsep besar dalam agama, tidak bisa dipahami dengan potongan teks dan kesimpulan cepat.
Ia harus dibaca dengan sejarah, dengan konteks, dengan kejujuran.
Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh narasi ketakutan, mungkin tugas kita yang paling mendesak bukanlah membela—tetapi meluruskan.
Karena kebenaran tidak pernah lahir dari suara yang paling keras,
melainkan dari keberanian untuk mengatakan:
ini lebih rumit dari yang mereka ceritakan.






















