Kalimantan the lost World
Setelah suku Sunda ngulisik, kali ini giliran suku Dayak yang murka. Bisa dimaklumi. Seperti yang saya rasakan, sebagai orang Sunda, ketika ajen kesudandaan, dilecehkan oleh si Arteria Dahlan. Lalu lahirlah tagar Jawa Barat tanpa PDIP. Pun Suku Dayak, yang terusik oleh pernyataan Edy Mulyadi. Seperti biasa trending juga tagar Warga Kalimantan Bukan Monyet.
Pulang dari Tokyo, biasa semua pesawat itu, terbang melawati Pulau Kalimantan . Saat itu udara cerah. Saya bisa leluasa melihat pemandangan ke bawah. 4 jam sebelum landing di Jakarta, saya yakin sedang berada melawati diatas Pulau Kalimantan.
Yang kulihat, Pulau Kalimantan itu, bukan berwarna Hijau karena rimbunnya tropical rain forest, sebagai para-paru Dunia. Tetapi hamparan tanah kering kecoklat-coklatan. Alur2 sungaipun, warnanya coklat. Pertanda Hutan Kalimantan sdh habis. Itulah mengapa saya menulis Kalimantan The Lost World.
Awal tahun 2000an, saya ke Kalimantan Tengah, meliput aktifitas Dr. Birrute Galdikas, ahli Orang Utan Dunia. Beliau mengeluhkan pengrusakan hutan di Kalteng termasuk di kawasan Hutan Lindung Tanjung Puting. Lalu menunjukan pohon Jenis Kayu Ulin yg umurnya sudah 7 tahun tapi baru setinggi 40cm.
Sebenarnya Ia ingin menjelaskan, bahwa penebangan Hutan itu, tidak akan pernah kembali menjadi hutan lagi, karena sekaligus menghilangkan seluruh habitat binatang binatang penanam pohon pohon secara alami itu. Beberapa pohon di tanam oleh binatang seperti kelelawar, yang pergi entah kemana, karena tidak ada pepohonan lagi tempat mereka hidup.
Dan ternyata benar. 20 tahun kemudian saya kembali, ke Kawasan Taman Nasional Hutan Tanjung Puting itu. Tinggal pohon pohon kayu yg ada disepanjang pinggir pinggir sungai saja, beberapa meter kedalam, sudah beralih fungsi jadi kebun kelapa sawit.
Sedih banget, tidak lagi melihat Orang Utan liar di habitatnya. Bengcengkrama dengan teman-teman sekelompoknya. Bekantan2 yang biasa menari-nari, terjun bebas kesungai dan yang lucu lucu itu, yang biasa bermain dipohon-pohon Hutan lebat itu, tak terlihat lagi. Nyanyian burung burungpun, yang membuat betah tinggal didalam hutan itu, nyaris sirna sudah.
Para perambah hutan itupun, bukan saja menghabisi kayu, juga para kuli tintapun banyak yang menjadi korban kekerasan, bahkan ada yang mati, karena sindakasi dengan pihak yang terkait.
![Kalimantan the lost World [ Eksklusif ]](https://i0.wp.com/fusilatnews.com/wp-content/uploads/2022/01/BiruteJungleyoung-cropped-1-1.jpg?resize=471%2C375&ssl=1)

























