Oleh: Damai Hari Lubis
Selain kelompok Lippo yang merupakan bagian dari oligarki “keturunan”, kini tampak ada upaya untuk “mengetes air” terhadap para pengusaha besar pribumi melalui figur Jusuf Kalla. Bisa jadi ini merupakan proses pembelajaran politik bagi mantan tangan kanan Jokowi periode 2014–2019 sekaligus peringatan keras bagi pihak lain: bahwa “mereka dan Jokowi masih perkasa, tangan panjangnya bisa menyentuh siapa saja.”
Sebelumnya, JK hanya berseteru dengan Matutina. Ia merasa tersakiti, melapor, namun Matutina berkelit — dan hingga kini JK belum juga mampu “menangkapnya.”
Pertanyaannya, jika seorang Jusuf Kalla saja tak berdaya menghadapi Matutina, bagaimana dengan rakyat jelata yang bicara benar namun dianggap menghina Jokowi lalu dipenjara—semua terjadi saat JK masih menjabat wakil presiden mewakili Jokowi? Apa upaya JK kala itu?
Maka bisa jadi, Matutina dan Lippo kini menjelma menjadi karma politik bagi JK.
Biarlah ia mengurus hartanya sendiri—karena sebagai konglomerat, ia hanya sedang menuai akibat dari pilihannya menjadi bagian dari rezim yang dahulu ia bela. Apalah arti tanah 17 hektare dibanding ribuan, bahkan puluhan ribu hektare lahan lain yang mungkin ia miliki di seluruh Nusantara? Ia hanya terusik sedikit hartanya, sementara rakyat bangsa ini telah lama dirampok para saudagar besar—bukan hanya hartanya, tapi juga hak, tubuh, bahkan martabatnya.
Ilustrasinya bisa kita lihat di Rempang, dan banyak tempat lain yang bernasib serupa.
Lalu apa yang dilakukan JK untuk mencegah para aktivis dan ulama dipenjara selama dan sesudah masa kepemimpinannya? Apakah pernah ada penyesalan mendalam sebagai seorang negarawan yang pernah menjadi wakil dari presiden paling “jujur sedunia”?
Namun, dalam segala ironi itu, ada benarnya juga intisari keluhannya: jika terhadap dirinya—seorang konglomerat, bekas menteri, dan dua kali wakil presiden saja—“teman-teman Jokowi” berani menghinanya, apalagi terhadap rakyat kecil?
Mungkin ini bentuk curhat JK yang terlambat, tapi setidaknya ia kini ikut merasakan getirnya karma politik dan ekonomi yang dulu hanya menimpa rakyat yang dibungkam, ketika ia sendiri masih diam menikmati kekuasaan.

Oleh: Damai Hari Lubis
























