• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jokowi dan Kebodohan yang Dinormalisasi

Ali Syarief by Ali Syarief
December 21, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Jokowi Puji Prabowo  Karena Meningktanya Elektabilitas  Gerindra dan Dirinya
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Jokowi bukan korban salah paham. Ia juga bukan sekadar sasaran kebencian warganet. Ia mengakui sendiri bahwa ia disebut bodoh, dan ia tidak pernah membantah substansinya. Dalam satu pernyataan terbuka, Jokowi berkata:

“Saya tahu ada yang bilang saya ini bodoh, tolol, plonga-plongo.”
(Jokowi, pernyataan publik, dikutip Kompas TV)

Pernyataan itu bukan klarifikasi. Bukan bantahan. Itu penerimaan pasif. Seorang kepala negara yang merasa perlu menyampaikan bahwa dirinya memang disebut bodoh — tanpa menunjukkan koreksi intelektual atau pembuktian sebaliknya — sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih serius: ketiadaan kesadaran epistemik sebagai pemimpin.

Kebodohan Bukan Soal IQ, Tapi Cara Berpikir

Kebodohan Jokowi bukan soal latar belakang pendidikan, bukan pula soal kemampuan teknis. Ia bodoh dalam arti politik: gagal memahami relasi sebab-akibat, gagal membaca struktur, dan berulang kali membuat kebijakan tanpa kerangka berpikir yang utuh.

Contohnya konkret.

  1. Obsesinya pada infrastruktur fisik dilakukan tanpa kesiapan fiskal dan kualitas sumber daya manusia.
    Akibatnya: utang negara melonjak, sementara produktivitas dan kualitas pendidikan stagnan. Data BPS dan laporan Bank Dunia menunjukkan ketimpangan kualitas SDM Indonesia tetap tinggi meski belanja infrastruktur masif .

  2. Pemindahan ibu kota ke IKN dipaksakan di tengah lemahnya basis ekonomi nasional, rendahnya penerimaan pajak, dan defisit demokrasi. Tidak ada urgensi struktural — yang ada hanyalah ambisi simbolik. Ini bukan keberanian visioner, ini kegagalan membaca prioritas .

  3. Pembiaran oligarki dan nepotisme — dari tambang, sawit, hingga politik keluarga — menunjukkan ketidakmampuan membedakan kepentingan negara dan kepentingan kekuasaan. Ini bukan kelicikan Machiavellian; ini ketumpulan nalar etika dan politik .

Dalam tradisi berpikir politik, kebodohan semacam ini disebut stupidity of power: ketika kekuasaan berjalan tanpa refleksi, tanpa koreksi, dan tanpa pengetahuan memadai.

Ketika “Kesederhanaan” Menjadi Alibi Kebodohan

Pendukung Jokowi sering menyebutnya sederhana. Tetapi kesederhanaan yang menolak pengetahuan, menolak kritik, dan menolak koreksi, bukan kebajikan. Itu anti-intelektualisme.

Hannah Arendt pernah menyebutnya sebagai the banality of incompetence: kekuasaan dijalankan oleh orang yang tidak cukup jahat untuk disebut tiran, tapi juga tidak cukup cerdas untuk disebut negarawan.

Jokowi cocok di situ.

Ia tidak punya kerangka ideologis. Tidak punya peta kebijakan jangka panjang. Ia berpindah dari satu jargon ke jargon lain: revolusi mental, poros maritim, SDM unggul, hilirisasi — tanpa pernah menunjukkan konsistensi logis antar kebijakan. Itu bukan fleksibilitas. Itu ketiadaan fondasi berpikir.

Bodoh, dan Berbahaya

Kebodohan Jokowi menjadi berbahaya karena ia dinormalisasi. Ketika ia disebut bodoh, ia tidak merasa perlu membuktikan kecerdasan melalui kebijakan yang rasional. Ia justru mengandalkan citra, loyalitas, dan pembungkaman kritik.

Dalam konteks ini, menyebut Jokowi bodoh bukan penghinaan. Itu deskripsi politik.

Bodoh karena:

  • Tidak memahami demokrasi sebagai sistem pembatas kekuasaan.

  • Tidak memahami ekonomi sebagai sistem produktivitas, bukan beton.

  • Tidak memahami hukum sebagai keadilan, melainkan alat kekuasaan.

  • Tidak memahami negara sebagai amanah, melainkan proyek.

Sejarah tidak akan mengingat Jokowi sebagai pemimpin sederhana. Sejarah akan mencatatnya sebagai contoh bagaimana kebodohan bisa bertahan lama jika dibungkus citra dan dilindungi oligarki.

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar pemimpin yang jahat.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo: Estafet Kebodohan Kepemimpinan Setelah Jokowi

Next Post

Ketika Satu Jari Terluka, Seluruh Tubuh Menangis

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Next Post
Api yang Sama di Dua Lilin: Renungan tentang Persahabatan

Ketika Satu Jari Terluka, Seluruh Tubuh Menangis

Penjarahan Emas di Tumpang Pitu: Elite Cuan, Alam dan Rakyat Menangis

Penjarahan Emas di Tumpang Pitu: Elite Cuan, Alam dan Rakyat Menangis

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist