Fusilatnews – Setahun sudah pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka berjalan. Namun, alih-alih menghadirkan babak baru yang menjanjikan dalam sejarah republik, tahun pertama mereka justru menegaskan satu hal: kekuasaan besar tanpa keberanian moral selalu berakhir dalam kompromi yang melemahkan demokrasi.
Ketika Prabowo dilantik, publik masih menyisakan harapan bahwa bekas rival politik Jokowi itu akan membawa arah baru—bahkan, mungkin, koreksi atas praktik kekuasaan yang selama sepuluh tahun terakhir menumpulkan nalar demokrasi. Namun, perjalanan satu tahun pemerintahan ini menunjukkan bahwa kekuasaan baru itu tidak pernah benar-benar lahir. Ia masih terikat pada bayangan kekuasaan lama, sebuah rezim yang menolak mati: bayang Jokowi.
Bayangan itu tampak dalam banyak hal, mulai dari komposisi kabinet hingga arah kebijakan. Banyak kursi strategis diisi oleh figur-figur yang jelas merupakan “orang Jokowi”, bukan pilihan politik yang lahir dari keberanian Prabowo membangun poros kekuasaan sendiri. Kabinet ini terasa seperti perpanjangan tangan istana lama, hanya berganti wajah di podium. Bahkan, keputusan-keputusan besar—dari proyek IKN hingga kebijakan pangan dan energi—masih memantulkan cara berpikir era Jokowi: teknokratis, pragmatis, dan penuh kompromi dengan oligarki ekonomi.
Prabowo, dengan segala pengalaman dan reputasinya sebagai sosok tegas, justru tampak kehilangan arah. Kekuatan yang ia miliki—baik politik maupun simbolik—tak diikuti keberanian untuk membebaskan diri dari jerat pengaruh mantan presiden yang kini menjadi “penasehat tak resmi” pemerintahan. Dalam berbagai momen, Gibran hadir bukan sebagai wakil presiden yang mandiri, melainkan simbol kelanjutan dinasti politik Jokowi. Sementara Prabowo, entah karena hitung-hitungan politik atau kehati-hatian yang berlebihan, membiarkan pengaruh itu terus tumbuh dalam lingkar kekuasaannya.
Dalam konteks inilah, demokrasi kita kembali kehilangan denyutnya. Tidak ada tanda-tanda restorasi kebebasan sipil. Kritik terhadap pemerintah dibalas dengan sensor halus, atau pengabaian sistematis oleh media arus utama yang kini semakin tunduk pada kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Lembaga penegak hukum tetap beroperasi di bawah kendali politik, dan oposisi semakin tidak punya ruang hidup di tengah konsensus palsu yang dibangun atas nama stabilitas nasional.
Paradoksnya, semua ini berlangsung dalam suasana politik yang nyaris tanpa perlawanan. Rakyat, yang lelah oleh polarisasi, kini memilih diam. Para intelektual, yang dulu menjadi penyeimbang moral, lebih banyak beradaptasi dengan arus ketakutan baru: jangan sampai kritik dibaca sebagai ancaman terhadap “keharmonisan” antara dua kubu lama, Jokowi dan Prabowo. Maka demokrasi dibiarkan sekarat, perlahan tapi pasti, di tengah tepuk tangan yang sopan dan retorika stabilitas yang meninabobokan.
Prabowo mungkin memiliki kekuatan politik terbesar dalam sejarah pasca-reformasi—dukungan parlemen nyaris mutlak, legitimasi elektoral yang kuat, dan kekuasaan militer yang mengakar. Tapi kekuatan itu tak pernah menjelma menjadi keberanian politik. Keberanian untuk membenahi, mengoreksi, atau bahkan menolak intervensi masa lalu. Ia punya semua alat untuk memimpin, tapi tidak menggunakan satu pun untuk membebaskan diri dari bayang-bayang orang yang dulu menaklukkannya.
Satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran adalah potret paling jernih dari apa yang terjadi ketika kekuasaan kehilangan jiwa. Demokrasi bukan hanya tentang pemilu yang berlangsung damai, melainkan tentang keberanian mengambil jarak dari kepentingan yang membelenggu. Dan di titik ini, bangsa ini tampak berjalan mundur: dari cita-cita reformasi menuju konsolidasi kekuasaan yang kian terpusat, dari harapan perubahan menuju adaptasi yang penuh ketakutan.
Mungkin sejarah akan menilai Prabowo bukan dari apa yang ia capai, tetapi dari apa yang ia biarkan terjadi: bagaimana ia membiarkan bayangan Jokowi menutupi cahaya kepemimpinannya sendiri. Sebab kekuatan tanpa keberanian hanyalah ilusi kekuasaan—dan demokrasi tanpa keberanian hanyalah panggung kosong yang kehilangan penontonnya.




















