Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah sudah berapa kali Prabowo Subianto melontarkan tuduhan ada pihak asing yang tak suka Indonesia maju dan kuat. Presiden RI itu sepertinya sudah terjangkit sindrom Xenophobia. Apa itu?
Xenophobia adalah rasa takut, tidak suka, curiga, atau benci yang berlebihan terhadap orang asing atau mereka yang dianggap berbeda (dari suku, budaya, agama, atau negara lain) yang dapat dimanifestasikan dalam sikap diskriminatif, penolakan, hingga permusuhan. Sindrom Xenophobia inilah yang saat ini sedang menjangkiti Prabowo. Betapa tidak?
Selain sudah beberapa kali melontarkan tuduhan asing tidak suka Indonesia maju dan kuat, salah satu keengganan Prabowo menetapkan status bencana banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional konon adalah ia enggan menerima bantuan asing.
Pertanyaannya, mengapa Prabowo sampai terjangkit Xenophobia? Jangan-jangan itu hanya alibi atau kamuflase belaka. Tujuannya, untuk menutupi ketidakmampuaannya memimpin Indonesia, dan juga menyembunyikan sesuatu.
Sebab, Prabowo tidak asing dengan dunia asing. Pasca-lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, Prabowo bahkan sempat kabur dan menetap puluhan tahun di Jordania.
Prabowo juga seorang pebisnis internasional. Mantan menantu mendiang Soeharto ini juga sempat menempuh pendidikan militer di Amerika Serikat. Baru setahun dua bulan menjabat Presiden, Prabowo juga sudah puluhan kali melaksanakan lawatan ke luar negeri.
Akan tetapi, mengapa Prabowo seperti terjangkit sindrom Xenophobia?
Bisa jadi sekadar kamuflase atau alibi semata untuk menutup-nutupi ketidakmampuannya memimpin Indonesia. Ia mencari kambing hitam. Dan paling mudah adalah menuduh pihak asing. Pihak asing itulah yang ia jadikan kambing hitam. Sebab tidak akan ada pihak asing yang membantah, karena Prabowo tidak menyebut nama.
Ya, bisa jadi itu kamuflase atau alibi. Termasuk keengganan Prabowo menetapkan seratus bencana Sumatera sebagai bencana nasional. Sebab konsekuensinya bantuan asing dan lembaga-lembaga asing bisa masuk ke lokasi bencana. Bila itu terjadi, bisa jadi topeng atau kedok Prabowo bisa terbuka.
Disebut, Prabowo punya usaha pengelolaan hutan di tiga kabupaten di Aceh. Termasuk di lokasi yang terkena bencana banjir bandang.
Jika lembaga-lembaga internasional atau orang asing masuk ke Aceh, maka bisa berbahaya. Lembaga-lembaga domestik bisa dibungkam. Tapi orang atau lembaga asing? Tidak! Contohnya Harrison Ford yang pada 2013 lalu turun ke hutan-hutan di Sumatera, bahkan sempat mewawancarai Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan saat itu, yang kemudian membuka mata dunia bahwa hutan di Taman Nasional Tisso Nelo sudah rusak parah; suatu hal yang coba ditutup-tutupi oleh Zulkifli.
Dus, Prabowo pura-pura terjangkit sindrom Xenophobia. Yang sesunggugnya terjadi adalah ia sedang mencari alibi dan kamuflase atas ketidakmampuannya memimpin Indonesia, dan juga untuk menutup-nutupi sesuatu. Akhirnya asing yang dijadikan kambing hitam.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
























