• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kekuatan Tanpa Keberanian: Demokrasi yang Ditinggalkan di Tahun Pertama Prabowo

Ali Syarief by Ali Syarief
October 19, 2025
in Feature, Politik, Tokoh/Figur
0
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Setahun sudah pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka berjalan. Namun, alih-alih menghadirkan babak baru yang menjanjikan dalam sejarah republik, tahun pertama mereka justru menegaskan satu hal: kekuasaan besar tanpa keberanian moral selalu berakhir dalam kompromi yang melemahkan demokrasi.

Ketika Prabowo dilantik, publik masih menyisakan harapan bahwa bekas rival politik Jokowi itu akan membawa arah baru—bahkan, mungkin, koreksi atas praktik kekuasaan yang selama sepuluh tahun terakhir menumpulkan nalar demokrasi. Namun, perjalanan satu tahun pemerintahan ini menunjukkan bahwa kekuasaan baru itu tidak pernah benar-benar lahir. Ia masih terikat pada bayangan kekuasaan lama, sebuah rezim yang menolak mati: bayang Jokowi.

Bayangan itu tampak dalam banyak hal, mulai dari komposisi kabinet hingga arah kebijakan. Banyak kursi strategis diisi oleh figur-figur yang jelas merupakan “orang Jokowi”, bukan pilihan politik yang lahir dari keberanian Prabowo membangun poros kekuasaan sendiri. Kabinet ini terasa seperti perpanjangan tangan istana lama, hanya berganti wajah di podium. Bahkan, keputusan-keputusan besar—dari proyek IKN hingga kebijakan pangan dan energi—masih memantulkan cara berpikir era Jokowi: teknokratis, pragmatis, dan penuh kompromi dengan oligarki ekonomi.

Prabowo, dengan segala pengalaman dan reputasinya sebagai sosok tegas, justru tampak kehilangan arah. Kekuatan yang ia miliki—baik politik maupun simbolik—tak diikuti keberanian untuk membebaskan diri dari jerat pengaruh mantan presiden yang kini menjadi “penasehat tak resmi” pemerintahan. Dalam berbagai momen, Gibran hadir bukan sebagai wakil presiden yang mandiri, melainkan simbol kelanjutan dinasti politik Jokowi. Sementara Prabowo, entah karena hitung-hitungan politik atau kehati-hatian yang berlebihan, membiarkan pengaruh itu terus tumbuh dalam lingkar kekuasaannya.

Dalam konteks inilah, demokrasi kita kembali kehilangan denyutnya. Tidak ada tanda-tanda restorasi kebebasan sipil. Kritik terhadap pemerintah dibalas dengan sensor halus, atau pengabaian sistematis oleh media arus utama yang kini semakin tunduk pada kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Lembaga penegak hukum tetap beroperasi di bawah kendali politik, dan oposisi semakin tidak punya ruang hidup di tengah konsensus palsu yang dibangun atas nama stabilitas nasional.

Paradoksnya, semua ini berlangsung dalam suasana politik yang nyaris tanpa perlawanan. Rakyat, yang lelah oleh polarisasi, kini memilih diam. Para intelektual, yang dulu menjadi penyeimbang moral, lebih banyak beradaptasi dengan arus ketakutan baru: jangan sampai kritik dibaca sebagai ancaman terhadap “keharmonisan” antara dua kubu lama, Jokowi dan Prabowo. Maka demokrasi dibiarkan sekarat, perlahan tapi pasti, di tengah tepuk tangan yang sopan dan retorika stabilitas yang meninabobokan.

Prabowo mungkin memiliki kekuatan politik terbesar dalam sejarah pasca-reformasi—dukungan parlemen nyaris mutlak, legitimasi elektoral yang kuat, dan kekuasaan militer yang mengakar. Tapi kekuatan itu tak pernah menjelma menjadi keberanian politik. Keberanian untuk membenahi, mengoreksi, atau bahkan menolak intervensi masa lalu. Ia punya semua alat untuk memimpin, tapi tidak menggunakan satu pun untuk membebaskan diri dari bayang-bayang orang yang dulu menaklukkannya.

Satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran adalah potret paling jernih dari apa yang terjadi ketika kekuasaan kehilangan jiwa. Demokrasi bukan hanya tentang pemilu yang berlangsung damai, melainkan tentang keberanian mengambil jarak dari kepentingan yang membelenggu. Dan di titik ini, bangsa ini tampak berjalan mundur: dari cita-cita reformasi menuju konsolidasi kekuasaan yang kian terpusat, dari harapan perubahan menuju adaptasi yang penuh ketakutan.

Mungkin sejarah akan menilai Prabowo bukan dari apa yang ia capai, tetapi dari apa yang ia biarkan terjadi: bagaimana ia membiarkan bayangan Jokowi menutupi cahaya kepemimpinannya sendiri. Sebab kekuatan tanpa keberanian hanyalah ilusi kekuasaan—dan demokrasi tanpa keberanian hanyalah panggung kosong yang kehilangan penontonnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Morocco’s Atlas Lions set global record with 16th consecutive win

Next Post

Terbukti, Prabowo Berhasil Bungkam PDIP

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Next Post
Gaplehkan Saja Mas Hasto

Terbukti, Prabowo Berhasil Bungkam PDIP

Tragedi Diplomasi: Ketika Jokowi Merendahkan, Tom Lembong Menyelamatkan

Jokowi dan Mitos Keberhasilan Infrastruktur: Jalan Tol Dibangun, Hukum dan Moral Bangsa Runtuh

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist