Profesor Dina Sulaeman, adalah analis geopolitik yang mengajar hubungan internasional di Universitas Padjadjaran Bandung saat diwawancarai oleh saluran berita global Press TV mengatakan kedua negara menunjukkan “semangat kemerdekaan untuk melepaskan diri dari dominasi dolar”, menyebutnya sebagai “perubahan positif ”.
Fusilatnews – Kunjungan Presiden Ebrahim Raeisi ke Indonesia menandai “titik balik” dalam hubungan Jakarta -Teheran, terutama dengan kesepakatan antara kedua belah pihak untuk meyingkirkan dolar Amerika perdagangan bilateral, kata Profesor Duna Sulaeman, Guru Besar Universitas Pajajaran Bandung.
Dina Sulaeman, seorang analis geopolitik yang mengajar hubungan internasional di Universitas Padjadjaran Bandung saat diwawancarai oleh saluran berita global Press TV mengatakan kedua negara menunjukkan “semangat kemerdekaan untuk melepaskan diri dari dominasi dolar”, menyebutnya sebagai “perubahan positif ”.
Presiden Iran, didampingi oleh delegasi pemerintah tingkat tinggi, mengunjungi Jakarta pada hari Selasa dan mengadakan pembicaraan luas dengan koleganya dari Indonesia Joko Widodo mengenai permasalahan bilateral dan regional.
Kedua belah pihak menandatangani serangkaian perjanjian, dengan fokus menyingkirkan dolar dan menggantinya dengan mata uang lokal yaitu rial Iran dan rupiah Indonesia. Mereka juga berjanji untuk mendorong perdagangan tahunan dengan target $20 miliar.
Kedua negara juga menandatangani 12 nota kesepahaman, termasuk satu tentang perdagangan preferensial dan satu lagi tentang rezim bebas visa untuk memudahkan perjalanan antara kedua negara.
“Sanksi dan ancaman telah gagal menghalangi jalan Iran,” kata Presiden Raeisi pada konferensi pers bersama dengan koleganya dari Indonesia, seraya menambahkan bahwa Teheran “memprioritaskan” hubungan dengan negara-negara Islam.
Profesor Dina mengatakan dia “optimis” bahwa target perdagangan tahunan $20 miliar antara kedua negara akan tercapai, terutama perdagangan yang terkait dengan sains dan teknologi, atau perdagangan berbasis ilmumu pengetahuan, yang dia catat memiliki “nilai lebih tinggi daripada perdagangan alam. komoditas sumber daya”.
“Nilai perdagangan berbasis pengetahuan semakin tinggi dan kedua negara telah mencapai kemajuan teknologi di berbagai bidang yang dapat saling melengkapi,” kata Sulaeman kepada situs Press TV.
“Perdagangan komoditas sumber daya alam juga penting karena kedua negara dapat saling memenuhi kebutuhan. Indonesia kaya akan sumber daya laut karena memiliki lautan yang sangat luas, sedangkan Iran memiliki daratan yang lebih banyak,” imbuhnya.
Peningkatan kerja sama antara Teheran dan Jakarta terjadi di tengah pergeseran dinamika kekuatan global dan berakhirnya dunia unipolar yang dipimpin AS, yang merupakan salah satu topik yang dibahas antara kedua belah pihak pada hari Selasa.
Presiden Raeisi dalam pertemuan dengan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan era unilateralisme sudah berakhir.
“Dengan perubahan ini, kekuatan baru akan terbentuk di dunia, yang menjadi kepentingan negara-negara berkembang,” katanya. “Kami yakin rakyat Palestina, Yaman, yang tertindas hampir saja hak-haknya terpenuhi.”
“Ketika kedua negara bersatu untuk meningkatkan perdagangan dan kerja sama di berbagai bidang, dunia multipolar akan semakin terwujud,” kata Dina, mengisyaratkan bahwa kemitraan Iran-Indonesia akan mempercepat pembentukan dunia multipolar di mana kedua negara ini akan menjadi yang pemain utama.
Dia juga merujuk pada kesamaan budaya dan agama antara kedua negara, mengatakan Indonesia memiliki populasi 270 juta dan mayoritas adalah Muslim, sedangkan Iran juga merupakan negara mayoritas Muslim.
Terkait liputan kunjungan bersejarah Presiden Raeisi ke negara Asia Selatan itu, Profesor Dina mengatakan media lokal meliputnya dengan baik namun yang “luar biasa” adalah CNN Indonesia menyiarkan kunjungannya ke Istana Bogor, salah satu istana kepresidenan Indonesia, secara langsung di YouTube .
Komentator geopolitik Indonesia itu mengatakan, kerja sama yang lebih erat antara kedua negara Muslim juga dapat membantu memerangi ancaman Islamofobia Global.
“Media Barat cenderung menciptakan persepsi bahwa negara-negara Muslim saling berkonflik. Sekarang dunia bisa melihat bahwa dua negara besar Muslim bersatu untuk melakukan hal-hal yang positif,” tegasnya.
Profesor Dina juga menyebut penggambaran wanita Iran yang salah di media Barat, dengan menyertakan rombongan presiden Iran termasuk Ibu Negara Iran Jamileh Alamolhoda.
“Ibu Negara meluncurkan bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang akademisi yang luar biasa. Ini juga menyampaikan pesan bahwa perempuan di Iran boleh menjadi ilmuwan hebat seperti Dr. Jamileh,” ujarnya.
Tentang momok Takfirisme di Indonesia, profesor itu mengatakan lobi Takfiri di negara itu “adalah minoritas kecil” sementara “mayoritas orang Indonesia menghormati perbedaan (agama dan ideologis)”.
Orang Indonesia, lanjut dia, “waspada terhadap sanksi AS”, tetapi secara umum negara ini memiliki “semangat kemerdekaan yang kuat yang diwariskan oleh bapak bangsa kita”, mengacu pada presiden pertama negara itu Sukarno yang menjabat antara tahun 1945 dan 1967 dan meninggal pada tahun 1970.
“Itulah sebabnya Indonesia menjalin kerja sama dengan semua pihak, termasuk China, Rusia, dan Iran,” tegasnya, menyerukan diplomasi publik yang lebih besar antara Jakarta dan Teheran























