Menanggapi pernyataan politikus PDIP Adian Napitupulu yang menganggap Prabowo bukan lawan sebanding bagi Ganjar di Pilpres 2024. Ketua Relawan Prabowo Mania 08 Immanuel Ebenezer atau Noel mengatakan antara Prabowo dan Ganjar punya perbedaan mendasar yaitu Prabowo suka baca buku, Ganjar sibuk nonton porno
Membaca judul tulisan ini, apa sesuatu yang “mustahil”? Berangkat dari dalil anda, dalam politik “tidak ada kawan yang sejati, yang ada adalah kepentingan yang sama”. Atau dalil lain, “tak ada yang tak mungkin dalam politik”. Kata kerennya adalah The arts of possible.
Jadi apa alasan Jokowi pindahkan rel dukungan? Nah ini yang penting. Supaya tidak menduga-duga tanpa alasan. Disinilah seninya menganalisis aktifitas politik. Harus jauh melampaui angan-angan, karena “politik adalah seni mengolah berbagai kemungkinan” itu.
Mari kita komtemplasi sejenak. Saat “Ganjar Pranowo” ditetapkan sebagai Capres 24 oleh Ketua Umum PDIP-Megawati Sukarnoputri, maka otomatis mesin partai bergerak sebagaimana mestinya. Mekanisme partai dijalankan menurut manual AD/ART partai. Pilot Partai sudah diberi guide book, yang kemudian menjadi flight plan route politik kemenangan Ganjar.
Jaket Politik PDIP kepada Ganjar tertera sebagai “Petugas Partai”. Inilah yang harus dibaca oleh Jokowi, bahwa petugas partai adalah terikat komitmen kepada partainya. Arahan partai lebih penting dari pada Jokowi, yang kelak statusnya sebagai warga biasa, yang biasa-biasa saja. Nothing special. Bomb bardir dari kader PDIP (Trymedia, Masington, dkk) terhadap Ganjar saat neyeleneh sendiri ingin nyapres, adalah barikade yang akan kemudian merumuskan bagaimana sikap Partai kepada Ganjar selaku Petugas Partai. Aturan akan lebih ketat, berdasarkan pengamalan apa yang terjadi dari Jokowi yang ditetapkan juga sebagai petugas partai. Petugas Partai Jokowi, dinilai nakal.
Berangkat dari peta seperti diatas, tentu kita meyakini, terpikirakan juga oleh Jokowi. Ia faham berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Karena itu, MUSRA adalah alat dan gerakan menempelkan seolah-olah power rakyat kepada diri Jokowi. Sekalipun Gerakan MUSRA itu, diatas namakan hak berdemokrasi, tetapi tetap tidak mempunyai legitimasi, karena bertentangan dengan konstitusi dan hukum yang ada, yaitu soal Capres dan Cawapres adalah kewenangan mutlak partai-partai PT20%. Dan partai-partai tersebut, sudah mengantongi nama-nama Capres dan Cawapres, yang didapat melalui mekanisme partai masing-masing.
MUSRA adalah proyek yang sekaligus menjelaskan siapa Jokowi. Ia tidak memiliki kekuatan politik. MUSRA bisa terbentuk karena fasilitas kekuasaannya.
Lalu mengapa Jokowi melirik Prabowo? Nah ini yang menarik kita bicarakan. Jadi sinyalemen bahwa Jokowi mulai terpikat menggoalkan Prabowo sebagai Presiden 24, bukan isapan jempol. Basa basi politik Jokowi kepada Prabowo adalah, saat beliau menyampaikan bahwa Piplres 24 adalah Giliran Prabowo. Dinyatakan secara terbuka. Bisa saja bagi Jokowi statement ini sebagai basa-basi, tetapi bagi Probwo ditangkapnya sebagai dukungan Presiden/kekuasaan.
Pengalaman Prabowo ikut konstestasi Presiden, tak dimiliki oleh Capres yang lain. Inilah yang belakangan manuver Prabowo, terlihat strategis. Mengumpulkan tokoh-tokoh penting purnawirawan TNI, berkunjung kekediaman mantan-mantan jenderal adalah investasi emosional untuk mendulang dukungan dan meredam resistansi. Ini pendekatan esprit de corps yang kuat.
Sisi lain soal Ganjar Pranowo, yang terus gencar dipopulerkan oleh Survei-survei, yaitu karena semakin mengemuka Ganjar Penyuka Video Porno, Jateng Propinsi Termiskin, tidak punya prestasi, dll, memberi isyarat electabilitas real Ganjar pada posisi yang terbawah.
Menjadi sangat logis, bila kemudian Jokowi berfikir, bahwa bila GP jadi Presiden, maka Komando ada pada Ketum Megawati. Sebaliknya bila Prabowo berhasil menjadi Presiden, maka keputusannya, aka pada otoritas dirinya. Disini wajar bila Jokowi bimbang ketika GP menjadi Presiden. Hubungan Jokowi dan Megawati, terbaca ketika Presiden Jokowi menghadap Ketua Umum PDIP Megawati. Ia didudukan menghadap Ketumnya. Megawati memposisikan Jokowi sebagai Petugas Partai.
Lalu, kita kemudian menjadi faham, isi amplop yang disampaikan sebagai hasil MUSRA kepada Jokowi itu, walau ditulis sejumlah nama-nama yang beredar selama ini, minus Anies Baswedan, Prabowo diberi Stabilo tebal. Ini gayung bersambut dengan puja-puji Prabowo kepada Jokowi.
Tetapi kesimpulan lain, Gerakan Jokowi dalam turut serta mewarnai pencapresan 24 ini, adalah potret kerisauan dirinya akan Post Power Syndrome. Lebih dari itu, tuntutan rasa keadilan dari mereka yang telah menjadi korban ketidak adilan atas keputusannya, tetap berpeluang untuk revenge secara hukum. Pantas kalau anaknya Gibran kemudian meminta Bapaknya “Pulang ke Solo” saja.























