• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

KPK Lumpuh, Tapi Telah Berdamai Dengan Kejumudan – Siapa Peduli?

Ali Syarief by Ali Syarief
June 18, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Nawawi Bantah Replik Firli dalam Persidangan Pra Peradilan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Telah menjadi pendapat umum bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi kini lumpuh setelah Undang-Undang barunya disahkan di bawah rezim Joko Widodo pada 2019. Kekuasaan KPK direduksi, taringnya dipatahkan, dan kebebasannya dibonsai oleh kehadiran Dewan Pengawas yang ditunjuk presiden. Ironisnya, setelah itu tak terdengar geliat serius untuk memulihkannya. Seolah kita telah berdamai dengan kejumudan, dan melupakan bahwa KPK dulu pernah menjadi harapan terakhir republik ini.

“Revisi Undang-Undang KPK itu adalah bentuk pelemahan yang sistematis. Kita sedang menyaksikan pembunuhan lembaga antikorupsi secara perlahan,” ujar Busyro Muqoddas, mantan Ketua KPK. Pernyataan ini dilontarkan bertahun lalu, tapi tetap relevan hingga kini.

Tak ada lagi gebrakan. Tak ada operasi tangkap tangan besar yang mengguncang elite kekuasaan. Yang tersisa hanya kosmetik: jumpa pers, perayaan Hari Antikorupsi, dan spanduk imbauan. Padahal kita tahu, negeri ini tidak kekurangan koruptor. Yang kurang adalah keberanian untuk melawan mereka.

Jika dulu KPK adalah lembaga independen yang bisa menantang siapa pun, kini ia seperti satpam kompleks yang menunggu perintah lurah. Padahal Abraham Samad, mantan Ketua KPK lainnya, pernah menyebut bahwa “KPK dilahirkan bukan untuk menyenangkan kekuasaan, tetapi untuk menahannya agar tidak sewenang-wenang.”

Tapi siapa yang kini menahan kekuasaan? DPR tak lagi menjadi pengimbang. Partai-partai politik sebagian besar menjadi bagian dari masalah, bukan solusi. Demonstrasi mahasiswa yang dulu gegap gempita menolak revisi UU KPK kini tinggal sejarah. Mereka seolah tak punya energi untuk memperjuangkan kembali lembaga ini.

“Yang terjadi bukan sekadar pelemahan, tapi pembajakan total terhadap semangat pemberantasan korupsi,” kata Guru Besar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar. Ia juga menyebut, sejak revisi UU KPK, efektivitas lembaga itu menurun drastis, dan independensinya musnah.

Yang lebih mengkhawatirkan: rakyat mulai menganggap semua ini wajar. Seolah-olah korupsi adalah bagian tak terhindarkan dari sistem politik kita. Ketika penurunan kinerja KPK dipertanyakan, pemerintah hanya menjawab dengan retorika normatif. Presiden Jokowi, dalam banyak kesempatan, hanya berkata, “KPK tetap kuat,” sembari menepis fakta-fakta yang menunjukkan sebaliknya.

Padahal data berbicara lain. Jumlah operasi tangkap tangan menurun signifikan. Kasus besar seperti skandal BTS 4G atau dugaan korupsi di IKN tak digarap tuntas. Semangat pemberantasan korupsi seperti ditahan pada batas yang “aman” bagi lingkar kekuasaan.

Lalu siapa yang peduli? Tidak banyak. Mahasiswa terpecah. Aktivis antikorupsi kian sunyi. Media pun cenderung memilih isu yang lebih “menjual”. Kita telah masuk era apatisme publik. Saat lembaga pemberantasan korupsi dijinakkan, publik malah mengecilkan maknanya. Yang dulu dianggap bencana demokrasi, kini hanya jadi catatan kaki dalam sejarah kekuasaan.

Mungkin inilah yang dimaksud budayawan Goenawan Mohamad saat mengatakan: “Korupsi itu bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi penghinaan terhadap akal sehat.” Kini, penghinaan itu telah dilembagakan. Dan rakyat, sebagian besar, memilih diam.

KPK mungkin masih ada dalam struktur. Tapi dalam jiwa, ia nyaris mati. Sementara para koruptor bersulang dalam gelap, kita terus berlagak tak tahu. Republik ini seperti kehilangan refleks untuk melawan. Kita tahu KPK lumpuh. Tapi siapa peduli?

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi Sudah Tak Punya Jurus Mengelak Lagi

Next Post

Mochtar Saad dkk Diadili Gegara Rugikan Noldy Simon Rp15 M

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar
Feature

Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar

May 2, 2026
Pak Amin Tidak Bisa Dituntut Secara Hukum? – Bukan Delik, Tapi Cermin Cara Berpikir
Feature

Pak Amin Tidak Bisa Dituntut Secara Hukum? – Bukan Delik, Tapi Cermin Cara Berpikir

May 2, 2026
Bagaimana Membuktikan Letkol Teddy Lelaki Normal?
Feature

Bagaimana Membuktikan Letkol Teddy Lelaki Normal?

May 2, 2026
Next Post
Mochtar Saad dkk Diadili Gegara Rugikan Noldy Simon Rp15 M

Mochtar Saad dkk Diadili Gegara Rugikan Noldy Simon Rp15 M

PERJANJIAN DEKORASI KOSONG : Rakyat Aceh Dipermainkan

PERJANJIAN DEKORASI KOSONG : Rakyat Aceh Dipermainkan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi
Feature

Teddy, Gay, dan Luth

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta — Hubungan politik antara Amien Rais dan Prabowo...

Read more
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar

Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar

May 2, 2026
Pak Amin Tidak Bisa Dituntut Secara Hukum? – Bukan Delik, Tapi Cermin Cara Berpikir

Pak Amin Tidak Bisa Dituntut Secara Hukum? – Bukan Delik, Tapi Cermin Cara Berpikir

May 2, 2026
Tragedi Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, 106 Korban, 16 Tewas

Tragedi Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, 106 Korban, 16 Tewas

May 2, 2026
Aksi BEM SI di Hardiknas, Jalan Medan Merdeka Selatan Ditutup

Aksi BEM SI di Hardiknas, Jalan Medan Merdeka Selatan Ditutup

May 2, 2026
Bagaimana Membuktikan Letkol Teddy Lelaki Normal?

Bagaimana Membuktikan Letkol Teddy Lelaki Normal?

May 2, 2026
Menkomdigi: Pernyataan Amien Rais Fitnah dan Mengandung Ujaran Kebencian

Menkomdigi: Pernyataan Amien Rais Fitnah dan Mengandung Ujaran Kebencian

May 2, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar

Nagomi: Filosofi yang Menampar Dunia yang Gemar Bertengkar

May 2, 2026
Pak Amin Tidak Bisa Dituntut Secara Hukum? – Bukan Delik, Tapi Cermin Cara Berpikir

Pak Amin Tidak Bisa Dituntut Secara Hukum? – Bukan Delik, Tapi Cermin Cara Berpikir

May 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist