Konsep Mīzān dalam Surah Ar-Rahman: Bersemayam Prinsip Moral dan Keadilan
Part 1B
Ketika Mīzān Menjadi Kompas Peradaban Modern
(Dari Keadilan Moral Menuju Tata Kelola, Ekonomi, dan Keberlanjutan)
By Paman BED
“Merawat Akal Sehat, Menjaga Nurani Bangsa.”
Pada bagian sebelumnya, kita telah melihat bahwa mīzān bukan sekadar berbicara tentang sebuah alat untuk menimbang.
Mīzān adalah bahasa keseimbangan yang Allah letakkan dalam seluruh ciptaan-Nya.
- Langit berjalan dengan mīzān.
Tubuh manusia bekerja dengan mīzān.
Alam tumbuh dengan mīzān.
Dan kehidupan sosial manusia hanya akan berlangsung harmonis apabila manusia mampu menjaga mīzān.
Namun pertanyaan berikutnya adalah:
Bagaimana prinsip keseimbangan yang bersifat kosmis itu diterapkan dalam kehidupan manusia modern?
Sebab tantangan manusia hari ini bukan lagi hanya bagaimana memahami keteraturan alam, tetapi bagaimana memastikan bahwa kemajuan manusia tidak berubah menjadi sumber kerusakan.
Manusia telah mampu menciptakan teknologi yang luar biasa.
Manusia mampu membangun kota-kota besar.
Manusia mampu mengelola modal dalam jumlah yang sangat besar.
Manusia mampu mengembangkan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan berbagai inovasi yang sebelumnya hanya menjadi imajinasi.
Namun sejarah menunjukkan satu pelajaran penting:
Kemampuan manusia yang besar tanpa keseimbangan moral dapat berubah dari rahmat menjadi ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri.
- Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kehancuran.
Kekayaan tanpa keadilan dapat melahirkan kesenjangan.
Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan penindasan.
Karena itu, mīzān hadir sebagai kompas moral agar kemajuan manusia tetap berada dalam koridor yang benar.
Ketika Pertumbuhan Kehilangan Keseimbangan
Salah satu ujian terbesar peradaban modern adalah bagaimana menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial.
Pertumbuhan ekonomi tentu penting.
Kemajuan industri diperlukan.
Investasi harus dikembangkan.
Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia tidak boleh mengambil sesuatu secara berlebihan hingga merusak keseimbangan yang telah Allah tetapkan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf [7]: 56)
Ayat ini memberikan prinsip fundamental bahwa pembangunan bukan sekadar tentang membangun sesuatu yang baru.
Pembangunan adalah tentang memastikan bahwa sesuatu yang dibangun tidak menghancurkan keseimbangan yang telah ada.
Sebuah proyek besar yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi merusak lingkungan dan mengabaikan masyarakat sekitar, sesungguhnya telah kehilangan mīzān.
Sebuah bisnis yang menghasilkan keuntungan besar, tetapi dibangun melalui manipulasi, eksploitasi, dan ketidakjujuran, juga telah kehilangan mīzān.
Sebab ukuran keberhasilan dalam perspektif Al-Qur’an bukan hanya seberapa besar yang diperoleh, tetapi juga seberapa adil cara memperolehnya.
Di sinilah mīzān memiliki hubungan erat dengan konsep maqāṣid al-sharī‘ah, yaitu tujuan utama syariat untuk menjaga kemaslahatan manusia.
Pembangunan yang benar bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga:
- kehidupan manusia (hifzh an-nafs);
akal dan kualitas manusia (hifzh al-‘aql);
keturunan dan masa depan generasi (hifzh an-nasl);
harta dan keadilan ekonomi (hifzh al-māl);
nilai moral kehidupan (hifzh ad-dīn).
Dengan demikian, mīzān bukan hanya menjaga keseimbangan hari ini, tetapi juga memastikan keberlangsungan kehidupan di masa depan.
Mīzān dalam Kepemimpinan dan Kekuasaan
Kekuasaan adalah salah satu ruang terbesar tempat manusia diuji dalam menjaga keseimbangan.
Sebab kekuasaan memberikan kemampuan untuk menentukan arah kehidupan banyak orang.
Karena itu, semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab menjaga mīzān.
Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang hanya mampu mengambil keputusan cepat.
Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menimbang dengan adil.
- Antara kepentingan hari ini dan masa depan.
Antara kelompok kuat dan kelompok lemah.
Antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Antara kewenangan yang diberikan dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Dalam perspektif mīzān, kekuasaan bukanlah ruang untuk memperbesar kepentingan pribadi.
Kekuasaan adalah instrumen untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama.
Sebab apabila dalam alam semesta mīzān menjaga orbit planet agar tetap berada pada jalurnya, maka dalam kehidupan manusia, amanah dan tata kelola menjaga agar kekuasaan tidak keluar dari orbit keadilan.
Mīzān dan Tata Kelola Modern
Menariknya, dunia modern kemudian mengembangkan berbagai konsep yang memiliki semangat serupa.
- Tata kelola yang baik (good governance) berbicara tentang keseimbangan antara kewenangan dan akuntabilitas.
Manajemen risiko berbicara tentang keseimbangan antara peluang dan ancaman.
Audit internal berbicara tentang keseimbangan antara tujuan organisasi dan pengendalian.
Keberlanjutan (sustainability) berbicara tentang keseimbangan antara kebutuhan manusia saat ini dan hak generasi mendatang.
Dalam perspektif ini, berbagai konsep modern tersebut dapat dipahami sebagai ikhtiar manusia untuk menjaga kembali prinsip mīzān dalam bahasa zaman.
Al-Qur’an menggunakan bahasa nilai.
Ilmu modern menggunakan bahasa sistem.
Namun keduanya bertemu pada satu prinsip:
Kehidupan akan berjalan baik apabila keseimbangan dijaga.
Dan kehidupan akan mengalami kerusakan apabila keseimbangan dilanggar.
Karena itu, governance bukan sekadar seperangkat aturan organisasi.
- Governance adalah mekanisme untuk memastikan bahwa kewenangan selalu berjalan bersama tanggung jawab.
Transparansi menjaga agar kebenaran tidak tersembunyi.
Akuntabilitas memastikan setiap amanah memiliki pertanggungjawaban.
Integritas memastikan manusia tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan yang menyimpang.
Keadilan memastikan keputusan tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Dalam konteks ini, audit bukan hanya aktivitas pemeriksaan.
Audit adalah salah satu instrumen peradaban untuk menjaga mīzān.
Auditor bukan hanya penjaga angka.
Auditor adalah penjaga kepercayaan.
Ia memastikan bahwa antara tujuan dan cara mencapainya tetap berada dalam keseimbangan.
- Antara kewenangan dan tanggung jawab tetap selaras.
Antara keuntungan dan kebermanfaatan tetap berjalan bersama.
Mīzān sebagai Bahasa Universal Peradaban
Hari ini dunia berbicara tentang:
- good governance;
risk management;
Environmental, Social, and Governance (ESG);
pembangunan berkelanjutan;
ekonomi inklusif.
Semua konsep tersebut pada hakikatnya berbicara tentang satu hal:
- Menjaga keseimbangan.
Manusia modern mungkin menggunakan istilah yang berbeda.
Al-Qur’an menyebutnya mīzān.
- Ilmu tata kelola menyebutnya governance.
Ilmu ekonomi menyebutnya keseimbangan.
Ilmu lingkungan menyebutnya sustainability.
Bahasanya berbeda, tetapi pesan moralnya sama:
Kehidupan tidak dapat bertahan apabila manusia terus mengambil tanpa memberi kembali.
Pada akhirnya, mīzān mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukanlah ketika manusia mampu menguasai sebanyak-banyaknya.
Keberhasilan sejati adalah ketika manusia mampu mengelola apa yang dipercayakan Allah kepadanya dengan ukuran yang benar.
Sebab manusia bukan pemilik mutlak bumi.
Manusia adalah penjaga amanah.
Dan penjaga amanah yang baik adalah mereka yang mampu merawat keseimbangan.
Itulah hakikat mīzān.
Bukan sekadar timbangan di tangan manusia.
Tetapi ukuran moral yang tertanam dalam seluruh ciptaan Allah.
Bersambung ke Part 2
Pada bagian berikutnya, kita akan membahas bagaimana prinsip mīzān diterapkan secara lebih praktis dalam dunia ekonomi, bisnis, audit, koperasi, dan organisasi modern.
Mengapa transparansi, akuntabilitas, integritas, dan manajemen risiko sesungguhnya bukan hanya konsep manajemen modern, tetapi bagian dari tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keseimbangan yang Allah tetapkan.
Referensi Part 1B
Al-Qur’an:
QS. Ar-Rahman [55]: 7–9 tentang mīzān.
QS. Al-A’raf [7]: 56 tentang larangan membuat kerusakan di bumi.
QS. An-Nisa [4]: 58 tentang amanah dan keadilan.
QS. Al-Muthaffifin [83]: 1–3 tentang larangan mengurangi timbangan.
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, pembahasan ayat-ayat tentang keadilan dan keseimbangan.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, pembahasan QS. Ar-Rahman dan konsep keadilan (al-‘adl).
Al-Ghazali, Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, pembahasan tentang tujuan kemaslahatan dalam syariat.
Jasser Auda, Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach.
The Institute of Internal Auditors, Global Internal Audit Standards (GIAS) 2024.
The Institute of Internal Auditors, Three Lines Model.
Organisation for Economic Co-operation and Development, G20/OECD Principles of Corporate Governance.
Environmental, Social, and Governance (ESG) Framework.
By Paman BED














