• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
June 2, 2026
in Economy, Feature
0
Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Per 31 Desember 2025, Pemerintah kembali mengumumkan Indonesia mampu meraih swasembada beras. Walau bukan yang pertama kali kita raih, namun capaian swasembada beras bagi bangsa ini merupakan prestasi yang membanggakan. Swasembada beras adalah titik puncak keberhasilan menggenjot produksi setinggi-tingginya menuju swasembada.

Beberapa literatur menyebut swasembada beras sering dimaknai sebagai kemampuan suatu negara atau bangsa untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negerinya sendiri dari produksi dalam negeri, tanpa bergantung pada impor. Atau bisa juga dikatakan swasembada beras = beras yang kita makan, 100% dari sawah Indonesia.

Salah satu risiko dari swasembada beras, tidak bisa tidak, beras akan melimpah. Di gudang-gudang Bulog, beras pasti akan menumpuk. Dalam waktu-waktu belakangan ini, kita akan kesulitan menemukan gudang Bulog yang kosong melompong karena tidak ada tumpukan karung berasnya. Bahkan Perum Bulog terpaksa harus menyewa gudang swasta untuk menampung beras yang sangat melimpah ruah.

Yang lebih membanggakan lagi, produksi beras yang meningkat cukup signifikan, melahirkan terciptanya cadangan beras Pemerintah yang sangat kokoh. Pemerintah mengumumkan, saat ini cadangan beras pemerintah mampu menembus angka 5 juta ton. Padahal, sebelum-sebelumnya hanya berkisar di antara 1,5 hingga 2 juta ton saja.

Bagi Perum Bulog sendiri, mengelola cadangan beras pemerintah di atas 5 juta ton, memang baru yang pertama dilakukan. Sebagai pengalaman pertama, pasti akan banyak tantangan dan kendala yang menghadang. Mengelola cadangan beras pemerintah di atas 5 juta ton itu level yang belum pernah dicapai Indonesia sebelumnya.
Ini tantangan dan kendala utama Bulog:
Utamanya, kapasitas gudang tidak cukup. Gudang milik Bulog cuma punya kapasitas 3 juta ton. Saat stok tembus 4,5 juta ton, Bulog harus menyewa gudang tambahan 2 juta ton. Kendala yang dihadapi, biaya sewa besar, risiko koordinasi, kualitas beras di gudang sewaan lebih sulit diawasi, dan sewa tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus memenuhi standar penyimpanan.

Selanjutnya, biaya pemeliharaan dan penurunan kualitas. Presiden Prabowo sudah mengingatkan, makin lama beras ditimbun, makin besar biaya perawatan dan makin turun kualitasnya.Kendala yang ada, beras butuh pengendalian suhu, kelembapan, dan fumigasi rutin. Dengan 5 juta ton, biaya listrik, pestisida, dan tenaga kerja naik drastis. Kalau distribusi lambat, risiko beras rusak dan merugi negara tinggi.

Kemudian, logistik dan distribusi ke seluruh Indonesia. Indonesia adalah kepulauan, rawan bencana, dan sebaran produksi tidak merata. Kendala mengirim 5 juta ton dari sentra produksi di Jawa, Sul-Sel, Lampung ke Papua, Maluku, NTT adalah butuh kapal, truk, dan pelabuhan yang memadai. Biaya logistik tinggi dan risiko keterlambatan besar. Data distribusi harus akurat supaya tidak terjadi penumpukan di satu daerah dan kekosongan di daerah lain.

Lalu, penyerapan gabah dari petani.
Target Bulog 2023 saja 2,4 juta ton penyerapan. Untuk menjaga stok 5 juta ton, Bulog harus konsisten membeli gabah petani saat panen raya. Harga gabah di tingkat petani sering jatuh saat panen raya. Kalau HPP tidak menarik, petani menjual ke tengkulak. Bulog juga dibatasi oleh anggaran dan waktu serap yang singkat saat panen.

Selain itu, manajemen mutu dan rotasi stok. Dengan stok besar, Bulog harus memastikan beras yang masuk duluan keluar duluan. Kalau tidak, ada beras yang terlalu lama di gudang jadi kuning, berkutu, atau susut bobot.
Kendala yang ada, sistem rotasi dan monitoring kualitas harus real-time. Salah kelola sedikit, bisa muncul isu beras bansos tidak layak konsumsi.

Juga, soal risiko keuangan dan audit. Stok 5 juta ton setara puluhan triliun rupiah. Kendala yang ada, Bulog diawasi ketat oleh BPK dan DPR. Kalau ada susut, rusak, atau salah salur, langsung jadi temuan. Tekanan untuk menjaga akurasi data dan transparansi sangat tinggi.

Di sisi lain, tidak sedikit kalangan yang mempertanyakan kapan harganya akan murah jika beras melimpah?
Beras melimpah tapi harga tetap mahal itu soal klasik, dan biasanya bukan karena stoknya yang kurang. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, ini beberapa penyebab utamanya:

Pertama, yang melimpah itu gabah/padi, bukan beras siap jual. Harapannya
Panen banyak di petani sama dengan beras murah di pasar. Ada proses penggilingan, pengeringan, pengangkutan, penyimpanan. Biaya-biaya ini nggak hilang walau panen bagus. Kalau biaya penggilingan, solar, dan tenaga kerja naik, harga beras ikut naik.

Kedua, rantai distribusinya panjang dan banyak tengkulak.
Alurnya: Petani → Tengkulak lokal → Penggilingan → Pedagang besar → Pedagang pasar → Konsumen.
Setiap level ambil margin. Petani jual gabah Rp 6.000/kg, tapi sampai kamu itu jadi Rp 15.000-17.000/kg. Harga di petani naik sedikit aja, harga eceran naiknya berlipat.

Ketiga, biaya logistik dan penyimpanan di Indonesia mahal. Kita negara kepulauan. Angkut beras dari Jawa ke Papua, Sulawesi, Kalimantan butuh kapal, truk, pelabuhan. Solar naik, ongkos angkut naik. Belum lagi biaya sewa gudang kalau stok ditahan buat jaga harga.

Keempat, ada praktik penahanan stok . Kadang penggilingan atau pedagang besar sengaja nahan stok pas panen raya biar harga nggak anjlok. Nanti dilepas pelan-pelan pas stok menipis. Ini legal, tapi bikin harga nggak langsung turun walau panen melimpah.

Kelima, harga acuan dan biaya produksi global. Harga pupuk, pestisida, dan BBM semuanya pakai harga global. Walaupun panen banyak, kalau biaya tanamnya Rp 5.000/kg, petani nggak mau jual di bawah itu. Kalau dipaksa murah, mereka rugi dan musim depan tanamnya berkurang.

Intinya, harga beras itu ditentukan di level “beras di pasar”, bukan “padi di sawah”. Biaya dari sawah ke piring itulah yang membuat mahal. Semoga jadi bahan pencermatan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh
Feature

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo
Bisnis

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Simalakama Teddy Wijaya
Birokrasi

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bulog Ke Depan : MEWUJUDKAN INTEGRASI KEBIJAKAN PANGAN NASIONAL

BERAS MELIMPAH KAPAN HARGANYA MURAH ?

June 2, 2026
Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

Yasinta Moiwend dan Bahaya Menghakimi dari Jarak Jauh

June 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...