The Big Brother is Watching You, demikian kira kira, kita menilai Jokowi dengan pernyataannya baru-baru ini. Ini adalah Ketidak percayaan Presiden kepada lembaga-lembaga public. Perisitiwa ini disebut sebagai skandal, kata lain sebagai otoriter. Pola seperti itu, mirip Pola Xin Jinping, yang tidak punya moral politik.
Membaca dan memahami berita, bawa Jokowi mengetahui semua isi dalam partai politik, bahkan dikatakan, memegang data hingga arah partai politik, dari informasi intelejen. Bagi sebagian orang, awam sekalipun, bisa dipastikan apa yang dikatakannya hanya sebagai gimmick saja.
Pernyataan tersebut provokatif, dan sama sekali tidak produktif untuk mencapai tujuan-tujuan politik yang ia maksudkan.
Coba kita simak ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan dirinya mengetahui semua isi dalamnya partai politik (parpol). Tak hanya itu, Jokowi memegang data hingga arah partai politik dari informasi intelijen.
Hal itu disampaikan Jokowi saat membuka acara rapat kerja nasional (rakernas) relawan Seknas (Sekretariat Nasional) Jokowi di Hotel Salak, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (16/9/2023). Jokowi awalnya mengatakan ingin Indonesia menjadi negara makmur.
“Tapi memang kepemimpinan itu sangat menentukan,” kata Jokowi.
Memang badan-badan intelejen itu harus memberi informasi kepada Presiden. Itu untuk keperluan langkah kebijakan apa yang harus diambil oleh Presiden. Yang aneh beliau mengungkapkan “arah partai politik”. Inilah pikiran beliau yang membuka orang menduga-duga. Jadi apa yang dia ucapkan/pidatokan/arahkan, hanya untuk kepentingan “Tapi memang kepemimpinan itu sangat menentukan,” kata Jokowi.
Kemudian Jokowi mengatakan tahu isi dalamnya partai politik saat ini seperti apa. Jokowi juga mengetahui arah para partai politik tersebut.
“Saya tahu dalamnya partai seperti apa saya tahu. Partai-partai seperti apa saya tahu, ingin mereka menuju ke mana saya juga ngerti,” ujarnya.
Informasi partai politik yang diterima, menurut Jokowi sangat lengkap. Jokowi mendapatkan informasi partai-partai itu dari laporan intelijen dan lembaga intelijen.
“Informasi yang saya terima komplet dari intelijen saya ada BIN, dari intelijen di Polri ada, dari intelijen TNI saya punya BAIS dan informasi-informasi di luar itu, angka data, survei semuanya ada. Saya pegang semua dan itu hanya miliknya presiden karena langsung, langsung ke saya,” imbuhnya.
Ungkapan seperti tersebut diatas, tidak ada nilai beritanya sama sekali. Memang semua lembaga/badan intelejen untuk konsumsi/kebeutuhan Presiden. Bila kemudian ada yang dinilai akan membahayakan Negara, maka Presiden harus berbuat dan bertindak sesuai aturan, bukan mengumbar ke publik seperti itu.
Parpol terbentuk oleh konstitusi dan di syahkan oleh Negara melalui persyaratan yang ditentukan oleh UU. Bahkab Parpollah diberi fasilitas dan kewenangan oleh konstitusi, untuk menentukan arah dan kebijakan Negara. Lebih dari itu, konstitusipun dapat diubah, adalah menjadi kewenangan Parpol yang berdaulat. Menilai isi Pidato Presiden seperti diatas, disamping tidak memiliki nilai berita, juga hanya jadi bahan tertawaan orang yang faham.




















