Jakarta, 16 Januari 2026
Ditulis oleh:
YUS DHARMAN, SH., MM., M.Kn
Advokat
Ketua Dewas FAPRI
(Forum Advokat dan Pengacara Republik Indonesia)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terang-terangan menyatakan tidak membutuhkan hukum internasional. Ia memerintahkan pasukan elite Delta Force menginvasi Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro dari kamar tidurnya di istana, dengan dalih Maduro terlibat narkoterorisme. Padahal, motif sesungguhnya diduga kuat adalah penguasaan sumber daya alam Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Tindakan tersebut jelas melanggar hukum internasional, khususnya Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan militer terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara lain. Pelanggaran terhadap imunitas kepala negara dan yurisdiksi negara lain bahkan disebut sebagai “kejahatan tertinggi di antara semua kejahatan”. Pernyataan ini dikemukakan Geoffrey Robertson KC, pakar hukum internasional dan mantan Presiden Pengadilan Kejahatan Perang PBB untuk Sierra Leone, dalam wawancara dengan The Guardian dan dikutip luas oleh berbagai media. Robertson menegaskan bahwa operasi semacam ini menciptakan preseden berbahaya bagi tatanan global. Pengabaian terhadap batas kedaulatan negara adalah ancaman serius bagi stabilitas dunia.
Dalam lanskap geopolitik semacam itu, segala cara dapat dihalalkan untuk merampas kekayaan alam negara lain melalui kekuatan militer. Indonesia harus cermat membaca peta ini. Jangan menganggapnya sebagai sesuatu yang jauh dan mustahil. Selain posisi geografis yang strategis, Indonesia memiliki sumber daya alam penting seperti nikel, emas, batu bara, dan lainnya.
Kita tidak boleh naif. Risiko intervensi asing dengan dalih fiktif selalu mengintai. Jangan sampai kekayaan berlimpah yang dianugerahkan kepada Indonesia berubah menjadi kutukan karena ketidakmampuan menjaga kedaulatan. Diplomasi yang cerdas dan kekuatan pertahanan yang mumpuni adalah keniscayaan jika kita ingin dihormati dan disegani.
Bagi sebagian masyarakat Amerika Serikat, invasi untuk menguasai kekayaan negara lain bisa dianggap rezeki nomplok. Donald Trump memenuhi janji kampanyenya, I will make USA great again. Namun sebaliknya, ini adalah mimpi buruk bagi Venezuela dan ancaman bagi negara-negara lain yang kaya sumber daya alam, termasuk Indonesia. Bukan tidak mungkin kita menjadi target berikutnya.
Pada akhirnya, semua penguasa memiliki potensi yang sama. “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”, kata Lord Acton. Perbedaannya hanya pada skala arena bermain. Pemerintah di negara lemah menindas rakyatnya sendiri. Negara kuat menindas negara lain yang lebih lemah. Pada ujungnya, rakyat pula yang menanggung penderitaan.
Begitulah homo homini lupus. Yang kuat menindas yang lemah. Suka-suka saya, Anda mau apa. Mungkin itulah jawaban Donald Trump jika ditanya mengapa melanggar kedaulatan negara lain.
Jakarta, 16 Januari 2026




















