Di negeri yang subur dengan janji, di tanah yang lapang bagi para pesilat kata, kita menyaksikan sebuah paradoks yang menyesakkan. Moral agama yang seharusnya menjadi cahaya, justru meredup di hadapan kilau politik. Seolah-olah, di negeri ini, kemuliaan tidak diukur dari kebersihan hati, tetapi dari kelihaian bersilat lidah dan menata kepentingan.
Puasa mengajarkan kejujuran, tetapi di meja-meja perundingan, dusta berulang kali disajikan sebagai hidangan utama. Zakat mengajarkan keikhlasan berbagi, tetapi di panggung kekuasaan, tangan-tangan serakah meraup harta yang bukan haknya. Ijazah palsu, oplosan bahan bakar, serta janji yang tak pernah ditepati, semuanya seperti diampuni oleh sistem yang lebih menghormati kepentingan dibandingkan kebenaran.
Di antara para pemain sandiwara ini, ada nama-nama yang kita kenal: Jokowi, Bahlil, Airlangga, Zulhas, dan banyak lagi. Mereka tetap berdiri di atas panggung terhormat politik, meskipun jejak langkah mereka dipenuhi noda ketidakjujuran dan kepentingan pribadi. Seolah politik memiliki moralitasnya sendiri, sebuah moralitas yang tidak menuntut kesucian, tetapi mengagungkan keberhasilan menguasai permainan.
Seperti yang pernah dikatakan Niccolò Machiavelli, “Seorang penguasa tidak perlu memiliki semua sifat baik, tetapi ia harus terlihat memilikinya.” Maka, dusta bisa tampak seperti kebenaran, kezaliman bisa dibungkus sebagai kebijakan, dan pengkhianatan bisa disulap menjadi strategi.
George Orwell juga pernah mengingatkan kita, “Dalam masa penipuan universal, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.” Maka, siapakah yang masih berani menyuarakan kebenaran, ketika kebohongan telah menjadi norma yang diterima?
Namun, apakah negeri ini harus tunduk pada hukum politik yang mengorbankan moral agama? Apakah kejujuran harus menjadi korban demi stabilitas kekuasaan? Jika benar demikian, maka moral agama hanya menjadi selimut usang yang ditinggalkan saat tidak lagi menghangatkan kepentingan para penguasa.
Tetapi sejarah tak pernah tidur. Ia mencatat, mengingat, dan pada waktunya, ia akan bersuara. Sebab dalam keheningan doa orang-orang yang terzalimi, dalam puasa yang menahan bukan hanya lapar tetapi juga amarah, ada harapan bahwa suatu hari, negeri ini akan kembali menempatkan moral agama di singgasana yang seharusnya. Karena kebenaran tidak butuh panggung, ia hanya butuh keberanian untuk ditegakkan. Seperti kata Mahatma Gandhi, “Kekuatan tidak berasal dari kapasitas fisik, tetapi dari kemauan yang tak tergoyahkan.”


























