Fusilatnews.-Berulang kali, dalam berbagai kesempatan, Jokowi mengatakan “hati hati dengan kondisi ekonomi tahun depan”. Pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2022, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut kata hati-hati dalam pidatonya hingga 19 kali. Kata hati-hati dimaksud merujuk kepada kondisi ekonomi global di tahun depan. Lebih lanjut Jokowi bahkan mengungkapkan, kondisi global telah membuat seluruh kepala negara anggota G20 pusing dibuatnya. Situasi global yang saat ini masih diliputi oleh ketidakpastian.
Pernyataan seperti itu, tentu saja, sangat melegakan hati kita semua. Karena artinya, Pemerintah tahu, apa yang harus dilakukan, untuk merespon situasi ekonomi yang tidak menentu tersebut. Tetapi tiba-tiba dikagetkan oleh suatu pernyataan Jokowi terbaru, yaitu salah satu fokus APBN tahun 2023, adalah pembangunan IKN. Hal itu disampaikan Jokowi saat memberi sambutan pada penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah Tahun Anggaran 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/12/2022).
Lalu dialetika muncul, seberapa penting hubungan, antara keinginan menggenjot pembangunan IKN dengan upaya menjaga pertumbuhah ekonomi nasional yang dibayang-bayang oleh situasi global yang tidak menentu itu?
Dalam uraian pidatonya, Presiden Jokowi, menyebutkan setidaknya ada enam fokus pemerintah dalam memanfaatkan APBN 2023. “Pertama, penguatan kualitas SDM. Kedua, akselerasi reformasi sistem perlindungan sosial. Ini untuk memperbaiki data terpadu kesejahteraan sosial, antara lain melalui registrasi sosial ekonomi,” kata Jokowi.
“Ketiga, melanjutkan pembangunan infrastruktur prioritas, khususnya infrastruktur pendukung transformasi ekonomi. Keempat, pembangunan infrastruktur untuk menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru, termasuk di dalamnya adalah Ibu Kota Nusantara (IKN),” ujarnya lagi.
Kelima, revitalisasi industri dengan terus mendorong hilirisasi.
Keenam, pemantapan reformasi birokrasi dan penyederhanaan regulasi. Menurut Jokowi, fokus kebijakan tersebut membutuhkan pengawalan yang ketat di lapangan.
Menurut mantan Wali Kota Solo ini, inflasi adalah momok bagi semua negara saat ini. “Untuk pemerintah daerah, gubernur, bupati, dan wali kota, saya minta perhatikan dari waktu ke waktu, dari jam ke jam pergerakan angka inflasi di daerah masing-masing,” ujar Jokowi. “Karena ini penting sekali, ini momok semua negara inflasi. Sekali lagi, perhatikan pergerakan angka inflasi di daerah masing-masing,” katanya lagi. Jokowi menambahkan, realisasi belanja APBN dan APBD harus dipercepat. Khususnya, belanja modal dan belanja sosial.
Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan prospek ekonomi global untuk 2023. Langkah ini diambil karena kondisi global belum stabil akibat perang Rusia melawan Ukraina, tekanan inflasi kronis, kenaikan suku bunga, dan konsekuensi berkepanjangan dari pandemi global.
IMF pada Selasa (11/10/2022) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global tahun depan sebesar 2,7 persen atau turun dari perkiraan sebelumnya yaitu 2,9 persen. Kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, mengatakan, tiga ekonomi utama dunia yaitu Amerika Serikat, Cina dan Eropa sedang mandek. Sementara negara-negara yang menyumbang sepertiga dari output ekonomi global akan berkontraksi tahun depan. Hal ini menunjukkan, 2023 akan terasa sepertresesi bagi banyak orang di seluruh dunia.
“Yang terburuk belum datang,” kata Gourinchas.
Dalam perkiraan terbarunya, IMF memangkas prospek pertumbuhan di Amerika Serikat menjadi 1,6 persen tahun ini atau turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,3 persen. IMF memperkirakan ekonomi China tumbuh hanya 3,2 persen tahun ini, atau turun drastis dari 8,1 persen tahun lalu. Beijing telah menerapkan kebijakan nol-Covid-19 dan telah menindak pinjaman real estat yang berlebihan, sehingga mengganggu aktivitas bisnis.
Dalam pandangan IMF, ekonomi kolektif dari 19 negara Eropa yang menggunakan mata uang euro mengalami kesulitan akibat harga energi yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh serangan Rusia terhadap Ukraina dan sanksi Barat terhadap Moskow. Ekonomi Eropa akan tumbuh hanya 0,5 persen pada 2023.
Perekonomian dunia telah mengalami perjalanan yang tak terduga sejak pandemi Covid-19 pada awal 2020. Pandemi dan penguncian di sebagian besar negara membuat ekonomi dunia terhenti pada musim semi 2020. Pengeluaran pemerintah sangat rendah. Sementara suku bunga pinjaman yang direkayasa oleh Federal Reserve serta bank sentral lainnya memicu pemulihan yang kuat dan cepat secara tak terduga dari resesi pandemi.





















