Fusilatnews – Minggu ini dunia berguncang. Tidak oleh gempa bumi atau letusan gunung berapi, tapi oleh letusan kemarahan, prasangka, dan kebencian yang makin lantang di Eropa dan Amerika.
Di Prancis, seorang pria kulit putih menembak tetangganya yang orang Tunisia. Motifnya? Ya itu tadi: warna kulit dan keturunan. Di Spanyol, patung pemain bola kulit hitam dicorat-coret, dikencingi kebencian. Di Irlandia Utara, massa membakar fasilitas umum karena marah pada dua bocah imigran Rumania yang dituduh—catat: baru dituduh—melakukan pelecehan.
Lalu di Amerika, para guru yang mengajarkan soal keberagaman dan gender mulai diburu seperti dukun santet di masa Orde Baru. Banyak yang dipecat, mundur, atau memilih tutup mulut. Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Saya tulis semua ini dalam sebuah rangkuman berita, saya kirim ke teman-teman. Tak lama kemudian, muncul satu pesan masuk:
“Mas, ini semua akan berpengaruh ke Indonesia nggak sih?”
Saya sempat ingin jawab dengan panjang lebar, pakai istilah geopolitik dan implikasi sosial global. Tapi akhirnya saya hanya balas:
“Halaah… Indonesia masih sibuk ngurus ijazah palsu, panu, kudis, dan kurap.”
Dan saya tidak sedang bercanda.
Ketika dunia sibuk memperdebatkan diskriminasi struktural, supremasi kulit putih, dan bagaimana algoritma media sosial bisa memupuk kebencian lintas benua, kita di sini masih tarik urat soal apakah ijazah presiden sah atau tidak. Masih ribut tentang boleh tidaknya perempuan jadi MC di masjid. Masih debat tentang apakah gotong royong itu komunis.
Sementara di luar sana, peradaban sedang diuji: apakah ia bisa bertahan sebagai tempat tinggal yang aman bagi siapa pun, terlepas dari ras, gender, atau identitas? Apakah sekolah boleh lagi menjadi ruang untuk berpikir bebas, atau cukup untuk menghafal SKS dan absen?
Tapi di Indonesia? Kita menyaksikan orang bisa jadi menteri karena anak presiden. Bisa jadi calon gubernur karena menantu. Bisa jadi ketua partai karena adik. Kita masih berdebat apakah benar Jokowi itu petugas partai atau raja kecil dengan infrastruktur megah tapi hati kecil.
Kita belum sampai ke sana. Kita belum repot dengan topik “white supremacy” karena kita masih sibuk saling supresi antarsuku. Kita belum diskusi tentang DEI (diversity, equity, inclusion), karena kita bahkan belum sepenuhnya setuju bahwa minoritas itu layak hidup tenteram di republik ini.
Dan inilah ironi besar: ketika dunia makin tidak nyaman bagi mereka yang berkulit gelap, berhijab, atau berbahasa asing, kita di Indonesia justru kehilangan arah, tanpa kompas, membiarkan kecerdasan diinjak dan membiarkan kebodohan berkuasa. Kita tidak ikut menghadapi krisis peradaban global karena kita belum sempat selesai dengan borok dalam negeri.
Maka jangan tanya apakah kejadian di Eropa dan Amerika akan berdampak ke Indonesia. Sebab untuk bisa terdampak, kita harus lebih dulu hidup dalam satu atmosfer peradaban yang sama.
Dan saat ini, mohon maaf, kita masih hidup di kampung sebelah—tempat di mana isu terbesar minggu ini adalah: siapa yang nyumbang sapi paling besar waktu Idul Adha.




















