Part 1A-2
Mengapa Allah Mengulang Kata Mīzān Tiga Kali?
Usai mengajak manusia memperhatikan langit yang ditinggikan-Nya, Allah langsung memperkenalkan satu kata yang menjadi poros keteraturan seluruh ciptaan.
“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan mīzān. Agar kamu jangan melampaui batas dalam mīzān. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil serta janganlah kamu mengurangi mīzān.”
(QS. Ar-Rahman [55]: 7–9)
Jika dicermati, ada sesuatu yang menarik.
Dalam tiga ayat yang sangat singkat, Allah mengulang kata mīzān sebanyak tiga kali.
Al-Qur’an bukan kitab yang boros kata. Setiap pilihan diksi, susunan kalimat, bahkan pengulangan ayat mengandung hikmah dan penekanan makna. Karena itu, para ulama tafsir memandang pengulangan sebagai salah satu cara Al-Qur’an menegaskan pesan yang sangat penting, bukan sekadar pengulangan retoris.
Lalu, mengapa Allah mengulang kata mīzān sampai tiga kali?
Barangkali karena Allah sedang mengajarkan bahwa keseimbangan bukan sekadar salah satu hukum kehidupan. Keseimbangan adalah hukum yang menopang seluruh kehidupan.
Pengulangan pertama menunjukkan bahwa Allah meletakkan mīzān sebagai bagian dari tatanan penciptaan. Artinya, keseimbangan bukan hasil kesepakatan manusia, melainkan bagian dari sunatullah yang telah ditanamkan ke dalam alam semesta sejak awal penciptaan.
Pengulangan kedua berupa larangan:
“…agar kamu jangan melampaui batas dalam mīzān.”
Ayat ini mengandung pesan moral yang sangat dalam. Manusia tidak diperintahkan menciptakan keseimbangan, karena keseimbangan itu telah Allah ciptakan. Yang diperintahkan adalah tidak merusaknya.
Kemudian pengulangan ketiga berbunyi:
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil serta janganlah kamu mengurangi mīzān.”
Di sini, mīzān tidak lagi hanya menjadi hukum alam, tetapi juga berubah menjadi pedoman etika. Keseimbangan harus diwujudkan dalam tindakan nyata: dalam perdagangan, dalam hubungan antarmanusia, dalam penegakan hukum, dalam penggunaan kekuasaan, bahkan dalam cara manusia memperlakukan alam.
Dengan demikian, rangkaian ayat ini membentuk satu alur yang utuh.
Allah menciptakan mīzān.
Allah melarang manusia merusak mīzān.
Allah memerintahkan manusia menegakkan mīzān.
Inilah salah satu keindahan susunan Surah Ar-Rahman. Rahmat Allah tidak diwujudkan dengan membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa aturan. Justru karena kasih sayang-Nya, Allah menciptakan ukuran, menetapkan batas, dan menghadirkan keseimbangan agar kehidupan dapat berlangsung dengan baik.
Allah tidak hanya menciptakan kehidupan.
Allah juga menciptakan ukuran agar kehidupan tetap dapat berlangsung.
Ketika ukuran itu dipatuhi, lahirlah harmoni.
Ketika ukuran itu dilanggar, lahirlah kerusakan.
Di sinilah mīzān menjadi lebih dari sekadar timbangan.
Ia adalah prinsip moral.
Ia adalah prinsip keadilan.
Ia adalah prinsip keteraturan.
Bahkan dapat dikatakan bahwa mīzān adalah bahasa Allah dalam mengatur alam semesta dan kehidupan manusia.
Lalu, bagaimana Allah memperlihatkan mīzān itu kepada manusia?
Allah tidak hanya menjelaskannya melalui ayat-ayat Al-Qur’an (qauliyah), tetapi juga mempertontonkannya melalui ayat-ayat penciptaan (kauniyah). Langit, bumi, tubuh manusia, hingga sehelai daun yang tumbuh di ujung ranting, semuanya berbicara tentang hukum yang sama: keseimbangan.
Pada bagian berikutnya kita akan melihat bahwa ilmu pengetahuan modern justru semakin memperlihatkan betapa seluruh alam bekerja di atas prinsip mīzān. Homeostasis dalam tubuh manusia, phyllotaxis pada tumbuhan, Golden Angle, hingga deret Fibonacci seakan menjadi bahasa ilmiah yang menjelaskan keteraturan yang telah lama diisyaratkan oleh Al-Qur’an.















