Fusilatnews – Gelombang migrasi politik dari Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) semakin mencolok di penghujung 2025. Setelah Ahmad Ali, Rusdi Masse, dan Bestari Barus resmi mendarat di partai yang kini dipimpin oleh Kaesang Pangarep, publik pun mulai berspekulasi: apakah Ahmad Sahroni akan menjadi nama besar berikutnya yang turut “loncat kapal”?
Isu itu kian menguat setelah pertemuan hangat antara Bendahara Umum Partai NasDem itu dengan Wakil Ketua Umum PSI, Ronald A. Sinaga (Bro Ron), di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (13/10/2025). Pertemuan yang awalnya tampak sebagai reuni dua sahabat lama di komunitas motor, ternyata menyimpan aroma politik yang cukup kental. Bro Ron sendiri tak menampik bahwa obrolan mereka mencakup banyak hal, termasuk politik.
“Ya namanya teman, pasti bahas banyak hal, termasuk politik,” ujarnya dengan nada ringan. Namun yang menarik bukan sekadar topik pembicaraan mereka, melainkan siapa yang mengetahui pertemuan itu — Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Jokowi dan “Restu Terselubung”
Fakta bahwa Jokowi mengetahui pertemuan itu membuat banyak pihak menduga, dinamika politik ini bukan sekadar pertemuan nostalgia antara dua sahabat, melainkan bagian dari desain politik yang lebih besar. Jokowi bahkan secara terbuka menyatakan bahwa fenomena migrasi sejumlah tokoh politik ke PSI adalah hal yang “wajar dalam demokrasi terbuka”.
“Kalau orang ingin ke PSI kan enggak bisa dipaksa-paksa. Ini era keterbukaan,” ujar Jokowi di Solo.
Namun, ketika seorang presiden yang dikenal memiliki jejaring kuat di hampir semua partai bicara tentang “tidak ada paksaan”, publik justru menafsirkan sebaliknya. Apalagi Jokowi telah mengakui secara terbuka bahwa ia memberikan arahan politik kepada kader PSI dan “full mendukung” partai tersebut.
Dengan pernyataan itu, PSI bukan lagi sekadar partai anak muda yang idealis, melainkan kendaraan politik yang mulai diisi oleh tokoh-tokoh mapan — sebagian di antaranya memiliki hubungan erat dengan Jokowi atau lingkar kekuasaan.
Dari Komunitas Motor ke Arena Politik
Kedekatan Sahroni dan Bro Ron bukanlah sesuatu yang baru. Keduanya sama-sama tumbuh dalam dunia otomotif dan komunitas motor, sebelum akhirnya menapaki dunia politik. Bro Ron bahkan menyebut Sahroni sebagai seniornya dalam berpolitik.
“Beliau senior saya dalam politik, saya mah masih anak kacang,” tulisnya di akun Instagram.
Ungkapan ini bukan sekadar bentuk hormat, tetapi bisa juga dibaca sebagai sinyal politik — penghormatan kepada calon rekan baru yang mungkin segera “bergabung dalam barisan”. Terlebih, Bro Ron menutup unggahannya dengan kalimat yang menggantung: “Saya yakin, akan banyak yang surprise di tanggal 10 November nanti.”
Apakah kejutan yang dimaksud itu adalah deklarasi besar PSI dengan kehadiran Sahroni? Tidak ada yang tahu pasti, tapi pola peristiwa sebelumnya seolah menunjukkan arah yang sama: setiap “kejutan” PSI dalam setahun terakhir selalu diwarnai dengan kedatangan tokoh baru.
Jejak Migrasi dan Arah Angin Politik
Ahmad Ali menjadi pion penting dalam arus migrasi dari NasDem ke PSI. Setelah mundur dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Umum NasDem, ia langsung ditunjuk sebagai Ketua Harian PSI pada September 2025. Tak lama berselang, Rusdi Masse ikut bergabung dan menjadi Wakil Ketua Umum, disusul Bestari Barus sebagai Kepala Badan Urusan Politik.
Fenomena ini bukan kebetulan. PSI yang dulunya dikenal dengan wajah muda, kini bertransformasi menjadi partai yang dipoles dengan pengalaman para politisi senior. Sebuah strategi yang tampak disusun untuk menghadapi Pemilu 2029 dengan basis elektoral yang lebih luas dan struktur yang lebih matang.
Sahroni di Persimpangan
Bagi Ahmad Sahroni, keputusan untuk bertahan atau berpindah tentu bukan perkara sederhana. Ia masih menjadi salah satu figur penting dalam NasDem, sekaligus memiliki kedekatan personal dengan Surya Paloh. Namun, perubahan lanskap politik pasca-Pilpres 2024 menempatkannya pada posisi dilematis.
NasDem kini tampak kehilangan arah politik setelah keluar dari orbit kekuasaan, sementara PSI justru sedang naik daun berkat sentuhan “restu” Jokowi. Di sinilah posisi Sahroni menjadi menarik — ia bisa memilih setia pada idealisme NasDem yang beroposisi, atau bergabung dengan gelombang politik baru yang lebih pragmatis dan menjanjikan akses kekuasaan.
Jika Sahroni benar-benar mengikuti jejak Ahmad Ali, itu akan menjadi pukulan besar bagi NasDem dan sekaligus penguatan simbolik bagi PSI sebagai “rumah baru” para loyalis Jokowi.
Penutup: Politik, Antara Loyalitas dan Kesempatan
Politik Indonesia hari ini semakin sulit dibaca dengan kacamata ideologi. Perpindahan tokoh dari satu partai ke partai lain bukan lagi soal perbedaan visi, tetapi lebih pada kalkulasi peluang dan posisi tawar di masa depan.
Maka, pertanyaan “Mungkinkah Sahroni mengikuti jejak Ahmad Ali loncat ke PSI?” bukan lagi soal kemungkinan, tetapi soal waktu dan momentum. Jika benar ada “kejutan” besar pada 10 November mendatang, maka publik mungkin akan menyaksikan satu lagi babak baru dalam drama migrasi politik ala era Jokowi — di mana batas antara kekuasaan dan loyalitas kian kabur, dan PSI perlahan berubah menjadi wajah baru dari politik lama yang disegarkan dengan kemasan muda.























