Solo, FusilatNews – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Solo, Selasa (15/4/2025). Bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur, kunjungan ini bertepatan dengan momen halalbihalal Idulfitri 1446 H.
“Kami silaturahim halalbihalal. Kebetulan kami diterima hari ini. Pak Pangdam, Pak Kapolda juga bersama-sama bisa hari ini. Jadi nyambunglah waktunya,” ujar Khofifah usai pertemuan.
Namun pertemuan ini tidak hanya berisi jabat tangan dan ucapan maaf lahir batin. Sejumlah isu strategis juga dibahas, salah satunya adalah ketegangan perang dagang global yang kembali mencuat akibat kebijakan tarif resiprokal dari mantan Presiden AS, Donald Trump.
Jawa Timur Waspada Dampak Perang Tarif
Menurut Khofifah, Jokowi memberikan pembaruan informasi mengenai dampak ekonomi dari memanasnya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China. Konflik tersebut, kata Khofifah, berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap sektor industri di daerah, termasuk di Jawa Timur.
“Cair ya, tentu beliau update bagaimana sebetulnya dampak ekonomi trade war antara perang tarif Amerika dan China itu terjadi di seluruh dunia. Tentu kami di Jawa Timur melakukan berbagai langkah antisipasi,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, Khofifah menyebut Pemprov Jatim telah melakukan koordinasi dengan kalangan industri dan organisasi pengusaha seperti Apindo. Fokus utama pemerintah daerah saat ini, menurutnya, adalah mencegah terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
“Saya matur bahwa kita secara personal melakukan komunikasi dengan owner dari perusahaan-perusahaan besar dan kami juga mengundang Apindo terutama yang karyawannya di atas 4.000,” katanya.
Antisipasi PHK, Kurangi Jam Kerja Jadi Opsi
Khofifah menegaskan bahwa prinsip utama dalam menghadapi situasi ekonomi global yang tidak menentu ini adalah mempertahankan tenaga kerja. Bila perlu dilakukan efisiensi, ia mendorong perusahaan untuk lebih memilih pengurangan jam atau hari kerja daripada melakukan PHK.
“Prinsip pertama jangan ada PHK. Kalaupun ada pengurangan produksi ya boleh pengurangan jam kerja atau maksimal pengurangan hari kerja,” paparnya.
Membangun Optimisme, Menolak Kegalauan
Di tengah ancaman ekonomi, Khofifah juga menekankan pentingnya membangun suasana kondusif dan menolak kepanikan.
“Hal-hal seperti ini kan memang tidak boleh menimbulkan kegalauan, kekhawatiran, kegusaran. Suasana-suasana itu memang kita bangun bersama,” ucapnya.
Ia juga menyebut sinergi antara Pemprov Jatim dan Forkopimda sebagai kunci menjaga stabilitas dan kepercayaan masyarakat.
“Alhamdulillah di Jawa Timur, Forkopimda plus ya, Forkopimda semuanya berjalan berseiring dan ini menjadi bagian yang sangat penting,” tutupnya.





















