Fusilatnews – Ada kegelisahan yang tak lagi bisa disimpan di serambi pesantren. Ia tumbuh pelan, tapi menetap. Dari musala kampung hingga forum-forum kiai di Jawa, kegelisahan itu bermuara pada satu kesimpulan: jam’iyah sebesar Nahdlatul Ulama sedang tidak baik-baik saja. Dalam suasana itulah Forum Kiai NU Se-Jawa menyatakan sikap politik-keagamaan yang tegas, keras, namun tetap dibingkai dalam etika jam’iyah.
Forum ini menyatakan mosi tidak percaya kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), baik yang dikaitkan dengan kubu Rais ‘Aam Kiai Miftachul Akhyar maupun kubu Ketua Umum Kiai Yahya Cholil Staquf. Mosi ini bukan letupan emosional, melainkan akumulasi kekecewaan atas kisruh kepengurusan PBNU yang tak kunjung reda dalam lima tahun terakhir. NU, yang seharusnya menjadi rumah besar peradaban Islam Nusantara, justru tersandera konflik elite yang menjauh dari denyut jamaah.
Tanggung Jawab Moral dan Organisasi
Forum Kiai NU Se-Jawa mendesak Kiai Miftachul Akhyar, Kiai Yahya Cholil Staquf, serta Saifullah Yusuf selaku Sekretaris Jenderal PBNU hasil Muktamar Lampung untuk bersama-sama mengundurkan diri. Desakan ini diajukan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan organisatoris atas kegaduhan yang berlarut-larut di tubuh PBNU.
Bagi para kiai, kepemimpinan dalam jam’iyah bukan semata soal legalitas hasil muktamar, melainkan juga soal maslahah. Ketika kepengurusan justru menjadi sumber konflik, maka etika kepemimpinan menuntut adanya keberanian untuk menepi. Mundur, dalam logika ini, bukan kekalahan, melainkan ikhtiar menjaga martabat organisasi.
Muktamar Luar Biasa sebagai Jalan Konstitusional
Forum Kiai NU Se-Jawa secara tegas mendesak digelarnya Muktamar Luar Biasa (MLB) NU. MLB dipandang sebagai satu-satunya forum jam’iyah tertinggi yang sah, adil, konstitusional, dan bermartabat untuk melakukan klarifikasi, evaluasi, serta koreksi menyeluruh atas berbagai persoalan yang muncul selama masa kepengurusan berjalan.
Untuk itu, forum mendesak dibentuk panitia bersama yang melibatkan unsur PBNU, PWNU, dan PCNU. Panitia ini bertugas mempersiapkan MLB NU secara inklusif dan transparan, agar tidak lagi menjadi ajang dominasi elite, melainkan benar-benar menjadi forum musyawarah warga NU.
Bagi para kiai, MLB bukan ancaman, melainkan mekanisme penyelamatan. Ia adalah jalan pulang NU kepada khittah jam’iyah: musyawarah, kebijaksanaan, dan kepemimpinan kolektif yang berakar pada kepercayaan jamaah.
Menutup Pintu Konflik Kepentingan
Dalam sikap ketiganya, Forum Kiai NU Se-Jawa juga menegaskan penolakan terhadap kemungkinan tampilnya kembali Kiai Miftachul Akhyar dan Saifullah Yusuf dalam struktur kepemimpinan PBNU hasil MLB. Sikap ini, menurut forum, bukan bersifat personal, melainkan ikhtiar menjaga kondusivitas dan memastikan proses rekonsiliasi berjalan tulus serta bebas dari konflik kepentingan.
NU, dalam pandangan forum, membutuhkan kepemimpinan baru yang lebih kredibel, netral, dan dapat diterima seluruh warga NU. Regenerasi dipandang sebagai keniscayaan, bukan ancaman. Tanpa itu, NU berisiko terjebak dalam lingkaran konflik yang sama.
Ancaman PBNU Tandingan
Sebagai sikap paling keras, Forum Kiai NU Se-Jawa menyatakan akan membentuk PBNU tandingan apabila Muktamar Luar Biasa tidak digelar dalam waktu tiga bulan. Ancaman ini mencerminkan titik didih kekecewaan. Bukan karena para kiai ingin memecah NU, melainkan karena mereka merasa jam’iyah ini harus diselamatkan, bahkan jika itu berarti mengambil risiko politik-organisasi yang besar.
Pesan yang hendak disampaikan jelas: NU bukan milik segelintir elite, melainkan milik jamaah. Ketika jam’iyah menjauh dari jamaah, para kiai merasa berkewajiban untuk menariknya kembali ke pangkuan umat.
Di titik ini, sejarah NU seperti mengetuk pintu nurani para pemimpinnya. Apakah konflik akan terus dipelihara, ataukah kebesaran jiwa akan dipilih demi menyelamatkan rumah besar bernama Nahdlatul Ulama?

























