Oleh : WA. Fujiwara
Bintaro – Ada fase dalam hidup ketika manusia baru benar-benar mengenal makna nikmat justru saat tubuhnya diuji oleh sakit. Pada titik itulah kesadaran tumbuh perlahan: bahwa nikmat sejati bukan sekadar kelapangan, melainkan sering hadir melalui proses yang menyakitkan.
Ketika dokter menyampaikan bahwa fungsi ginjal saya telah menurun drastis dan mengharuskan saya menjalani hemodialisis (cuci darah), hati ini sempat bergetar. Namun pada saat yang sama, ada ruang pasrah yang terbuka. Ikhtiar harus dijalani, selebihnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT—Pemilik kehidupan dan kesembuhan.
Tanpa proses yang berbelit, saya diarahkan ke ruang perawatan dan dipertemukan dengan mereka yang tengah menjalani ujian serupa. Dari perbincangan singkat dengan sesama pasien, saya menyadari satu hal penting: setiap orang memiliki jalan ujian yang berbeda, dan setiap kemudahan yang kita terima bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari takdir yang telah ditakar dengan penuh hikmah.
Proses hemodialisis pertama saya jalani dengan rasa takut, harap, dan pasrah yang bercampur menjadi satu. Tiga jam terasa panjang, tetapi di situlah saya belajar diam—menundukkan ego, menerima keterbatasan, dan menyadari betapa rapuhnya tubuh manusia.
Dari sakit inilah saya memperoleh hikmah besar: kesehatan adalah nikmat yang tidak memiliki bandingan.
Saat tubuh lemah, nafsu makan hilang, dan gairah hidup meredup, saya menyadari bahwa kelimpahan materi tak lagi memiliki makna apa-apa. Segala yang dunia tawarkan menjadi tak berguna ketika raga tak sanggup menerimanya.
Namun setelah proses cuci darah dijalani, perubahan itu nyata. Tubuh terasa lebih segar, nafsu makan kembali, dan semangat hidup perlahan pulih. Seolah ada beban berat yang selama ini mengganjal aliran kehidupan, lalu disingkirkan oleh arus rahmat Allah SWT. Seperti bendungan yang jebol, energi kehidupan kembali mengalir tanpa sekat.
Dari pengalaman ini, saya menarik dua pelajaran penting:
Pertama, kemudahan yang kita alami dalam hidup bukan semata hasil kecerdikan atau kekuatan diri, melainkan buah dari ikhtiar menanam kebaikan—yang hasil akhirnya sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Kedua, nikmat yang hakiki sering kali baru terasa pada peralihan: ketika sakit mulai beranjak menuju kesembuhan, ketika gelap perlahan bergeser ke terang. Di sanalah syukur lahir bukan dari kata-kata, tetapi dari kesadaran yang dalam.
Semoga renungan ini dapat menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang diuji kesehatannya.
Bahwa sakit bukan akhir dari segalanya, melainkan cara Allah mengajarkan manusia untuk kembali mengenal arti hidup, syukur, dan ketergantungan sejati hanya kepada-Nya.
Aamiin. 🤲


























