JAKARTA — Meningkatnya nasionalisme sayap kanan di sejumlah negara Eropa dan kebijakan anti-keberagaman yang terus digaungkan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu lonjakan tindakan rasisme dan sentimen anti-imigran secara global. Dalam kurun waktu satu pekan terakhir, sejumlah insiden mencerminkan tren mengkhawatirkan terhadap komunitas kulit hitam dan kelompok minoritas etnis.
Di Prancis, aparat keamanan tengah menyelidiki aksi penembakan terhadap seorang warga Tunisia yang diduga bermotif rasis. Tersangka merupakan pria kulit putih berusia 57 tahun yang menembak korban di depan apartemennya. Jaksa penuntut telah mengklasifikasikan kasus ini sebagai tindak kekerasan yang berpotensi bermuatan terorisme rasial.
Sementara itu di Spanyol, ketegangan memuncak setelah vandalisme terhadap patung pemain sepak bola kulit hitam yang dikenal memperjuangkan kesetaraan rasial. Meskipun tidak sampai dibakar, patung tersebut dicoret dengan simbol kebencian dan kata-kata bernuansa supremasi kulit putih. Aksi ini memicu protes dari kelompok anti-rasisme di Barcelona dan Madrid.
Di Irlandia Utara, kerusuhan anti-imigran pecah di beberapa kota seperti Ballymena dan Portadown, menyusul kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan dua remaja asal Rumania. Massa menyerang properti milik imigran, membakar kendaraan, dan menyerang aparat kepolisian. Lebih dari 50 polisi dilaporkan terluka, dan puluhan orang ditangkap. Warga lokal bahkan memasang tanda “Locals Live Here” untuk mengusir para pendatang.
Di Amerika Serikat, tekanan terhadap para guru yang mengajarkan studi keberagaman dan gender semakin kuat, terutama di negara-negara bagian yang mengadopsi kebijakan pendidikan konservatif. Sejumlah guru di Florida dan Texas mengaku harus menyensor materi pelajaran mereka karena khawatir terkena sanksi. Seorang guru bahkan diberhentikan karena menggunakan sapaan netral gender terhadap siswanya.
Kondisi ini diperparah dengan polemik hukum yang melibatkan Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) dan lembaga pinjaman hipotek Townstone Financial, yang dituduh melakukan diskriminasi rasial dalam praktik pemberian kredit. CFPB sempat menarik gugatan tersebut, namun pengadilan federal di Chicago menolak pencabutan itu dan memutuskan untuk melanjutkan proses hukum atas dasar pentingnya pertanggungjawaban institusi keuangan terhadap praktik redlining.
Pakar hubungan internasional dari Universitas Harvard, Prof. Michelle Yates, menyebut fenomena ini sebagai “resonansi global dari populisme putih.” Menurutnya, retorika politik yang menargetkan kelompok minoritas, baik secara langsung maupun simbolik, telah mengobarkan semangat kekerasan dan intoleransi yang terorganisir lintas negara.
“Yang kita lihat hari ini bukan lagi insiden terisolasi, tetapi pola sistematis yang diperkuat oleh ekosistem politik, media sosial, dan pembiaran institusional,” ujarnya.
Lonjakan tindakan rasis ini memicu kekhawatiran akan menurunnya standar demokrasi dan hak asasi manusia, terutama di negara-negara yang selama ini dianggap sebagai pelopor pluralisme.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan laporan The Guardian, Reuters, Financial Times, dan sumber-sumber berita internasional lain yang relevan per 17 Juni 2025.























