• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Negara yang Takut Bayangan: Xenophobia Prabowo, Paranoia Jokowi, dan Mitologi “Tokoh Ghaib”

Ali Syarief by Ali Syarief
December 16, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Jokowi Cawe-cawe, Prabowo Terima Kasih
Share on FacebookShare on Twitter

Untuk kesekian kalinya, Presiden Prabowo Subianto melontarkan tudingan klasik: ada pihak asing yang tidak suka Indonesia maju dan kuat. Kalimat ini terdengar heroik di permukaan, tetapi problematik jika dikuliti lebih dalam. Ia bukan sekadar retorika nasionalisme, melainkan gejala lama yang kerap muncul dalam rezim yang alergi terhadap kritik. Dalam ilmu politik, pola semacam ini dikenal sebagai xenophobia syndrome—kecenderungan melihat ancaman dari luar sebagai penyebab segala kegelisahan di dalam negeri.

Narasi “asing” selalu efektif. Ia menyentuh emosi, membangkitkan rasa kebangsaan, dan sekaligus mengalihkan perhatian publik dari soal-soal yang lebih substansial: tata kelola kekuasaan, akuntabilitas, dan kegagalan negara memenuhi janji-janji dasarnya. Ketika kritik dibingkai sebagai agenda pihak luar, maka kritik itu otomatis kehilangan legitimasi. Publik diarahkan untuk curiga, bukan berpikir.

Yang menarik, di saat Prabowo menunjuk “asing” sebagai musuh tak kasatmata, Joko Widodo—presiden sebelumnya—juga meninggalkan warisan narasi yang tak kalah bermasalah. Dalam merespons isu ijazah palsu, Jokowi tidak menjelaskan secara terbuka dan tuntas, melainkan melempar kalimat ambigu: “ada tokoh besar di balik isu ini.” Sebuah tudingan tanpa nama, tanpa bukti, dan tanpa ujung.

Di sinilah dua gaya kekuasaan bertemu: paranoia. Jika Prabowo melihat ancaman dari luar negeri, Jokowi menciptakan hantu dari dalam negeri. Keduanya sama-sama menggunakan sosok anonim—“asing” dan “tokoh besar”—untuk membangun cerita konspiratif. Dalam situasi seperti ini, kebenaran tidak lagi penting; yang utama adalah membangun persepsi bahwa kekuasaan sedang diserang.

Padahal, negara yang kuat tidak tumbuh dari kecurigaan, apalagi dari ketakutan yang direkayasa. Negara kuat lahir dari keterbukaan, keberanian menghadapi kritik, dan kesediaan diuji secara transparan. Tuduhan soal ijazah, misalnya, bukan isu ideologis atau geopolitik. Ia persoalan administratif dan kejujuran publik. Mestinya diselesaikan dengan dokumen dan klarifikasi, bukan dengan narasi “tokoh besar” yang justru memperkeruh ruang publik.

Xenophobia dan paranoia politik adalah dua sisi dari mata uang yang sama: ketidakmampuan kekuasaan menghadapi pertanyaan rasional. Ketika pemimpin merasa terancam oleh kritik, mereka cenderung menciptakan musuh imajiner. Musuh ini berfungsi ganda—menyatukan pendukung sekaligus membungkam oposisi.

Yang lebih berbahaya, pola ini menormalkan cara berpikir konspiratif di masyarakat. Publik diajak percaya bahwa setiap kritik pasti digerakkan oleh kekuatan besar dan gelap. Akibatnya, diskursus publik menjadi irasional, emosional, dan miskin data. Demokrasi pun berubah menjadi arena saling tuding, bukan ruang pencarian kebenaran.

Jika Indonesia sungguh ingin maju dan kuat, ia tidak membutuhkan narasi musuh yang direkayasa. Yang dibutuhkan justru pemimpin yang percaya diri pada kebenaran, berani membuka diri pada kritik, dan cukup dewasa untuk berkata: “Mari kita buktikan, bukan menuduh.”

Karena negara yang terus-menerus merasa dikepung—oleh asing maupun “tokoh besar”—sesungguhnya bukan negara kuat, melainkan negara yang sedang takut pada bayangannya sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Prabowo Terjangkit Sindrom Xenophobia

Next Post

Untuk Apa Hartamu?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut
Crime

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Next Post
Untuk Apa Hartamu?

Untuk Apa Hartamu?

Stigma Jokowi Pendusta dan Bukti Polling: Saat Kebenaran Tak Lagi Dipercaya

Pasal 39 KUHAP dan Ijazah yang Tak Pernah Pergi: Delapan Tersangka, Barang Buktinya Di Mana?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...