• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Jihad, Islamofobia, dan Politik Kekuasaan: Membaca Ulang Narasi yang Sengaja Disederhanakan

Ali Syarief by Ali Syarief
May 6, 2026
in Cross Cultural, Feature
0
Jihad, Islamofobia, dan Politik Kekuasaan: Membaca Ulang Narasi yang Sengaja Disederhanakan
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang janggal ketika wacana tentang Islam di tingkat global selalu berputar pada satu kata: jihad. Lebih janggal lagi ketika kata itu hampir selalu diterjemahkan secara tunggal—perang, kekerasan, ancaman.

Narasi ini bukan lahir dari ruang hampa. Ia diproduksi, direproduksi, dan disebarkan dengan pola yang nyaris identik: kutip teks klasik, tampilkan tokoh-tokoh besar seperti Ibn Taymiyya atau Ibn Khaldun, lalu simpulkan bahwa Islam memiliki watak inheren yang agresif.

Sekilas tampak akademik. Padahal jika ditelisik lebih dalam, ini adalah arsitektur narasi—bukan untuk memahami Islam, tetapi untuk mengendalikannya.


Dari Timur Tengah ke Jakarta: Narasi yang Diimpor

Indonesia bukan ruang yang steril dari narasi global. Apa yang diproduksi di Barat tentang Islam dengan cepat menemukan jalannya ke ruang publik kita—melalui media, lembaga riset, bahkan kebijakan.

Ketika Islam direduksi menjadi ancaman global, dampaknya tidak berhenti di Washington atau Brussel. Ia merembes ke Jakarta, ke ruang-ruang diskusi, bahkan ke cara negara memandang warganya sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat bagaimana label “radikal” menjadi alat politik yang elastis. Ia bisa diperluas, dipersempit, atau diarahkan sesuai kebutuhan kekuasaan.

Dan di titik ini, narasi global tentang jihad menemukan fungsinya di tingkat lokal.


Islamofobia: Industri yang Menguntungkan

Mari kita sebut apa adanya: Islamofobia bukan sekadar prasangka. Ia telah menjadi industri—dengan kepentingan ekonomi, politik, dan keamanan.

Di tingkat global, narasi ancaman Islam:

  • Membenarkan anggaran militer yang besar
  • Melegitimasi intervensi di negara-negara Muslim
  • Mengalihkan perhatian dari konflik yang lebih kompleks menjadi sekadar “perang melawan teror”

Dalam kerangka ini, jihad bukan lagi konsep teologis. Ia adalah komoditas politik.


Standar Ganda yang Terlalu Nyata

Jika kita jujur, dunia tidak kekurangan teks keagamaan atau ideologi yang pernah digunakan untuk membenarkan kekerasan.

Namun hanya pada Islam, teks-teks itu terus diangkat seolah-olah ia adalah representasi tunggal umatnya hari ini.

Tidak ada yang secara serius menyimpulkan bahwa dunia Barat modern identik dengan Perang Salib.
Tidak ada yang menyebut demokrasi sebagai sistem kekerasan hanya karena sejarah kolonialisme.

Tetapi pada Islam, generalisasi semacam itu bukan hanya diterima—ia dipelihara.


Indonesia: Antara Mayoritas dan Kecurigaan

Ironinya, di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, umat Islam justru sering ditempatkan dalam posisi defensif di ruang wacana.

Kesalehan bisa dicurigai.
Simbol keagamaan bisa dipolitisasi.
Bahkan ekspresi keislaman tertentu bisa dengan mudah dilabeli sebagai ancaman.

Pertanyaannya: apakah ini murni dinamika internal? Atau bagian dari resonansi narasi global yang telah lebih dulu membingkai Islam sebagai masalah?


Jihad yang Direbut Maknanya

Dalam tradisi Islamic jurisprudence dan Islamic theology, jihad tidak pernah tunggal. Ia adalah konsep yang hidup dalam tafsir, dalam konteks, dalam dinamika zaman.

Namun hari ini, makna itu direbut.

Direbut oleh kelompok ekstrem yang menjadikannya legitimasi kekerasan.
Direbut pula oleh narasi global yang menjadikannya alat stigmatisasi.

Di antara dua ekstrem ini, mayoritas umat Islam—yang hidup biasa, damai, dan produktif—justru tidak terdengar.


Geopolitik di Balik Moralitas

Narasi tentang jihad sebagai ancaman sering dibungkus dengan bahasa moral: keamanan, stabilitas, perdamaian.

Namun di balik itu, ada realitas geopolitik yang tidak bisa diabaikan.

Dunia Muslim adalah kawasan dengan:

  • Sumber daya energi terbesar
  • Posisi strategis dalam jalur perdagangan global
  • Dinamika politik yang kompleks

Dalam konteks ini, membingkai Islam sebagai ancaman bukan hanya soal persepsi—tetapi juga soal kepentingan.


Menolak Menjadi Objek Narasi

Sebagai jurnalis Muslim di Indonesia, saya melihat satu hal yang harus diwaspadai: kita terlalu sering menjadi konsumen narasi, bukan produsen.

Kita mengulang apa yang dikatakan tentang kita, tanpa menguji, tanpa membongkar, tanpa melawan.

Padahal tugas jurnalisme bukan sekadar menyampaikan, tetapi juga mempertanyakan:
Siapa yang berbicara?
Untuk kepentingan siapa?
Dan apa yang sengaja tidak dikatakan?


Penutup: Mengembalikan Kompleksitas

Menyederhanakan Islam menjadi kekerasan adalah kemalasan intelektual.
Tetapi membiarkannya tanpa kritik adalah kelalaian moral.

Jihad, seperti banyak konsep besar dalam agama, tidak bisa dipahami dengan potongan teks dan kesimpulan cepat.

Ia harus dibaca dengan sejarah, dengan konteks, dengan kejujuran.

Dan di tengah dunia yang semakin bising oleh narasi ketakutan, mungkin tugas kita yang paling mendesak bukanlah membela—tetapi meluruskan.

Karena kebenaran tidak pernah lahir dari suara yang paling keras,
melainkan dari keberanian untuk mengatakan:
ini lebih rumit dari yang mereka ceritakan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

USA vs Tiongkok: Ketika Kapital Mengendalikan Negara, dan Negara Mengendalikan Kapital

Next Post

Tipu Daya Tak Abadi: Ijazah dan Krisis Kepercayaan Publik

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Revolusi Bermula dari Film!
Feature

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026
Feature

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026
Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo
Birokrasi

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Next Post
Dalih Sosok Manusia Pendusta; “Tidak Wajib Memperlihatkan Ijazahnya”

Tipu Daya Tak Abadi: Ijazah dan Krisis Kepercayaan Publik

Copot PIN Menteri, Bahlil Tantang Mahasiswa

Negara Sudah Tak Mampu Membantu Rakyat - BBM Tembus 30K

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026
Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

Nonton Film Dilarang: Reformasi Mati di Era Prabowo

May 13, 2026
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...