Fusilatnews – Ada hal-hal dalam hidup yang selalu kita tahu akan datang, tapi tetap terasa mengejutkan ketika benar-benar tiba. Salah satunya adalah kematian. Ia tidak pernah gagal menjalankan tugasnya, tidak pernah menunda, tidak pernah salah alamat. Ia datang kapan saja, kepada siapa saja—suka atau tidak suka.
Beberapa hari lalu, seorang sahabat lama, Pak Marso, berpulang. Ia bukan hanya tetangga, tapi juga teman seperjalanan dalam banyak pagi—saat kami sama-sama berangkat ke masjid menunaikan sholat subuh, lalu berlari kecil mengitari wilayah yang kadang baru kami jelajahi bersama. Kami biasa bercakap tentang hal-hal ringan, tentang kesehatan, tentang anak-anak, tentang hidup yang sederhana tapi terasa penuh. Dua hari lalu, ia terjatuh di kamar mandi dan tak pernah bangun lagi.
Ada perasaan ganjil yang sulit diungkapkan. Kami sempat berpisah lama, sekitar lima belas tahun, lalu minggu lalu ia dan istrinya sempat mampir ke rumah. Sayangnya, saya sedang di Jakarta. Kami tak sempat berbincang seperti dulu, tak sempat menukar tawa dan cerita yang mungkin sudah lama menunggu untuk dibagikan. Mungkin itu pertemuan yang diniatkan semesta, tapi tak diberi kesempatan oleh waktu.
Hari ini, kabar duka kembali datang. Anak dari tante saya—teman kecil yang tumbuh bersama saya—juga telah mendahului kita semua. Usianya masih muda, dan seperti kebanyakan kematian yang datang terlalu cepat, selalu ada rasa sayang yang tersisa, rasa belum rela yang menggantung di dada. Tapi mungkin itu jalan terbaik baginya. Saya sempat menyalatkannya sebelum dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Di sana, antara doa dan keheningan tanah merah yang baru dibuka, saya kembali diingatkan bahwa hidup ini hanyalah jeda singkat antara dua ketiadaan.
Kematian adalah guru yang tak pernah berbohong. Ia mengajarkan kita bahwa waktu adalah anugerah, dan setiap pertemuan menyimpan kemungkinan menjadi yang terakhir. Kita sering menunda untuk menyapa, untuk bertemu, untuk meminta maaf atau sekadar mengucap terima kasih—padahal tak ada jaminan hari esok akan datang.
Proses kehidupan berjalan menurut hukum alam. Ia tidak mengenal pangkat, usia, atau rencana manusia. Kita hanya bisa menjalaninya, sebaik mungkin, selurus niat, sebersih hati. Karena pada akhirnya, semua akan kembali ke titik yang sama: diam, tenang, dan selesai.
Maka, barangkali yang paling bijak adalah hidup dengan kesadaran bahwa setiap napas adalah pinjaman, setiap langkah adalah karunia, dan setiap perpisahan adalah pengingat agar kita lebih menghargai yang masih ada.























