Oleh: Damai Hari Lubis, Pengamat KUHP
Pernyataan Mbak Titiek Soeharto, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, adalah tamparan keras bagi Joko Widodo (Jokowi). Dengan kalimat sederhana, “Bapak juga belum memikirkan kali ya lima tahun berikutnya”, Titiek berhasil meluluhlantakkan narasi politik Jokowi soal Prabowo-Gibran dua periode.
Sebagai tokoh nasional, sah dan wajar jika Mbak Titiek memberi pelurusan atas informasi menyesatkan yang dilempar Jokowi. Sebab, ucapan Jokowi bisa menimbulkan perbedaan persepsi publik dan dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab. Jika dibiarkan, bisa menimbulkan kegaduhan politik bahkan sosial. Karena itu, sikap Mbak Titiek saya nilai proporsional—ia tidak asal mengkritik, tapi memberi pencerahan kepada rakyat.
Usulan Prematur, Menyesatkan Publik
Pertama, usulan Jokowi tentang Prabowo-Gibran dua periode jelas prematur. Pemerintahan Prabowo bahkan belum genap satu tahun berjalan, tapi Jokowi sudah mengarahkan relawannya untuk berbicara soal 2029. Ini bisa mengecoh publik. Alih-alih fokus mendukung Prabowo bekerja, Jokowi justru melempar isu yang sama sekali tidak relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini.
Jokowi Cari Perlindungan untuk Anak
Kedua, langkah Jokowi ini terlihat lebih sebagai upaya mencari perlindungan kepada Presiden Prabowo agar posisi anaknya, Gibran, tetap aman. Kita tahu, ada desakan dari kalangan aktivis agar Gibran dicopot dari jabatan wakil presiden karena lahir dari rekayasa aturan lewat Putusan MK yang penuh kontroversi. Dengan memerintahkan relawan mendukung dua periode, Jokowi seolah ingin “menitipkan” Gibran kepada Prabowo agar tetap dipertahankan, apa pun yang terjadi.
Jokowi “Carmuk” atau Ngelantur?
Ketiga, pernyataan Jokowi ini justru memperlihatkan wataknya yang masih haus kekuasaan. Publik bisa membaca sikapnya sebagai “carmuk” (cari muka) pada penguasa baru, atau bahkan sudah ngelantur karena tak mampu melepaskan diri dari bayang-bayang kekuasaan. Padahal, seorang mantan presiden seharusnya menjaga wibawa, bukan malah ikut membuat gaduh dengan usulan kosong.
Pencerahan Mbak Titiek
Keempat, sebagai pengurus Gerindra sekaligus anggota DPR RI, Mbak Titiek tepat ketika memberi pencerahan. Ucapannya sederhana namun menohok: selesaikan dulu lima tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, buktikan kesejahteraan rakyat, baru bicara soal periode berikutnya. Pesan ini penting agar publik tidak terjebak dalam permainan narasi Jokowi yang penuh kepentingan pribadi dan dinasti.
Jokowi dan Warisan Buram
Sejujurnya, Jokowi tidak meninggalkan prestasi berarti. Proyek-proyek seperti tol laut, swasembada pangan, dan food estate gagal total. Rakyat tetap dibebani harga kebutuhan pokok yang tinggi, sementara APBN terkuras untuk proyek IKN yang dipaksakan. Kini, setelah gagal menepati janji selama dua periode, Jokowi masih saja ikut mengatur panggung politik dengan memanfaatkan relawan. Ini bukan kepemimpinan, melainkan kerakusan.
Kesimpulan
Dengan kalimat singkat, Mbak Titiek berhasil memukul telak Jokowi. Sentilannya bukan hanya kritik personal, melainkan penegasan bahwa bangsa ini tak butuh wacana kosong soal dua periode. Yang dibutuhkan rakyat adalah bukti nyata, bukan ambisi politik seorang mantan presiden yang takut kehilangan pengaruh.
Sejarah akan mencatat, Jokowi tersudut bukan oleh oposisi atau aktivis jalanan, melainkan oleh ucapan sederhana seorang Titiek Soeharto—yang mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah kerja hari ini, bukan sekadar mimpi untuk masa depan yang penuh kepentingan keluarga.
Oleh: Damai Hari Lubis, Pengamat KUHP
























