Fusilatnews – Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan persaudaraan dengan perumpamaan yang amat manusiawi: tubuh. Bukan bangunan megah, bukan menara gading, tetapi tubuh—yang jika satu bagiannya terluka, seluruhnya ikut merasakan sakit.
Sabda beliau ﷺ:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
Hadis ini tidak sedang berbicara tentang empati yang pasif, melainkan keterlibatan yang aktif. Tentang rasa yang merambat, tentang nyeri yang tidak berhenti pada satu titik, tetapi mengalir ke seluruh kesadaran.
Dalam persahabatan dan persaudaraan, luka bukanlah milik individu semata. Luka adalah panggilan. Ketika satu jari tergores, tangan menutupinya. Ketika satu saudara tersungkur, iman memanggil kita untuk hadir—bukan sekadar mengomentari.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
(HR. Muslim)
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya, dan tidak merendahkannya.”
Persaudaraan bukan hanya soal tidak menyakiti, tetapi juga tidak meninggalkan. Ada dosa yang lahir bukan dari perbuatan, melainkan dari ketidakpedulian.
Di zaman ini, kita sering menyaksikan penderitaan dari kejauhan. Melihat luka tanpa merasa nyeri. Menyaksikan ketidakadilan tanpa tergugah. Padahal iman, jika masih hidup, seharusnya membuat kita gelisah.
Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata:
“Manusia itu terbagi dua: saudaramu dalam iman, atau setaramu dalam kemanusiaan.”
Kalimat ini menegaskan bahwa empati bukan pilihan tambahan, melainkan fondasi. Jika iman tidak mampu melahirkan kasih sayang, maka ia tinggal simbol tanpa ruh.
Imam Al-Ghazali mengingatkan:
“Hati yang tidak tersentuh oleh penderitaan orang lain adalah hati yang sedang sakit.”
Barangkali inilah penyakit paling berbahaya hari ini: mati rasa. Ketika luka saudara dianggap biasa, ketika ketidakadilan dinormalisasi, ketika penderitaan hanya menjadi angka dan berita.
Padahal Rasul ﷺ bersabda dengan tegas:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Jika kita tak ingin dilukai, mengapa kita membiarkan luka orang lain? Jika kita ingin diselamatkan, mengapa kita enggan menyelamatkan sesama?
Ketika satu jari terluka, seluruh tubuh menangis. Bukan karena lemah, tetapi karena hidup. Dan iman yang hidup selalu ditandai oleh satu hal: ia mampu merasa.

























