Oleh Malika Dwi Ana
Di balik gedung Istana Negara yang megah, pada malam yang gelap gulita tanggal 7 September 2025, langit Jakarta diselimuti misteri. Gerhana Bulan Total—Blood Moon—tengah berlangsung, sebuah fenomena langka yang memerah seperti darah tumpah di kanvas hitam. Mulai pukul 22.28 WIB, Bulan purnama perlahan memasuki bayang-bayang Bumi, berubah dari kuning cerah menjadi merah pekat pada puncaknya jam 01.11 WIB. Di seluruh Indonesia, jutaan mata menengadah, tapi bagi Presiden, ini bukan sekadar tontonan alam. Malam itu terasa seperti pertanda mistis, bisikan roh leluhur yang menuntut pengorbanan darah politik. “Blood Moon ini bukan kebetulan,” gumamnya pada dirinya sendiri, asap cerutu mengepul seperti kabut gaib. “Ia datang untuk membersihkan yang busuk.”
Presiden duduk sendirian di ruang kerjanya, jendela terbuka menghadap langit yang berubah. Cahaya merah Bulan menyusup masuk, mewarnai dinding bercat Merah Putih dengan nuansa darah yang mengerikan. Di tradisi Jawa kuno, Blood Moon disebut “Ksatria Bulan Merah,” pertanda perubahan besar—jatuhnya raja atau lahirnya era baru. Presiden mengambil nafas panjang dan merasakannya: energi spiritual yang berat, seperti roh-roh pendahulu bangsa; roh Soekarno dan Soeharto bergumam di telinganya, memperingatkan bahwa reshuffle besok pagi adalah ritual pemanggilan kekuatan baru. Layar ponselnya bergetar tak henti, pesan dari para jenderal bayangan yang tak pernah ia sebut nama. “Saatnya membersihkan meja,” balasnya singkat. Reshuffle Kabinet Merah Putih bukanlah sekadar pengumuman rutin; itu adalah perang dingin yang telah lama direncanakan, dimana pion-pion akan jatuh seperti daun kering di musim kemarau, dibaptis oleh darah bulan.
SMI, sang ratu keuangan yang tak tergoyahkan, adalah target utama. Bukan karena kinerjanya yang brilian—ia justru penjaga gerbang fiskal Indonesia yang disegani dunia. Bagi sebagian petinggi berpengaruh, SMI adalah penghalang ambisi mereka. “Dia orang World Bank, bukan orang kita,” bisik Lugut melalui saluran aman, suaranya parau dan serak seperti angin gurun yang membawa hawa mistis mengerikan. Lugut, sang arsitek bayangan, ingin IKN—proyek impian sang Voldemort yang kini macet seperti truk kontainer di pelabuhan Tanjung Priok—dibangkitkan kembali. Tapi SMI, dengan kalkulasi dinginnya, menolak suntikan dana besar yang berbau utang Tiongkok. “Resikonya terlalu tinggi,” katanya sambil berhitung, matanya nanar menatap tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Malam Blood Moon itu, saat Bulan mencapai totalitas, SMI merasakan getaran aneh di rumahnya di Bintaro. Ia berdiri di balkon, menatap langit merah, dan tiba-tiba angin dingin menyapu wajahnya. “Ini pertanda,” bisiknya, merinding. Dalam mitos spiritual, Blood Moon membuka gerbang dunia gaib, dimana rahasia terungkap dan nasib berubah. Apakah roh Raja Jawa dan keuangan global sedang meninggalkannya?
Malam sebelumnya, insiden penjarahan rumah SMI menjadi pemicu sempurna, seolah dirasuki kekuatan malam gerhana. Hanya 20 penjaga—terlalu sedikit untuk seorang menteri utama, terlalu mencurigakan untuk disebut kebetulan. Ratusan orang bertopeng hitam menerobos pagar tepat saat Bulan mulai merah, merusak furnitur mewah dan mengobrak-abrik dokumen rahasia, kotak perhiasan dan sejumlah lukisan kesayangannya. “Siapa yang memerintahkan ini?” tanya SMI pada ajudannya, suaranya gemetar tapi penuh amarah, sementara cahaya merah Bulan menyinari kekacauan seperti darah suci dalam ritual. Ajudan itu diam, tapi matanya melirik ke arah Jakarta Utara, ke markas Lugut. Bandingkan dengan sang Puan, yang rumahnya juga diserang tapi lolos mulus berkat pasukan pengawal yang tak terhitung. “Ini bukan pencurian, ini pesan,” keluh SMI saat polisi datang terlambat, angin malam membawa aroma mistis seperti dupa kuno. Dan pesan itu jelas: mundur, atau hancur. Blood Moon, menurut para Balian di Bali, adalah waktu di mana energi negatif menguat, memungkinkan konspirasi politik menjadi kenyataan.
Sementara itu, BG, orang kesayangan simbok banteng—dicopot dari Menko Polkam tanpa ampun. “Dia mata-mata di istana,” kata Presiden pada cermin, tersenyum tipis, sementara bayangan merah Bulan menari di dinding. Penggantinya? Pur, pria dari “geng Solo” yang setia pada Voldemort, tapi kini diorbitkan Lugut. Pur dengan senyum licin dan pengalaman di LPS, adalah kunci. “Kita butuh orang yang paham permainan besar,” kata Lugut dalam pertemuan rahasia di kapal pesiarnya, di bawah langit yang masih memerah. Pur mengangguk, tahu tugasnya: buka kran keuangan untuk kereta cepat Jakarta-Surabaya yang selama ini dijegal SMI. Proyek itu, simbol ambisi Tiongkok, akan kembali mengalir deras lagi—dengan rel yang meliuk ke arah Beijing, bukan lagi ke Washington. Saat fase totalitas gerhana mencapai puncak, Lugut merasakan dorongan gaib: seperti roh naga Tiongkok menggeliat bangkit, didorong oleh energi bulan berdarah yang konon membawa kekayaan tapi juga kutukan utang abadi.
Presiden, yang hatinya masih condong ke Amerika, merasa terpojok oleh kekuatan mistis malam itu. “Jika IKN dilanjutkan, pasar akan gemetar. Rupiah anjlok, investor kabur,” pikirnya, sambil menatap Bulan merah yang seolah meneteskan darah ke bumi. Tapi tekanan dari koalisi tak memberi pilihan, dan Blood Moon seakan memperkuatnya—pertanda bahwa perubahan geopolitik adalah takdir ilahi. Malam itu, ia menelepon The Voldemort—mantan rival yang kini jadi sekutu rapuh. “Ini untuk Indonesia Maju,” kata si topeng karet Voldemort pelan. Presiden tertawa getir. “Atau untuk Tiongkok yang maju? Blood Moon ini memilih jalannya sendiri.” Di kejauhan, suara azan Subuh bercampur dengan angin sayup-sayup, seolah roh para pendiri bangsa menyetujui ritual ini.
Pagi harinya, saat gerhana telah usai dan Bulan kembali pucat, pengumuman reshuffle menggema di media. Budi Arie pun ikut tersingkir, diganti Ferry Juliantono yang tak banyak bicara. Kementerian Haji dan Umrah baru lahir, tapi itu hanyalah selimut tipis untuk badai yang datang. Saat SMI meninggalkan kantor terakhir kali, ia berhenti di depan patung Soekarno, masih merasakan sisa energi mistis dari malam sebelumnya. “Mereka pikir ini akhir,” gumamnya. “Tapi Blood Moon telah membuka mata saya—permainan baru saja dimulai, dan roh-roh itu akan balas dendam dan menuntut balas, siapa yang salah bakalan seleh!” Di kejauhan, suara sirene polisi bergema—atau mungkin itu hanya angin yang membawa semriwing bisikan konspirasi, dibisikkan oleh bulan berdarah yang tak pernah benar-benar pudar.
Dan begitulah, di balik tirai Merah Putih, roda politik berputar di bawah pengaruh Blood Moon. Presiden mungkin menang di ronde ini, disambut para pemujanya dengan decak kekaguman, tapi bayang-bayang Tiongkok semakin pekat, dan IKN yang macet kini siap dibangkitkan—dengan harga spiritual dan material yang mungkin terlalu mahal untuk dibayar. Siapa tahu, di akhir cerita, siapa yang akan jatuh selanjutnya, saat roh bulan merah kembali memanggil?(MDA)
*TerasMalawu, 08092025
Oleh Malika Dwi Ana





















