Part 1A-1
Ketika Rahmat Allah Menegakkan Keseimbangan
By Paman BED
“Merawat Akal Sehat, Menjaga Nurani Bangsa.”
Mengapa Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman, lalu beberapa ayat kemudian berbicara tentang mīzān?
Bukankah kasih sayang lebih dekat dengan kelembutan, sedangkan timbangan identik dengan ketegasan dan keadilan?
Sekilas keduanya tampak berjalan di jalur yang berbeda.
Namun semakin dalam Surah Ar-Rahman direnungkan, semakin tampak bahwa keduanya justru tidak dapat dipisahkan.
Sebab rahmat yang sejati tidak pernah melahirkan kezaliman. Dan keadilan yang hakiki selalu lahir dari kasih sayang Allah.
Barangkali selama ini kita terlalu sering memahami kasih sayang sebagai sikap memaafkan tanpa batas. Sebaliknya, kita memandang keadilan sebagai sesuatu yang keras, kaku, bahkan terkadang menakutkan.
Padahal Al-Qur’an memperlihatkan hubungan yang sangat indah antara keduanya.
Allah tidak membuka Surah Ar-Rahman dengan penyebutan kekuasaan-Nya. Tidak pula dengan ancaman azab atau dahsyatnya Hari Kiamat. Yang pertama kali diperkenalkan kepada manusia adalah salah satu nama-Nya yang paling menenteramkan hati:
Ar-Rahman.
Yang Maha Pengasih.
Sesudah itu Allah berfirman:
“Dialah yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Dia mengajarkannya pandai berbicara.” (QS. Ar-Rahman [55]: 2–4).
Urutan ayat ini menarik untuk direnungkan.
Allah menyebut Al-Qur’an terlebih dahulu, baru kemudian penciptaan manusia.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa susunan tersebut menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Rahmat terbesar Allah bukan hanya kehidupan itu sendiri, melainkan petunjuk agar kehidupan tidak kehilangan arah.
Karena tanpa petunjuk, kecerdasan dapat berubah menjadi kesombongan.
Kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan.
Kekayaan dapat berubah menjadi kerakusan.
Dan kebebasan dapat berubah menjadi kekacauan.
Petunjuk itulah yang menjaga manusia agar tetap berada pada jalan yang benar.
Namun beberapa ayat kemudian, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi fondasi seluruh kehidupan.
“Dan langit telah Dia tinggikan, dan Dia letakkan mīzān. Agar kamu jangan melampaui batas dalam mīzān. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil serta janganlah kamu mengurangi mīzān.” (QS. Ar-Rahman [55]: 7–9).
Dalam tiga ayat yang sangat singkat itu, kata mīzān diulang sebanyak tiga kali.
Dalam Al-Qur’an, pengulangan bukanlah pengulangan tanpa tujuan.
Setiap pengulangan adalah penegasan.
Seolah-olah Allah ingin menghentikan langkah manusia yang terlalu sibuk mengejar berbagai hal, lalu bertanya,
“Sudahkah engkau menjaga mīzān?”
Lebih dari Sekadar Timbangan
Ketika mendengar kata timbangan, yang terbayang di benak kita mungkin adalah pasar tradisional.
Pedagang menimbang beras.
Emas ditimbang dengan ketelitian tinggi.
Buah ditimbang sebelum dibayar.
Semua itu memang benar.
Tetapi para mufasir menjelaskan bahwa makna mīzān jauh lebih luas daripada sekadar alat ukur dalam transaksi perdagangan.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia agar berlaku adil dan tidak mengurangi timbangan dalam seluruh bentuk muamalah.
Imam Al-Qurthubi memperluas maknanya sebagai simbol keadilan yang menjadi dasar tegaknya kehidupan manusia.
Fakhruddin Ar-Razi melihat adanya hubungan yang sangat erat antara keteraturan langit dengan keteraturan kehidupan sosial. Sebagaimana alam semesta berjalan menurut ukuran yang sangat presisi, demikian pula kehidupan manusia hanya akan berjalan baik apabila dibangun di atas keadilan.
Sementara Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pengulangan kata mīzān menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam seluruh aspek kehidupan.
Dengan demikian, secara tafsir, ayat ini memang berbicara tentang timbangan dan keadilan.
Tetapi nilai yang dikandungnya melampaui ruang pasar.
Ia menjangkau ruang keluarga.
Ruang pendidikan.
Ruang bisnis.
Ruang organisasi.
Bahkan ruang kekuasaan.
Ketika Langit Menjadi Guru
Perhatikan bagaimana Allah memulai ayat itu.
“Dan langit telah Dia tinggikan…”
Mengapa langit disebut terlebih dahulu?
Barangkali karena langit adalah contoh paling nyata tentang keteraturan.
Matahari tidak pernah terbit sesuka hati.
Bulan tidak pernah keluar dari orbitnya.
Planet-planet tidak saling berebut jalur.
Tidak ada bintang yang memaksa menjadi pusat tata surya yang bukan miliknya.
Semuanya bergerak dalam ukuran yang telah Allah tetapkan.
Ilmu pengetahuan modern menjelaskan keteraturan itu melalui hukum gravitasi, hukum gerak, dan berbagai konstanta fisika.
Al-Qur’an telah lebih dahulu mengingatkan bahwa semua itu berdiri di atas mīzān—keseimbangan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Bayangkan apabila bumi bergeser sedikit saja dari orbitnya.
Sedikit lebih dekat kepada matahari, kehidupan dapat terbakar.
Sedikit lebih jauh, bumi membeku.
Perubahan yang tampak kecil dapat melahirkan akibat yang sangat besar.
Ternyata kehidupan bukan sekadar membutuhkan kekuatan.
Kehidupan membutuhkan ukuran.
Dan ukuran itulah yang disebut Al-Qur’an sebagai mīzān.
Bersambung ke Part 1A-2
Pada bagian berikutnya kita akan melihat bahwa prinsip mīzān ternyata tidak hanya bekerja di langit, tetapi juga di dalam tubuh manusia, pada tumbuhan, bahkan menjadi dasar mengapa kezaliman sesungguhnya adalah tindakan merusak keseimbangan yang telah Allah tetapkan.
Referensi yang digunakan pada Part 1A-1:
* Al-Qur’an: QS. Ar-Rahman [55]: 1–9.
* Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. Ar-Rahman ayat 7–9.
* Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, penafsiran QS. Ar-Rahman ayat 7–9.
* Mafatih al-Ghaib, penafsiran QS. Ar-Rahman ayat 7–9.
* Tafsir Al-Misbah, penafsiran QS. Ar-Rahman ayat 1–9.
By Paman BED














